Tampilkan postingan dengan label simulasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label simulasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Ukhuwah Islamiyah

"Menurut kalian, keluarga itu apa sih?"

Bahasan forum kecil saat itu: keluarga. Lebih jelasnya, keluarga yang dimaksud di sini bukan keluarga atas dasar hubungan darah. Keluarga yang dimaksud adalah kumpulan orang dari latar belakang berbeda-beda tapi bersinergi layaknya sebuah keluarga (makna harfiah).

Jawabanku:
"Keluarga itu tempat 'pulang'. Saat kita bersama keluarga, kita merasa ya memang di situlah tempat kita seharusnya berada. Saat bersama keluarga, kita nggak pake topeng."

Ada juga yang menjawab:
"Keluarga itu kalau ada ikatan batin antara satu orang dengan orang yang lain."

Untuk konteks keluarga yang ini, karena isinya adalah orang-orang yang baru kenal, syarat berupa 'mau sama mau' juga perlu ditambahkan deh... Orang-orang itu, yang paling lama juga baru kenal setahun (mungkin lebih juga, tapi yang jelas nggak kenal sejak lahir), mau nggak untuk menerima satu sama lain sebagai keluarga mereka?

Setelah jeda sekian lama dari forum itu, aku ingat materi pendidikan agama yang pernah diberikan kepadaku di SMA. Bahwa sesama Muslim itu saudara. Muslim satu dengan Muslim lain layaknya bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan. Muslim satu dengan Muslim lain layaknya satu tubuh yang jika ada anggota yang kesakitan maka anggota lainnya akan ikut merasakan. Ukhuwah yang berlandaskan aqidah lebih kuat daripada persaudaraan karena hubungan darah (misal dalam hal warisan).

Ada juga note FB dari teman yang mengingatkanku tentang materi ukhuwah, bahwa ukhuwah itu ada tingkatan-tingkatannya:
1. Ta'aruf (saling mengenal) ; tingkatan paling mendasar
2. Tafahum (saling memahami)
3. Ta'awun (saling menolong)
4. Takaful (saling menanggung)
5. Itsar  (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) ; tingkatan paling tinggi

Saya juga teringat akan kisah indah ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Mereka juga baru kenal saat Muhajirin mengiringi Rasulullah SAS hijrah ke Madinah. Tidak ada hubungan darah, tapi aqidah mereka sama. Oleh karena itu, Anshar sang tuan rumah pun tak tanggung-tanggung memberi bantuan kepada Muhajirin. Kaum Anshar rela memberikan harta bahkan menawarkan isteri mereka kepada saudara barunya, kaum Muhajirin.

Indah sekali ukhuwah islamiyah itu...

Saat ini, ada anggota 'tubuh' kita yang sedang sakit. Ada bagian dari 'bangunan' kita yang perlu dikuatkan. Mari ingat mereka dalam setiap doa kita...


Solo, 1 Agustus 2013

Rabu, 24 Juli 2013

Simulasi #2


"Banyak-banyaklah menulis, banyak-banyaklah membaca." [PKP]

Itu pesan dari seorang kakak beberapa hari lalu, setelah menonton film GIE bersama-sama.

Hal yang membuatku kagum pada sosok tokoh di film itu adalah ke-kutubuku-annya dan konsistensinya dalam menulis jurnal harian maupun menulis untuk media. Pikirannya bebas. Idealisme sudah dimilikinya sejak muda. Dan dia berani, vokal.

Aku juga suka membaca, tapi membaca novel. Bukannya aku bilang kalau membaca novel itu tak ada gunanya. Hanya saja, selama ini mindset ku tentang novel hanyalah sebagai hiburan yang tak perlu dikritisi. Cukup dinikmati saja. Kalaupun ada komentar, paling hanya komentar yang general dan tidak mendalam. Aku juga tahu, kalau di novel-novel itu ada banyak informasi yang diselipkan. Namun aku hanya membacanya sepintas lalu, tanpa memikirkannya lebih lama lagi.

Ada yang bilang, untuk bisa menulis kita harus mau membaca. Aku sudah membaca banyak buku (novel). Tapi karya tulisku masih sedikit. Bahkan sudah berbilang tahun aku menelantarkan blog ini, media publikasi karya tulis yang paling sederhana. Minder rasanya saat berkunjung ke blog teman dan mendapatinya masih rajin menulis walau kami sama-sama sibuk.

Setelah menonton film GIE kemarin, aku (lagi-lagi) ingin mengakrabkan diri dengan buku. Aku ingin memperluas wawasan dan membebaskan pikiran. Aku ingin meningkatkan kualitas bacaanku. Aku berharap, dengan buku-buku yang aku baca, aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Seperti pesan seorang kakak kemarin,

"Jangan mau hanya menjadi dirimu apa adanya! Tapi jadilah dirimu yang terbaik!" 

Aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang hanya diam, tidak punya pendapat dan pendirian. Untuk itu, aku harus banyak-banyak membaca kritis. Aku harus berlatih mengutarakan pendapat. Aku harus aktif berpikir.

"Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." [Mohammad Hatta] 

Jumat, 19 Juli 2013

Simulasi #1

Diambil dari sini.

“…mungkin ini simulasi mencampurkan 133 zat kimia yang berbeda dalam satu wadah. Dengan harapan ke-133 zat itu bisa bereaksi sempurna dan membentuk satu zat baru yang diinginkan oleh si Penyampur.”
Bayanganku, ada 133 tetes cat minyak dengan warna berbeda yang diteteskan ke dalam baskom berisi air. Warna-warna itu akan berdiri sendiri, tidak bercampur. Perlu effort lebih untuk mencampurkan semua warna itu. Kalau semua warna itu sudah tercampur, warna apa yang muncul? Hitam?

Bayanganku juga sempat mempertimbangkan gelombang cahaya. Ada 133 gelombang cahaya tampak yang berbeda-beda frekuensi dan panjang gelombangnya. Seseorang ingin menyatukan ke-133 gelombang itu. Lalu, cahaya tampak warna apakah yang akan terlihat jika semua gelombang itu telah menyatu? Putih?


Baru beberapa saat kemudian aku ingat. Warna-warna itu tidak perlu  melebur semua untuk bersatu. Mereka tetap bisa berdiri sendiri, mempertahankan identitas mereka. Yang mereka perlukan untuk bersatu hanyalah kerelaan menerima eksistensi warna lain, kemauan untuk berdampingan dan bersinergi dengan warna-warna lain membentuk suatu karya yang indah, yang tepat komposisi warnanya.

Aku masih belajar...