Jumat, 24 April 2015
Karena Orang Lain
Kamis, 01 Agustus 2013
Ukhuwah Islamiyah
"Menurut kalian, keluarga itu apa sih?"
Bahasan forum kecil saat itu: keluarga. Lebih jelasnya, keluarga yang dimaksud di sini bukan keluarga atas dasar hubungan darah. Keluarga yang dimaksud adalah kumpulan orang dari latar belakang berbeda-beda tapi bersinergi layaknya sebuah keluarga (makna harfiah).
Jawabanku:
"Keluarga itu tempat 'pulang'. Saat kita bersama keluarga, kita merasa ya memang di situlah tempat kita seharusnya berada. Saat bersama keluarga, kita nggak pake topeng."
Ada juga yang menjawab:
"Keluarga itu kalau ada ikatan batin antara satu orang dengan orang yang lain."
Untuk konteks keluarga yang ini, karena isinya adalah orang-orang yang baru kenal, syarat berupa 'mau sama mau' juga perlu ditambahkan deh... Orang-orang itu, yang paling lama juga baru kenal setahun (mungkin lebih juga, tapi yang jelas nggak kenal sejak lahir), mau nggak untuk menerima satu sama lain sebagai keluarga mereka?
Setelah jeda sekian lama dari forum itu, aku ingat materi pendidikan agama yang pernah diberikan kepadaku di SMA. Bahwa sesama Muslim itu saudara. Muslim satu dengan Muslim lain layaknya bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan. Muslim satu dengan Muslim lain layaknya satu tubuh yang jika ada anggota yang kesakitan maka anggota lainnya akan ikut merasakan. Ukhuwah yang berlandaskan aqidah lebih kuat daripada persaudaraan karena hubungan darah (misal dalam hal warisan).
Ada juga note FB dari teman yang mengingatkanku tentang materi ukhuwah, bahwa ukhuwah itu ada tingkatan-tingkatannya:
1. Ta'aruf (saling mengenal) ; tingkatan paling mendasar
2. Tafahum (saling memahami)
3. Ta'awun (saling menolong)
4. Takaful (saling menanggung)
5. Itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) ; tingkatan paling tinggi
Saya juga teringat akan kisah indah ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Mereka juga baru kenal saat Muhajirin mengiringi Rasulullah SAS hijrah ke Madinah. Tidak ada hubungan darah, tapi aqidah mereka sama. Oleh karena itu, Anshar sang tuan rumah pun tak tanggung-tanggung memberi bantuan kepada Muhajirin. Kaum Anshar rela memberikan harta bahkan menawarkan isteri mereka kepada saudara barunya, kaum Muhajirin.
Indah sekali ukhuwah islamiyah itu...
Saat ini, ada anggota 'tubuh' kita yang sedang sakit. Ada bagian dari 'bangunan' kita yang perlu dikuatkan. Mari ingat mereka dalam setiap doa kita...
Solo, 1 Agustus 2013
Jumat, 01 Juni 2012
[random] Habis UN Terbitlah CINTA
Selasa, 21 Februari 2012
العصور الذهبية للمسلمين The Golden Ages
Cahaya benderang di Abad Kegelapan... yang kini tampak meredup, namun tetap merupakan dasar kebenderangan era kini..
_____________________________
Ayo nyalakan lagi cahaya itu!!! Dan jaga agar jangan sampai padam...
Senin, 12 Desember 2011
S.K.Y
"Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung di permukaan bumi agar ia tidak menggoyangkan kamu..." [QS Luqman 10]
Beberapa hari kemarin, langit Solo begitu indah. Cerah, sampai-sampai gunung Lawu di timur dan gunung Merapi serta Merbabu di barat sering terlihat jelas.
Saya suka langit. Langit pagi yang biru tanpa awan. Langit siang dengan awan-awan tipis ataupun tebal. Langit sore bersemburat cantik. Langit malam yang bertabur bintang.
Dan ternyata, teman saya juga suka langit, utamanya saat sang surya baru saja bangun ataupun hendak beranjak tidur.
eniwei... ini beberapa foto langit yang pernah ter-capture oleh kamera mami, Canon PowerShot A495 [dengan pengeditan seperlunya]
Sabtu, 03 Desember 2011
Obati hatimu!!
Kamis, 10 November 2011
Kamis ke Kamis
Akhir-akhir ini, rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin hari Kamis, sekarang sudah Kamis lagi. Rasanya baru kemarin libur, sekarang udah libur lagi. [sekilas info: sekolah saya liburnya hari Jum'at].
Namun hari-hari yang berlari itu tetap memberi kesempatan kepada banyak kejadian mengesankan, kalau kita memperhatikan. Sayangnya, seringkali kita tidak mempedulikan kejadian-kejadian itu. Apa yang saya alami ini salah satu contohnya...
Kamis, 3 November 2011
Seperti biasa, begitu bel jam 7 berdering, semua siswa masuk kelas, berdoa, dan mengaji. Jadwal pertama untuk hari Kamis adalah Sejarah. Bunda Guru Sejarah orangnya ramah, senyum selalu hadir di wajahnya. Bahkan ia juga tetap membagi senyum ramahnya kepada seorang siswi yang agak terlambat masuk kelas pagi itu. Ia pandai bercerita. Ia tipe guru yang menghendaki siswanya belajar secara aktif, tidak hanya duduk diam mendengarkan terus-menerus. Ia selalu mengajak siswa berdiskusi. Ia selalu menghargai jawaban apapun yang dilontarkan para siswa untuk menjawab pertanyaannya. Kelas menyenangkan, berakhir tanpa PR dan saya yakin semua siswa -- seperti saya -- tidak berpikir bahwa pelajaran Sejarah ini ikut berakhir juga seiring dengan berakhirnya kelas pagi itu.
Kamis, 10 November 2011
66 tahun lalu, ada pertempuran besar di Surabaya hingga akhirnya tanggal 10 di bulan November ini ditetapkan sebagai hari Pahlawan. Dan ternyata, 66 tahun setelah pertempuran itu, saya dan teman-teman harus merasakan kehilangan sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang kami sayangi. Orang yang ramah dan murah senyum. Ya, dia Bunda Guru Sejarah kami. Semua orang tahu bahwa datangnya ajal tidak bisa diprediksi. Ajal bisa tiba kapan saja. Meski demikian, saya yakin hampir semua orang akan kaget bila mendapati orang terkasih mereka telah dijemput ajal. Begitupun saya dan teman-teman. Kami merasa kehilangan sosok Bunda Guru Sejarah. Saya merasa kehilangan sesi-sesi kelas Sejarah yang menyenangkan bersama Bunda Guru. Berlebihan mungkin, tapi sesi-sesi itu saya rasa tak akan tergantikan oleh siapapun. Kalaupun ada Guru yang lebih baik, yang bisa membuat pelajaran Sejarah lebih menyenangkan daripada Bunda Guru, tetap saja sesi-sesi itu takkan tergantikan. Karena mereka telah terlanjur terukir indah di atas batu terkeras, atau di atas baja terkuat.
Begitulah... Dari Kamis ke Kamis, yang saya rasa berjalan begitu cepat, ternyata dapat menimbulkan suatu kehilangan yang besar. Hari-hari yang pernah dilalui bersama Bunda Guru jadi lebih berarti dan sangat perlu disyukuri.
Allahu rabbiy, ampunkanlah dosa-dosanya, terangi alam kuburnya, lapangkan ruang barzakhnya.. aamiin
-- in memoriam Mrs. Rachmi Prih Utami --
Rabu, 02 November 2011
Tentang SYUKUR
Begini isi SMSnya semalam:
Saya pun kembali diingatkan untuk bersyukur. Mensyukuri segala apa yang saya punya sekarang. Mulai dari yang bersifat material hingga yang bersifat non material.
Tadi pagi, saya kembali merutuki diri yang masih saja lupa bersyukur... Pasalnya, saya merasa bahwa waktu yang saya punya ini sangat kurang untuk menuntaskan semua kewajiban. Padahal sebenarnya, saya saja yang tidak pandai mengaturnya. Manajemen waktu saya sangat payah, saya akui itu. Kalau mengatur waktu yang sedikit saja nggak becus, walau dikasih 100 jam dalam sehari pun pasti akan tetap merasa kurang.
Saya pun berkata kepada diri sendiri:
sore hari Rabu...
9 days remain...
Senin, 29 Agustus 2011
C.O.N.F.U.S.E.D
Kamis, 25 Agustus 2011
IPUNG 2
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Teens |
| Author: | Prie GS |
Karena telah dibuat jatuh cinta sama IPUNG 1, saya pun langsung menyambar IPUNG 2 begitu menjumpainya di rak perpustakaan sekolah tercinta =)
Seri ke dua dari kisah seorang IPUNG ini lebih memfokuskan cerita cinta tokoh utamanya. Berhubung tokoh utamanya memang bukan tokoh biasa, cerita cintanya pun juga tidak biasa.
Dikisahkan, Ipung juarrraaaaang sekali menghabiskan waktu untuk bermesraan dengan pacar cantiknya, Paulina. Bahkan di hari Minggu, ia lebih memilih berdiam diri di halaman sekolahnya, merenung seorang diri, tanpa Paulina.
Paulina pun sebal karena merasa diacuhkan. Ia juga sebal karena semakin hari, Ipung semakin populer. Sekeras apapun usaha Paulina untuk meningkatkan popularitasnya sendiri, selalu saja finalnya malah Ipung yang tambah tenar.
Merasa perlu mempertahankan eksistensinya, sekaligus menguji cinta Ipung, Paulina mengambil keputusan ekstrim yang langsung disetujui orang tua kayanya: pindah sekolah ke luar negeri.
Melihat adanya kesempatan untuk membalas dendam, Gredo yang sudah lama iri dengan keberuntungan Ipung, menggelar pesta perpisahan besar-besaran. Tujuannya hanya satu: menyaksikan Ipung kesakitan ditinggal pergi kekasihnya.
Menurut saya, Prie GS telah berhasil menghadirkan kisah cinta anak SMA yang lain dari biasanya: backstreet, putus-nyambung, hingga free sex. Berikut ini salah satu segmen yang saya suka...
.... Lagi-lagi kata cium diteriakkan dan disambut dengan koor massa.
"Cium... Ciummm... Ciuuuum!"
Ipung berhenti. Menatap Paulin. Teriakkan senyap. Ipung melangkah, mendekati Paulin. Papi gemetaran. Kalau anak itu berdemonstrasi di depan umum, mentang-mentang tengah menjadi bintang, ia akan melempar kutukan tujuh turunan.
Ipung memang sedang jadi bintang. Tetapi untuk berani mencium puterinya di depan umum begitu saja, walau atas nama persahabatan sekalipun, adalah pelecehan tingkat tinggi. Ipung terus mendekat. Semua tegang menunggu.
Ooo Ipung hanya mendekati mikrofon Paulin, menyambarnya. Dan berkata dengan tegas dan tenang, "Sebagai manusia biasa, saya pasti ingin menciumnya. Tapi maaf, Paulin bukan muhrim saya!" (halaman 118-119)
Ipung memang bukan karakter anak SMA biasa!
Penuh dengan ironi, Prie GS mengantarkan kita pada pembuktian teori psikoanalisa Sigmund Freud: "Prestasi manusia terjadi, karena keinginan dipuji lawan jenisnya semata." [Ini bener-bener ngena ke hati saya...]
Ending seri ini pun juga merupakan ending yang cerdas: kembalinya Ipung kepada Sang Pemilik Cinta, bersama segenap kegalauan hatinya.
Recommended buat semua yang sedang jatuh cinta, namun belum siap menempuh jalur cinta yang diridhoi-Nya (menikah), buat semua yang merasa sedang terserang cinta lokasi di kampus putih abu-abu...
Selasa, 02 Agustus 2011
Irfan Makki feat. Maher Zain - I Believe
Minggu, 13 Maret 2011
French Nasheed
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah you’ll find your way
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah you’ll find your way
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astraYou’re the only one that showed me
the way,
Showed me the way x2
Insya Allah we’ll find the way
Kamis, 10 Maret 2011
Harun Yahya - An Invitation to The Truth
Ilmu pengetahuan itu TIDAK bertentangan dengan agama. Mereka sejalan.
Senin, 29 November 2010
It Makes Me.... Speechless
Perempuan Spanyol, Sang 'Pemilik' Matahari
Angeles Duran (49) mengatakan kepada harian El Mundo, edisi "daring" (dalam jaringan), bahwa ia melakukan tindakan tersebut pada September, setelah ia membaca mengenai seorang pria Amerika yang telah mendaftarkan dirinya sebagai pemilik Bulan dan sebagian besar planet di Galaksi Bimasakti.
"Memang ada kesepakatan internasional yang menyatakan tak ada negara yang bisa mengklaim kepemilikan atas satu planet atau bintang pun. Tapi kesepakatan itu tak menyebut-nyebut mengenai perorangan," kata Angeles Duran.
"Tak ada penghalang, saya mendukung klaim saya secara hukum, saya tidak bodoh, saya tahu hukum. Saya melakukan itu tapi orang lain juga dapat melakukannya, itu cuma berlaku buat aku sebagai yang pertama," tegasnya.
Dokumen yang dikeluarkan oleh kantor notaris tersebut menyatakan Angeles Duran sebagai "pemilik Matahari, satu bintang jenis G2, yang berada di pusat Sistem Tata Surya, dan dari Bumi berada dalam jarak sekitar 149.600.000 kilometer.
Angeles Duran, yang tinggal di kota kecil Salvaterra do Mino, mengatakan ia sekarang ingin memberlakukan biaya buat siapa saja yang menggunakan Matahari dan memberi separuh dari hasilnya kepada pemerintah Spanyol serta 20 persen untuk dana pensiun di negeri itu.
"Sudah tiba waktunya untuk mulai melakukan tindakan dengan cara yang benar, jika ada gagasan untuk memperoleh penghasilan dan meningkatkan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat, mengapa kita tak melakukannya" ujarnya. (Ant/AFP)
- Apa pula ini?? Matahari diklaim sebagai harta milik seseorang?? Untuk meningkatkan ekonomi pula?? Oh yeah, berarti kita tinggal menunggu ada orang lain yang juga mengklaim setiap mol oksigen di atmosfer untuk meningkatkan ekonomi juga....
- Apakah usaha ini bisa berjalan dengan efektif?? I don't think so... Coz, bagaimanapun, orang yang telah mengklaim matahari tersebut tetap saja tidak bisa mengontrol matahari itu sendiri. Jika Allah masih menghendaki, maka matahari akan terus bersinar untuk seluruh makhluq di dunia ini. Bahkan jika makhluq-makhluq tersebut tidak membayar sekalipun.
- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat?? Oh, come on...!! Masyarakat di dunia ini sudah banyak yang menderita tanpa harus dibebani dengan "biaya pemakaian Matahari"!!
PS: Those are my opinion. Yeah, saya tidak menuntut anda untuk menyetujui opini saya. Saya hanya berharap anda bisa menghargai opini ini.
Rabu, 11 Agustus 2010
Ramadhan..... [???]
Rabu, 21 April 2010
Cintanya Para Pecinta-Nya
Ikhwatuna fiddin...
Baru-baru ini, aku habis baca artikel bagus banget... (to my mind) Berhubung temanya cocok sama blogku yang satu ini, I decided to share it with you! Please enjoy....
(Taken from this site)
MENCINTAI SEJANTAN ALI (Karromallahu wajhah)
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an. Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu.
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.
Karena cinta adalah memberi...
Pemberian tulus dari hati...
Tanpa paksaan, jikalau tak suka, ia bebas menolak...
Namun sang pecinta kan tetap mencinta...
Karena cinta adalah menerima...
Pengakuan jikalau diri masih perlu berbenah...
Jiwa ksatria yang tidak segan mundur jika perlu...
Karena cinta adalah kecukupan...
Cukupkan mencinta, tanpa harap kembali...
Kita mampu melimpahi semua orang dengan cinta...
Meski cinta kita mereka acuhkan...
Kita tetap bisa mencinta mereka...
Karena cinta adalah kebebasan, bukan kekangan...
Membebaskan yang dicinta meraih bahagianya...
Senin, 19 April 2010
Do'a di Sepanjang Jalan Hujan
Yaumush Shiyam (Senin)
Berjalan menuju parkiran ditemani gerimis... Segar nian rasanya hawa di sekitarku... Sejuk yang ada membawa nikmat untukku...
Keluar dari area sekolah tercinta ditemani polygon biru kesayangan, dan gerimis... Senang rasanya mengindra lembut tetes air langit... Sungguh aku harap gerimis segera berlalu, berganti hujan... Aku merindu hujan...
Tak lama harapku pun terkabul... Hujan! Hujan! Rahmat-Nya telah datang...!
Aku pun kembali melakukan kebiasaan baruku ketika hujan turun: Berdo'a. Ya, di sepanjang jalan menuju baitii jannatii. Selama hujan turun. Ini salah satu waktu istimewa, tak ada seorang hamba yang berdo'a ketika hujan turun, kecuali Allah mengabulkan do'anya. Berikut do'aku, di sepanjang jalan, di tengah rintik rahmat-Nya...
Bismillahirrahmanirrahim
Allah, aku ingat kata ayah Guruku, bahwa do'a-do'a yang dipanjatkan pada waktu-waktu yang ijabah, lebih besar peluangnya untuk Kau kabulkan... Maka di tengah rintik rahmat-Mu ini, aku panjatkan untaian kata do'aku...
Allah, ampuni aku... Ampuni juga kedua ayah bundaku... Sayangi mereka layaknya mereka sayangi aku saat aku masih kecil... Permudahlah segala daya upaya mereka untuk menafkahi keluarga kami... Limpahkan rizki-Mu yang barokah kepada mereka, Allah... Ya Rahmaan, Ya Rozzaq...
Allah, berikan kebaikan dalam kehidupan duniaku, juga dalam kehidupan akhiratku... Dan hindarkan aku dari siksa annaar-Mu...
Allah, lapangkanlah dadaku, permudah segala perkaraku...
Allah, tambahkan ilmuku dengan ilmu yang bermanfaat, dan anugerahkan kefahaman kepadaku...
Allah, teguhkan pendirianku, hamba yang lemah ini... tetapkan hatiku pada cinta untuk-Mu... Bantu aku untuk jalani setiap apa yang telah ku pilih... Beri aku kemudahan di setiap ikhtiyar menggapai ridhomu, jannahmu... Bantu aku agar ku dapat menjadi anak yang berbakti... Perkenankan aku untuk merasakan hidup mulia dan mati syahid...
Allah, beri aku kesempatan selalu untuk membuktikan diri, untuk berprestasi... Dan ku mohon, bantu aku agar ku dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik...
Allah, aku percaya bahwa seluruh hidupku telah tersusun rapi dalam skenario-Mu... Sungguh tak ada kisah yang melebihi indahnya kisah-Mu... Namun aku tak pernah tahu, apa episode hidupku selanjutnya... Yang ku tahu hanya episode yang lalu dan sekarang... Maka, apapun episode hari esokku, ku mohon permudah aku jalankan peranku... Bantu aku untuk ikhlas menerima apapun takdirku... Bantu aku untuk istiqomah berikhtiyar demi ridho-Mu... Beri aku kemudahan dalam mewujudkan mimpi-mimpiku...
Allah, jadikan kisah hidupku kisah yang indah... Yang bahkan tak pernah terbayangkan dalam imajinasi penulis terhebat sekalipun...
Allah, aku yakin, aku percaya, bahwa Engkau akan segera menjawab semua harap yang telah ku utarakan... Bahkan yang masih tersimpan di hati ini, pasti akan terwujud juga jika Engkau menghendaki...
Allah, kabulkan do'a aku... Aamiin.
Jumat, 09 April 2010
Cinta Allah: Energi Terdahsyat di Alam Raya
Tanpa ragu sedikitpun, segera tangan sang Pembawa Panji merenggut pintu benteng musuh. Pintu itu langsung tercerabut. Dengan perkasanya, ia gunakan pintu itu sebagai tameng barunya, tameng yang lebih besar (sangat). Sang Pembawa Panji kembali berperang dengan semangat membara. Semangat untuk tegaknya Dinul Islam...
Ia terus melayangkan jurus-jurusnya yang jitu dan bertenaga. Musuh tak berkutik di hadapannya. Setiap ayunan pedangnya tak dapat menembus perlindungan sang Pembawa Panji, yang tak lain adalah pintu benteng mereka sendiri.
***
Kemenangan Islam! Islam jaya, Islam mulia!
Pertempuran usai. Setelah sekian hari penuh perjuangan. Sekian hari penuh usaha keras menaklukkan benteng. Ketika keputusasaan mengambang di udara karena bahkan Abu Bakar dan Umar tak mampu menaklukkan benteng. Cahaya kemenangan itu datang bersama sesosok waliyullah, sesosok orang yang dicinta Allah dan Rasul-Nya. Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah.
“Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sabda Rasul, pada suatu hari di Khaibar.
Tak pelak, semua pasukan amat berharap bahwa yang Rasul maksud adalah diri mereka masing-masing. Siapalah yang tak mau membawa kemenangan Islam? Siapalah yang tak ingin dicinta Allah dan Rasul-Nya? Malam itu layaknya berlalu amat lamban. Mereka tak sabar menunggu matahari terbit esok. Mereka tak kuat jika memendam rasa penasaran berlama-lama. Siapakah orang pilihan itu?
"Di manakah Ali bin Abi Thalib?" tanya Rasul di keesokan hari.
"Wahai Rasulullah, dia sedang sakit mata," jawab seorang pasukan.
Rasul memerintahkan agar Ali dibawa ke hadapannya. Ali datang dengan dipapah pasukan lain. Tanpa menunda lebih lama, Rasul meludahi kedua mata Ali. Dan, seketika itu juga ia sembuh, seperti tak pernah sakit sebelumnya.
Rasul pun menyerahkan panji Islam kepadanya, Ali bin Abi Thalib, sang Pembawa Panji.
***
Khaibar telah ada di genggaman. Medan pertempuran yang carut-marut mulai dibersihkan. Seseorang mendekati pintu benteng yang tergeletak di atas tanah: tameng besar sang Pembawa Panji. Ia coba mengangkatnya, tapi gagal. Pintu dari batu itu tak bergeser semilimeter pun. Ia memanggil orang lain untuk membantunya. Namun, bahkan delapan orang tetap kesulitan mengangkat pintu itu. Lalu, bagaimana bisa Ali mengangkatnya seorang diri?
Itulah dahsyatnya energi cinta. Ali amat mencintai Allah dan Rasulullah. Begitupun sebaliknya, Ali dicintai Allah dan Rasulullah. Sungguh beruntung orang yang dicintai Allah. Bisa dipastikan kemudahan senantiasa menyertai orang itu. Cinta Allah dapat menjadi sumber energi terdahsyat bagi manusia. Ya, karena cinta Allah-lah, Ali mampu mengangkat pintu batu itu dan membawa kemenangan bagi kaum muslim.
Inginkah kita memiliki energi terdahsyat itu?
أللهم إني أسٔلك حبك و حب من يحبك و العمل الذي يبلغني حبك أللهم اجعل حبك أحب ٳلي من نفسي و أهلي و من الماء البارد ٬ آمين
[Dikutip dari aneka sumber]
Sabtu, 23 Mei 2009
Einstein Membantah Taurat & Injil, Einstein Mati Matanya Dijugil
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Wisnu Arya Wardhana |
Beberapa dekade ini, telah banyak buku yang mengulas segala sesuatu tentang Einstein. Mulai dari perjalanan hidupnya, penemuan-penemuannya, bahkan kehidupan beragamanya. Buku inilah salah satunya.
Buku yang ditulis dalam sepuluh bab ini, banyak mengulas tentang kehidupan beragama Einstein. Perlu diketahui, semasa kecilnya, Einstein hidup dalam dua agama, yaitu Yahudi dan Katolik. Karena ia bersekolah di sekolah Katolik—yang mewajibkan seluruh siswanya mempelajari agama Katolik—maka ia terpaksa mendalami kitab Injil Perjanjian Baru. Sedangkan orang tuanya yang Yahudi menginginkan agar suatu saat nanti Einstein menjadi pemeluk Yahudi yang taat. Orang tuanya mendatangkan guru privat untuk mengajarkan agama Yahudi kepada Einstein. Selama belajar agama Yahudi ini, Einstein harus mendalami kitab Taurat, yang tak lain adalah kitab Injil Perjanjian Lama.
Selama mendalami Injil dan Taurat, Einstein menemukan beberapa kejanggalan di dalamnya. Logika Einstein tidak dapat menerima kejanggalan tersebut. Pada awalnya, ia tak berani mengkritisi kejanggalan-kejanggalan yang ada di dalam Injil dan Taurat. Namun, setelah ia menjadi ilmuwan ternama, ia mulai berani mengutarakan gagasannya tentang kejanggalan-kejanggalan tersebut.
Seperti yang kita ketahui, kitab Injil—baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru—yang beredar sekarang sudah tak dapat dijamin keasliannya lagi. Kitab-kitab tersebut telah banyak diubah oleh manusia. Tak heran jika di dalamnya banyak kejanggalan yang tak dapat diterima logika karena kitab-kitab tersebut tidak lagi merupakan kitab yang diwahyukan oleh Allah.
Salah satu hal yang membingungkan bagi Einstein adalah masalah Trinitas. Di dalam Injil jelas-jelas disebutkan bahwa yang wajib disembah itu hanyalah Allah sedangkan Yesus hanyalah hamba Allah. Yesus juga tidak pernah menyuruh pengikutnya untuk menyembahnya, apalagi menyembah Trinitas! Lagipula, di dalam Taurat (Perjanjian Lama) disebutkan bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah satu, esa. Bagaimana mungkin Trinitas yang terdiri dari Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus itu dianggap sebagai Tuhan yang esa?
Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi anda yang ingin mengetahui perjalan kehidupan beragama seorang ilmuwan besar penemu teori relativitas. Akankah Einstein menemukan agama yang sesuai dengan logikanya? Silakan baca buku ini untuk menemukan jawabannya!
Penulis (Wisnu Arya Wardhana) juga telah menyertakan ayat-ayat dari Al Qur’an maupun Injil yang relevan dengan materi yang sedang dibahas. Jadi, pembaca dapat membandingkan dan menyimpulkan sendiri manakah ajaran yang paling benar, ajaran yang sesuai dengan logika manusia.
Bagi kita umat Islam, membaca buku ini dapat meningkatkan keimanan kita, Insya Allah. Kita akan semakin yakin bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya kitab yang terjamin keasliannya. Satu-satunya kitab yang sejalan dengan logika dan perkembangan dunia modern karena jika ditelusuri lebih dalam, penemuan-penemuan manusia dalam bidang iptek sudah disebutkan di dalamnya.
Dari segi penulisan, buku yang ditulis layaknya karya-karya tulis lain ini terkesan kaku. Penulisan buku ini terpancang pada pembagian bab-bab yang ada. Penulis kurang berani memasukkan materi di luar pokok bahasan yang sudah ditentukan meskipun materi tersebut ada kaitannya dengan apa yang sedang dibahas.
Penulis juga terlalu sering melakukan pengulangan. Misalnya saja, setiap kali membahas hal-hal di dalam Taurat dan Injil yang tidak dapat diterima logika Einstein, penulis seringkali mengingatkan pembaca bahwa Einstein adalah pemikir ulung, selalu mengedepankan logikanya pada setiap kesempatan. Pengulangan semacam ini tidak perlu dilakukan mengingat Einstein memang sudah terkenal di kalangan masyarakat dunia. Pengulangan ini hanya akan membuat pembaca bosan, bahkan pembaca yang sudah tidak kuat menahan kejenuhan akan berhenti membaca buku ini. Hal ini amat disayangkan karena sebenarnya pesan yang dibawa buku ini sangat bermanfaat bagi kita semua.