Tampilkan postingan dengan label tobebetter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tobebetter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2014

Inkonsistensi yang Konsisten

Pertama-tama, maafkan saya yang telah melanggar rencana saya sendiri untuk mempost materi kuliah tiap minggu. Di post kali ini pun saya belum akan melanjutkan serial What I've Learned This Week. Saya cuma mau curhat sedikit.

Alhamdulillah, di tingkat tiga ini, saya mulai sadar masalah akademik. Emang sih di awal-awal masih suka agak males buat belajar / ngulang materi di kosan. Tapi saya bisa memaksa diri sendiri untuk tetap baca-baca dikit di kosan.

Sekarang, saat flow perkuliahan dan kegiatan lain mulai naik, waktu semakin tidak terasa berlalunya. Semester ini saya punya target buat coba-coba ikut lomba. Semester ini saya juga masih punya amanah lumayan gede di himpunan. Semester ini saya baru aja direkrut jadi asisten lab. Semester ini saya memutuskan untuk berhenti jadi tutor kelompok belajar di masjid kampus (dan saya tidak menyesali pilihan ini, karena saya sudah niat buat mengalihkan slot waktu mengajar untuk melakukan eksplorasi di major saya, salah satunya ya dengan ikut lomba).

Minggu lalu saya disibukkan dengan deadline proposal PKM. Sehabis kuliah saya masih harus kumpul bareng temen-temen kelompok PKM sampai malam. Sampai kos rasanya sudah capek sekali dan mulai tidak konsisten dengan jadwal belajar di kos. Dampaknya? Dua kuis saya di minggu itu tidak saya persiapkan dengan baik. Nilai pun pas-pasan. Hmm... tapi setidaknya saya jadi tahu kalau saya harus mengubah strategi belajar saya :3 Dan saya juga jadi sadar kalau 'menghafal' itu bisa dibilang bagian kecil dari 'memahami'. Mungkin awalnya kita harus menghafal sesuatu, tapi agar sesuatu itu bisa bertahan lebih lama di otak kita perlu untuk memahaminya juga.

Saya sempat merasa agak menyesal juga memutuskan ikut PKM (saat harus ngejar deadline proposal). Dengan begitu saya jadi tidak punya waktu untuk belajar. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, bukankah ikut PKM itu juga salah satu kesempatan untuk belajar? Memang sih hasilnya tidak akan mendongkrak IP di transkrip, tapi kan masih ada efek positifnya juga.. Jadi harusnya saya nggak setengah-setengah ngerjain proposalnya, ikutan PKM-nya.

Hari ini menjadi hari pertama saya merasa lumayan free setelah hari-hari kemarin penuh dengan deadline. Rasanya saya perlu recharge semangat. Yosh!

Bandung, 18 September 2014

Senin, 24 Maret 2014

What They Said...

Di salah satu sesi kuliah tamu yang diisi oleh 3 orang alumni Teknik Informatika yang sedang menjalani fast track

"Kak, saya kan juga tertarik nih di bidang riset. Di pikiran saya, kalau riset itu kita harus mengangkat hal yang baru. Padahal saya ini gak jago-jago amat di kelas… apa saya bisa menemukan hal baru untuk diriset?"

Itu sepotong pertanyaan dari seorang teman saya. (Sebenernya pertanyaannya panjang, intinya dia tanya kalau riset itu harus mengangkat hal baru atau boleh mengangkat hal yang pernah diriset orang lain)

Lalu, jawaban dari pengisi acara telah sukses mendorong saya untuk mencatat (sebelumnya saya cuma mendengarkan, tanpa minat untuk mencatat). Kalimat pertamanya begini:

"Pertama-tama, don't underestimate yourself!"

Rasanya saya kembali mendapatkan peringatan untuk tidak rendah diri. Saya kembali diingatkan bahwa 'percaya pada diri sendiri' itu penting. Kalau kita tidak percaya kepada diri kita sendiri, bagaimana orang lain akan percaya kepada diri kita?

Tahap selanjutnya untuk memulai riset adalah 'mulai dari hal yang disukai'. Kebetulan kakak alumni yang menjawab pertanyaan ini suka dengan game, jadilah risetnya di bidang game. Kalau kita melakukan hal yang kita sukai, time flies.

Jadi ingat film Harry Potter and the Goblet of Fire. Saat Harry tahu bahwa tantangan Triwizard pertamanya adalah menghadapi Naga. Profesor Mad-Eye Moody menanyai apa keterampilan yang benar-benar dikuasainya. Harry menjawab: Terbang. Maka dengan cara itulah Harry menghadapi Naganya, dengan terbang memakai sapu terbangnya.

Terus, untuk masalah "riset harus mengangkat hal baru atau tidak", jawabannya adalah tidak harus. Kita boleh meriset hal yang pernah diriset oleh orang lain. Katanya, kita tidak bisa menemukan sesuatu yang bener-bener baru.

Selain sharing masalah riset, kakak-kakak alumni itu juga sharing pengalaman mereka dalam mengikuti (dan memenangkan) beberapa kompetisi serta pengalaman mereka internship ke JAIST.

Ada juga teman yang tanya soal manajemen waktu. Yah mengingat tugas kuliah di Teknik Informatika itu banyak (banget, sekali satu tugas keluar di awal semester akan bersambung terus sampai akhir semester) dan kakak-kakak alumni itu masih sempat mengikuti berbagai kompetisi dan melakukan riset.

Jawaban dari pengisi acara adalah kita harus tahu kapabilitas diri kita sendiri. Saat ingin mengikuti suatu kegiatan, pikirkan dulu apakah kita masih mampu melakukannya. Jangan jadi yes people yang selalu mengiyakan ajakan mengikuti suatu kegiatan tapi akhirnya malah keteteran semua. Saya kesindir banget nih sama jawaban ini :3

Oke, segitu dulu updatenya... maaf kalau agak terganggu dengan font yang besar kecil dicoret-coret.. Lagi kangen aja ngeblog model kayak gini, hehe



Bandung, 24 Maret 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Dewasa

Sembari menunggu kuliah (yang baru mulai sekitar 3 jam lagi --"), mending update blog :3

Belakangan ini, saya kepikiran masalah kedewasaan seseorang. Gara-garanya adalah saya sadar kalau saya bertambah tua (bentar lagi kepala 2) tapi saya masih merasa bocah banget.

Emang, orang yang dewasa itu yang seperti apa?

Seingat saya, dosen saya pernah bilang bahwa orang yang dewasa itu bisa memilah antara hal yang penting dan hal yang tidak penting untuk dilakukan atau dipikirkan. Orang yang bisa menentukan mana hal yang lebih penting dari sekumpulan hal-hal penting. Sederhananya, orang itu bisa menyusun prioritas dengan benar lah...

Bisa menentukan pilihan antara menuruti keinginan untuk melakukan hobi atau mempersiapkan diri untuk kuliah esok hari terlebih dulu. Bisa menentukan pilihan antara menghabiskan waktu dengan leha-leha atau mengeksplorasi rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru. Bisa menentukan pilihan untuk menuruti rasa galau atau berusaha mengabaikannya dan melanjutkan melakukan sesuatu yang memang harus dikerjakan (kewajiban tidak terbengkalai). Dan lain sebagainya...

Seingat saya juga, dulu seorang teman pernah nge-tweet yang isinya kurang lebih begini:

"Dewasa itu melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan, bukan hanya melakukan sesuatu yang disukai."

Hmm, iya juga ya. Kan tidak semua kewajiban kita sukai. Pasti ada saja kewajiban yang sebenarnya kita tidak suka melakukannya. Mungkin mindset kita perlu diubah dalam memandang kewajiban tersebut. Seperti kata orang, "Do what you love. Love what you do." 

Sebenernya saya masih belum tahu sih, gimana caranya 'love what you do'. Adakah yang bisa memberi tahu saya caranya? Please, post aja di comment yaa :) Thank you...



Bandung, 22 Januari 2014

Sabtu, 04 Januari 2014

Tidak Menunda, Bersyukur

Ini salah satu pikiran yang terbetik di benak saya saat sendirian mencuci piring di dapur. Tapi yang membetikkan pikiran ini bukan masalah cuci piring, bukan... Melainkan karena ada satu tugas yang saya rasa sudah saya selesaikan. Dan saya jadi merasa lebih ringan untuk bersyukur atas tugas itu.

Jadi, apa pemikiran itu?

"Tidak menunda-nunda pekerjaan adalah jalan untuk menjauhi keluh dan mendekatkan diri kepada syukur. Karena bersyukur itu lebih baik daripada mengeluh, kenapa kita harus menunda melakukan/mengerjakan tugas kita?"

Kalau kita menunda-nunda mengerjakan sesuatu, otomatis waktu kita untuk menanggung beban itu jadi lebih lama. Ini bisa menimbulkan stress, seperti kata pak Stephen Covey:

"Bukan BERAT beban yang membuat kita stress, tetapi LAMAnya kita memikul beban tersebut."

Nah, saat sedang stress, lebih mudah untuk mengeluh atau bersyukur?

Kemarin, saat saya mengunjungi suatu toko buku, saya menemukan buku yang berisi tips rehabilitasi untuk orang-orang yang suka menunda-nunda melakukan sesuatu (saya lupa judulnya). Salah satu tipe penunda-nunda pekerjaan yang dibahas di dalam buku itu adalah orang yang perfeksionis. Dan saya merasa itu tipe penunda-nunda yang paling mendekati karakter saya (ya, saya adalah orang yang suka menunda-nunda). Penunda-nunda tipe ini belum bisa memulai suatu pekerjaan kalau keadaan belum benar-benar sempurna. Untuk kasus saya, keadaan sempurna untuk memulai mengerjakan sesuatu tercapai jika memang saya sudah ada mood atau keinginan kuat untuk memulainya. Selain itu, 'keterpaksaan' mengerjakan sesuatu (karena sudah mendekati deadline) juga bisa membuat saya memulai suatu pekerjaan.

Nah, kebetulan tugas yang saya sebutkan di bagian awal post ini adalah tugas yang lumayan besar, butuh waktu yang tidak sebentar. Mood saya untuk mengerjakan tugas itu tak kunjung terbentuk karena selalu ada pikiran negatif dalam diri saya bahwa mengerjakan tugas itu pastilah membosankan. Tapi, karena tugas ini sudah molor jauh dari deadline dan tidak hanya menyangkut saya pribadi, akhirnya saya paksa diri sendiri untuk mulai 'merangkak' mengerjakan tugas itu. Tiap hari saya sempatkan mengerjakan tugas itu. Dan setiap kali setelah mencicil menyelesaikan tugas itu, perasaan saya membaik. Saya senang karena, walau mungkin hanya sedikit dan tugas itu belum selesai, saya telah membuat kemajuan. Rasanya seperti berkurang beban yang saya tanggung.

Semoga pemikiran saya ini bisa memotivasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lagi...
Aamiin.

Solo, 4 Januari 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Been A Secretary

Saya lagi bosen. Bosen merapikan sekian data yang harus dilampirkan di sebuah laporan pertanggungjawaban suatu acara. Dan saya jadi menyadari banyak kekurangan saya selama jadi sekretaris di kepanitiaan acara tersebut...

1. Template
Ini hal penting pertama yang muncul di benak saya. Template untuk berbakai berkas yang dipakai oleh tiap divisi. Misalkan template laporan progress, template timeline, dll. Harusnya saya menetapkan template ini dan tiap divisi tinggal mengisinya. Bukan malah menyerahkan sepenuhnya kepada tiap divisi. Walhasil, berkas yang dihasilkan bisa jadi beda-beda untuk masing-masing divisi. Padahal untuk hal ini, keseragaman itu bagus. Keseragaman bisa membuat laporan pertanggungjawaban ini lebih enak dibaca.

2. SOP
Ini penting banget. Misalnya aja SOP permintaan pembuatan surat keluar. Inget banget lah dulu, anak-anak divisi kalau minta dibuatkan surat suka mendadak dan kurang jelas spesifikasinya. Setelah saya masuk ke staf sekretaris di himpunan, saya baru tahu kalau surat keluar itu bisa dibuat sendiri oleh yang membutuhkan setelah orang itu minta nomor surat ke sekretaris dan mengisi daftar surat keluar (tanggal pembuatan, ditujukan ke siapa, perihal apa, dll). Terus sekretaris tinggal ngecek, mengesahkan (misal dengan stempel), dan mengarsipkan tentunya.

3. Arsip
Well, banyak banget hal-hal yang kurang terarsipkan dengan baik oleh saya selama saya jadi sekretaris di acara itu. Sekarang, pas nyusun LPJ, baru deh terasa banget repotnya ngumpulin berkas-berkas yang masih berserakan. Harusnya hal sekecil apapun yang dilakukan anak-anak divisi ada dokumentasinya, untuk diarsipkan.

Haha, padahal selama menyandang putih abu-abu saya sudah punya pengalaman jadi sekretaris, baik sekretaris organisasi maupun sekretaris acara. Tapi begitu saya diamanahi jadi sekretaris acara pas kuliah ini, saya merasa fail...

Saya pun jadi membanding-bandingkan acara-acara saya di SMA dengan acara saya yang kemarin. Dan saya pun menyadari kalau acara-acara di SMA itu lingkupnya kecil, paling cuma acara internal buat sekolah aja. Sedangkan acara saya yang kemarin itu lingkupnya lumayan besar. Selain itu, di SMA dulu, saya merasa masih banyak mendapat bantuan dan keringanan dari guru-guru. Sedangkan saat kuliah ini, saya dituntut untuk bisa mandiri, profesional, dan bisa bekerja sama dengan teman-teman panitia yang tidak sedikit jumlahnya. Mungkin ini yaa salah satu bedanya siswa sama mahasiswa...

-----
Semoga bisa jadi lebih baik.
Solo, 31 Desember 2013
...lagi bosen, di kamar...

Jumat, 13 Desember 2013

Selesai dengan Diriku Sendiri


Aku ingin eksistensiku bermanfaat bagi orang lain.”
--
Itu kata-kata yang sering aku ucapkan. Dan sekarang, aku sedang merenunginya kembali.
Beberapa minggu yang lalu, aku membaca blogpost seseorang tentang seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. (“Orang yang Telah Selesai Dengan Dirinya”, lafatah.wordpress.com)

Beberapa hari yang lalu, aku membaca konsep “selesai dengan diri sendiri” lagi di tulisan lain. Tulisan Fahd Djibran di bukunya yang berjudul “Perjalanan Rasa”.

Hari-hari ini, aku sedang menjalani masa UAS. Pengennya, nggak ada kerjaan lain selain persiapan UAS. Tapi, nyatanya, aku masih harus mikir hal-hal lain juga: ada tiga kepanitiaan yang sedang aku ikuti plus aku masih punya hutang kepada kepanitiaan yang pernah aku ikuti beberapa bulan lalu.

Aku merasa “berat”. Bagaimanapun, prioritas nomor satu tetaplah akademik. Jadi, ya aku memutuskan untuk mendahulukan fokus belajar buat UAS ketimbang ngurusin kepanitiaan. Di sisi lain, aku merasa nggak profesional kalau aku nggak ada progress di setiap kepanitiaan yang aku ikuti. Aku jadi merasa eksistensiku kurang bermanfaat. Berkebalikan dengan keinginan yang aku sampaikan tadi.

Fakta tambahan bagi pernyataan bahwa eksistensiku kurang bermanfaat aku dapatkan ketika mengamati salah seorang teman yang sedang mengajari teman-teman yang lain suatu materi kuliah yang akan diujikan. Aku mengamati, lalu ingat bahwa bukan cuma temanku yang satu itu yang sering mengajari teman-teman lain. Banyak teman yang lain juga yang biasa jadi tutor buat teman-teman sendiri. Aku? Lha wong materi kuliah aja masih banyak yang belum begitu paham, gimana mau nutorin temen-temen?

Aku merasa, aku belum selesai dengan diriku sendiri. Dan sekarang aku menyadari bahwa hal ini menghambat keinginan aku untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mengutip kata-kata bang lafatah, “…adakah orang yang benar-benar telah selesai dengan dirinya?”

Iya juga sih… kalau aku pikir-pikir, koq kayaknya kita gak akan pernah selesai ya dengan diri kita sendiri? Terus, kalau kita harus bener-bener selesai dengan diri kita sendiri dulu, kapan kita bisa bermanfaat buat orang lain?

Tapi, aku berpikir juga, kita tetep harus selesai dengan diri kita sendiri dulu, sebelum kita ngurusin orang lain. Tapi kata ‘selesai’ ini cakupannya parsial ya… Misal nih, aku mau bantu temen-temen yang gak ngerti materi kuliah tertentu, ya aku harus ‘selesai’ memahami materi kuliah itu dulu. Aku mau berkontribusi banyak di kepanitiaan, ya aku harus selesai dengan prioritas pertamaku dulu. Mungkin aku harus bisa belajar dengan cepat dan mengurangi waktu tidur, leha-leha, atau waktu-waktu tak produktif lain.

Ya… partially, aku harus selesai dengan diriku dulu…


Bandung, 12 Desember 2013
sembari menikmati nyanyian hujan di kamar kost.

Sabtu, 23 November 2013

Manfaatkan Kesempatan yang Ada


“Kak, kenapa dulu milih kuliah di Informatika?”

Itu suatu pertanyaan yang aku lontarkan kepada kakak tingkat kemarin. Aku yang saat itu sedang merasa 'have no other choices' : tidak ingin kuliah di jurusan lain tapi juga merasa belum terlalu proper kuliah di Informatika.

Ini semester pertamaku sebagai mahasiswa Informatika, walau aku sudah berstatus mahasiswa sejak setahun yang lalu. Kalau ada adik kelas yang menanyakan pertanyaan di atas kepadaku, maka jawabku adalah:

“Sebenernya dulu aku mau masuk Matematika, FMIPA. Tapi kata ibuku, sayang kalau udah kuliah di institut teknologi ambilnya MIPA lagi, MIPA lagi. Ambil yang teknik sekalian lah!” Dan aku pun mulai mencari, bidang teknik apa yang menarik minatku.

Lalu kenapa akhirnya Informatika? Simple sebenernya.. aku pernah membaca salah satu novel karya Dan Brown dan menemukan istilah 'kriptografi' di sana. Lalu, saat browsing dan menemukan silabus kurikulum dari Prodi Informatika di PTN yang kuincar, aku menemukan mata kuliah 'Kriptografi'. Fix, sejak itu aku menempatkan Informatika di pilihan pertama.

Terkesan tidak pikir panjang kan? Hehe, karena aku memang tipe orang yang tak suka berlama-lama menimbang pilihan yang ada. Aku inginnya segera memutuskan.

And, finally... here I am..

Sekarang, aku dikelilingi orang-orang yang jago banget masalah ke-informatika-an. Jebolan TOKI. Jawara kompetisi nasional. Imba... Dan aku mulai merasa minder. Mulai merasa diri ini nggak pantas berada di antara orang-orang itu. Sampai akhirnya aku menanyakan pertanyaan di atas kepada salah seorang kakak tingkat. Kakak tingkat itu menjawab bahwa dari sekian mapel SMA, mapel komputer adalah mapel yang lumayan mudah dia mengerti. Lalu aku lanjutkan pertanyaanku: “Sekarang, setelah tercapai buat kuliah di Informatika, gimana rasanya kak?” Dia pun menjawab sambil tersenyum, “Hehehe, rasanya... kayaknya salah jurusan deh...”

Oke, berarti bukan cuma aku yang merasa nggak (atau belum) proper kuliah di Informatika.

Pagi ini, hari Sabtu yang cerah, tidak ada kuliah tapi aku tetap berangkat ke kampus pagi-pagi dengan harapan bisa menjadikan hari ini produktif. Saat memasuki gerbang kampus, aku tiba-tiba saja ingat kata-kata – yang entah pernah aku ungkapkan atau hanya tercetus di pikiranku saja – ini: 

“Kalau kamu sudah pinter di bidang itu, kamu nggak perlu kuliah di bidang itu. Kamu kuliah di bidang itu, karena emang kamu belom jago di bidang itu, dan kamu pingin 'bisa' di bidang itu.”

Aku belum jago di bidang ini. Aku sudah 'nyemplung' di sini. Ibaratnya, aku nggak jago renang (bahkan kenyataannya aku nggak bisa renang) tapi aku udah nyemplung ke kolam renang. Kenapa nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk menjagokan diri sekalian?

Lagi-lagi, quotes ini bisa dipakai sebagai reminder:

“Hard work can beat talent when talent doesn't work hard.”

Sabtu, 09 November 2013

Niat Belajar

"Kalian ngapain? Lagi belajar?"
"Iya dong...!"
"Ngapain belajar lagi? Semuanya sudah terlambat..."

Oke, saya jelaskan setting dialog di atas. Dialog di atas terjadi pada suatu siang setelah pekan UTS berlalu, saat saya sedang menunggu kuliah dimulai. Saya dan seorang teman dekat duduk di luar ruang kuliah sambil membahas ulang soal-soal UTS suatu mata kuliah (tepatnya saya bertanya cara mengerjakan soal-soal itu dengan benar ke teman saya). Lalu datanglah teman (cowok) saya yang lain dan terjadilah dialog di atas.

Respon saya setelah cowok ini mengucapkan kalimat terakhir itu adalah tertawa. Ya, karena dia begitu polos dan datar ekspresinya saat mengucapkan kata-kata itu. Padahal menurut saya kata-katanya itu hiperbolis.

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kata-kata itu membuat saya kembali bertanya-tanya kepada diri sendiri: apa sebenernya tujuan saya belajar? Apa tujuan saya kuliah? Apakah saya membahas ulang soal-soal UTS itu hanya supaya bisa mengerjakan soal-soal UAS dengan lebih baik sehingga bisa mendapat nilai lebih tinggi? Atau...?

"Tujuan belajar itu supaya kita paham dan bisa mengaplikasikan ilmunya atau supaya lulus ujian?"

Dari perenungan saya selanjutnya, saya juga jadi ingat salah satu materi agama yang saya terima saat masih belajar di sekolah menengah. Kurang lebih intinya seperti ini:

"Suatu amalan itu bergantung pada niatnya. Kalau niatnya untuk mendapat ridho Allah, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi kalau niatnya untuk hal-hal duniawi, itu pulalah yang akan kita dapat."

Analoginya begini... kalau tujuan saya belajar cuma supaya dapat nilai bagus dan lulus ujian, ya mungkin saya akan mencapai tujuan tersebut tapi tidak benar-benar memahami materi yang saya pelajari. Karena saya bisa saja lulus ujian dengan hanya menghapal rumus tanpa tahu asal-muasalnya dari mana. Saya bisa saja lulus ujian hanya karena sedang beruntung dosen tidak membuatkan soal yang susah atau tidak saya mengerti. Saya bisa saja lulus ujian karena benar menebak jawaban untuk suatu soal. Walau sebenarnya pemahaman saya masih dangkal, saya bisa saja lulus ujian karena hal-hal yang saya sebutkan tadi. Setelah ujian berlalu pun kemungkinan besar saya akan 'lupa' akan materi-materi yang saya pelajari.

Beda ceritanya kalau saya belajar karena saya ingin benar-benar paham. Saya bisa lulus ujian karena saya memang benar-benar bisa mengerjakan soal yang diberikan, bukan dengan menerka-nerka, bukan karena keberuntungan belaka.

Mari luruskan niat belajar kita.... tidak ada angka yang bisa merepresentasikan pemahaman seseorang dengan tepat...


Bandung, 9 November 2013
badai tubes segera dimulai...

Rabu, 24 Juli 2013

Udah Siap?

Ce: Hari ini adalah hari ketiga aku nggak bangun sahur.
Co: Cewe koq gak bangun sahur... nanti suaminya gimana...

Dialog singkat yang mengusik pikiran saya. Ditambah kondisi lingkungan sekitar yang lagi lumayan panas soal 'nikah' , saya jadi mikir gara-gara obrolan sesaat yang saya dengar ini.

Udah setahun saya jadi mahasiswa, perantau, dan tinggal di kos-kosan. Udah setahun saya hidup jauh dari orang tua. Hubungan dengan mereka hanya lewat SMS, telepon, FB, do'a, dan kiriman uang. Tanpa kontak fisik. Di rantau ini saya harus bisa mengurus diri sendiri: bersihin kamar kos sendiri, nyuci baju sendiri, cari makan sendiri, jaga kesehatan sendiri, atur duit sendiri, dll. Intinya belajar mandiri lah.

Lalu, sudahkah saya jauh lebih mandiri dari tahun lalu?

Hoho, rasa-rasanya belum. Aku memang melakukan hal-hal itu sendiri. Tapi tidak disertai kesadaran diri. So, kalau dapet kesempatan pulkam, aku seperti komputer yang di-shut down. Memori di RAM ilang semua.

Nah, kalau ngurus diri sendiri aja masih dilandasi keterpaksaan, gimana mau ngurus orang lain...?

Aku jadi ingat suatu blogpost yang ada di sini:

A: Jadi gimana mba?
B: Kamu siap nikah sekarang?
A: Siaaap... Insya Allah aku mau mba, bikin hubungan kayak gini jadi halal
B: Oke sip. Anyway, menikah itu lebih dari sebatas halal say. Tapi melayani... melayani makannya, capeknya, cuciannya, anak-anaknya, keuangannya...
A: Insya Allah...
B: Kamarmu sudah rapi?
A: ...
B: Pengelolaan uang jajan, belanjamu sudah beres?
A: ...
B: Sudah ga terbiasa beli makan di warung kan?
A: ...
B: Tumpukan baju kotormu sudah dicuci? Dan ga ngelaundry kan?
A: ... 

Kena banget sama dialog itu. Ayo jadi pribadi yang lebih mandiri dan dewasa! :D

Simulasi #2


"Banyak-banyaklah menulis, banyak-banyaklah membaca." [PKP]

Itu pesan dari seorang kakak beberapa hari lalu, setelah menonton film GIE bersama-sama.

Hal yang membuatku kagum pada sosok tokoh di film itu adalah ke-kutubuku-annya dan konsistensinya dalam menulis jurnal harian maupun menulis untuk media. Pikirannya bebas. Idealisme sudah dimilikinya sejak muda. Dan dia berani, vokal.

Aku juga suka membaca, tapi membaca novel. Bukannya aku bilang kalau membaca novel itu tak ada gunanya. Hanya saja, selama ini mindset ku tentang novel hanyalah sebagai hiburan yang tak perlu dikritisi. Cukup dinikmati saja. Kalaupun ada komentar, paling hanya komentar yang general dan tidak mendalam. Aku juga tahu, kalau di novel-novel itu ada banyak informasi yang diselipkan. Namun aku hanya membacanya sepintas lalu, tanpa memikirkannya lebih lama lagi.

Ada yang bilang, untuk bisa menulis kita harus mau membaca. Aku sudah membaca banyak buku (novel). Tapi karya tulisku masih sedikit. Bahkan sudah berbilang tahun aku menelantarkan blog ini, media publikasi karya tulis yang paling sederhana. Minder rasanya saat berkunjung ke blog teman dan mendapatinya masih rajin menulis walau kami sama-sama sibuk.

Setelah menonton film GIE kemarin, aku (lagi-lagi) ingin mengakrabkan diri dengan buku. Aku ingin memperluas wawasan dan membebaskan pikiran. Aku ingin meningkatkan kualitas bacaanku. Aku berharap, dengan buku-buku yang aku baca, aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Seperti pesan seorang kakak kemarin,

"Jangan mau hanya menjadi dirimu apa adanya! Tapi jadilah dirimu yang terbaik!" 

Aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang hanya diam, tidak punya pendapat dan pendirian. Untuk itu, aku harus banyak-banyak membaca kritis. Aku harus berlatih mengutarakan pendapat. Aku harus aktif berpikir.

"Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." [Mohammad Hatta] 

Senin, 21 Mei 2012

HaPe

Posting pertama setelah sekian lamaaaa :D

Baru saja Tryout mandiri.. ngerjain soal-soal SNMPTN Bahasa Inggris. Dan saya tertarik dengan salah satu artikel yang ada di buku kumpulan soal SNMPTN ini..

Monggo dibaca...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

We all know that mobile phones, cellphones, handphones whatever we want to call them are changing our lives. But it takes a good old-fashioned survey to wake us up to the glaring reality: they have changed who we are. The mobile phone has indeed changed the way we behave. But perhaps we don't realize how much we have become its slave. Consider other elements of the Siemens. Mobile Survey: With the exception of Australia, in every country surveyed the majority polled said they would go back for their phone if they left it at home (in Australia it was a respectable 39%). If you've endured the traffic, people in Indonesia, the Philippines, and India, you'll know what kind of sacrifice some two-thirds of those surveyed are making. I can't think of anything I would go back for -- except my wallet, maybe, or my clothes.

And even if we remember to bring it, we're still not happy. Many of us get anxious if it hasn't rung or a text message hasn't appeared for a while (a while being about an hour). Once again of those surveyed Indonesians (65%) and Filipinos (77%) get particularly jittery. Australians are more laid back about this (20%), but every other user in Asia seems to be glancing at the phone every few seconds. This statistic, I have to say is highly believable, and the instinct highly annoying. There's nothing worse than chatting to someone who constantly checks his or her handphone.

Then there's the fact that mobile phones are not only enslaving the user, but also trampling the rights of everyone else. Around a third of folk surveyed, acknowledge they get so engrossed in mobile conversations that they're often unaware of speaking loudly while discussing their private lives in public. At least most of us agree on one thing: With the exception of China, Hong Kong, and Taiwan, the increasing use of mobile phones has led to a decline us courtesy and considerate behavior.

The bottom line here is that we are more than a little bit out of control. Mobile phones are great: but if we allow them to dominate our lives to this extent -- interrupting conversations with those around us to take a call, staring at our phones rather than relating to the world and people around us, sending flirty text messages to random numbers -- then I can only assume that in another 10 years, society as we know it will no longer exist. All we'll see is a blur of digital data going out and having all the fun, socializing, falling in love, and taking sneaky pictures of each other.

[taken from FOKUS SNMPTN IPA, page 117)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Fiuh, rampung juga ngetiknya.

Jujur, saya merasa agak tersindir habis baca artikel ini. Hehe, soalnya saya masih sering sebel juga kalau HaPe sepi SMS [walau mungkin nggak kelihatan sebelnya]. Masih sering juga bolak-balik cek HaPe kalau lagi nggak ada kerjaan atau lagi nunggu temen sendirian di tempat umum. Secara tak sadar, saya telah diperbudak oleh benda mati yang besarnya hanya segenggaman tangan :|

Tapiii... HaPe itu tetep aja penting untuk kehidupan seseorang era kini. HaPe bisa mempermudah komunikasi saat mobile. Bahkan sekarang HaPe [dengan SIM card tertentu] bisa digunakan sebagai alat pembayaran di supermarket, bioskop, loket tiket kereta, dll.

Lagi-lagi, kembali ke kita sebagai pengguna. Bisakah kita memanfaatkan HaPe dengan bijak?

Jadi inget beberapa guru saya... Mereka prihatin, mayoritas pelajar sekarang lebih suka baca SMS daripada baca buku pelajaran. Pelajar lebih suka manfaatin waktu luang buat SMSan daripada buat belajar. Bahkan banyak juga pelajar yang curi-curi waktu SMSan saat pelajaran di kelas. Nggak cuma SMSan ding, update status, ngetwit, plus berbalas comment juga! Ckckck...

"...kalau ada anak yang duduk anteng sendirian, pas dideketin, pasti dia lagi khusyuk maen HaPe..." begitu kurang lebih kata tentor bimbel saya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sekedar mengingatkan... Ayo bersikap bijak dalam menggunakan HaPe!! Jangan cuma buat SMSan gak jelas dan social networking terus-terusan!! HaPe bukan cuma alat komunikasi lhoo.. kan bisa juga dipakai untuk cari informasi yang bermanfaat [browsing berita] dan sharing hal-hal yang bermanfaat [lewat blog misalnya].

Jangan terlalu ketergantungan sama HaPe juga tapi... Tingkatkan juga budaya membaca buku! Tingkatkan kecerdasan interpersonal dengan bergaul di luar dunia maya! :)

Senin, 23 April 2012

Maudy Ayunda "The Climb" Cover




...accidentally found this video...

pertama kali denger lagunya di radio. pas itu gak tau judul lagunya apa... cuma suka aja sama liriknya.

siang ini, berawal dari teaser film Perahu Kertas, sampailah saya di video yang di upload ke channel Maudy Ayunda ini :)

emang bener...

...
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb
...

Bukan hasil... tapi prosesnya yang penting :)

Jumat, 23 Maret 2012

HAI, PEMUDA !!

image was taken from somewhere

Beberapa hari yang lalu, saya dibuat bosan dengan berita di TV. Kenapa? Karena isinya hanya didominasi oleh dua hal: kecelakaan plus korbannya dan demo mahasiswa di seantero negeri untuk memprotes kenaikan BBM.

Yang jadi fokus saya adalah yang kedua.

Semua berita tentang demo mahasiswa selalu disertai dengan tayangan bentrok antara mahasiswa dengan aparat juga aksi bakar-bakaran dan anarki yang lain. Itukah wajah mahasiswa Indonesia era kini? Aksi protes mereka itu lho, kok kayak bukan orang terpelajar. Meski berdalih bahwa mereka muak dengan tingkah laku 'lakon atas' di negeri ini, tetap saja tindakan mereka itu tidak bisa dibenarkan [to my opinion]. 

Mereka malah rugi sendiri. Aspirasi belum tentu didengar, tapi harus berurusan dengan polisi. Dan tak menutup kemungkinan mahasiswa-mahasiswa 'vokal' itu harus dikenai pasal tindak pidana, hmmm...

Bukannya saya menyalahkan sikap kritis mereka. Tapi, apakah mereka tidak punya cara yang lebih elegan untuk menyampaikan aspirasi? Untuk membangun Indonesia jadi lebih baik?

Lagipula, aksi demo mereka itu - kalau dipikir-pikir - nggak relevan dengan isi protes mereka. Judulnya demo protes kenaikan harga BBM tapi mereka berbondong-bondong ke kantor DPR untuk menurunkan foto pak Presiden yang digantung di dinding. Apa hubungannya coba?

Lepas dari rencana kenaikan harga BBM, pastinya mahasiswa-mahasiswa itu tahu dong kalau stok minyak mentah di dunia ini semakin menipis... Apa mereka tidak tergerak untuk mencari solusi bahan bakar alternatif? Kenapa mereka seperti terfokus pada kenaikan harga BBM? 

Menurut saya, mereka terlalu fokus pada masalah. Padahal seharusnya kita fokus pada solusi, bukan pada masalah.

Kata bung Karno, "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Tapi kalau pemudanya macam pendemo-pendemo anarkis itu, yang sering berpikiran pendek itu, bisakah dunia ini berubah jadi lebih baik?

image source

... sebuah reminder,
semoga diri ini bisa jadi PEMUDA yang bermanfaat...

Jumat, 28 Oktober 2011

Dongkrak Percaya Diri

"Bagaimana perasaanmu?"

"...tak kupungkiri, aku senang. Namun percayalah padaku, ada terselip rasa tak enak hati selalu..."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau tahu kan, di luar sana banyak sekali yang berharap untuk bisa menyamai langkahmu?"

"...entahlah. Aku ini bukan orang yang pandai bergaul. Aku ingin membantu mereka. Namun aku selalu saja merasa kurang percaya diri untuk sekedar mengulurkan tangan, menggenggam tangan mereka untuk kuajak berlari bersama. Aku takut menerima penolakan, walau belum pasti jua aku akan ditolak. Aku hanya berani menggenggam tangan mereka yang telah secara langsung memanggilku. Karena bersama mereka, pasti tidak akan ada penolakan..."

"Lakukan saja! Beranikan dirimu untuk mendahului mengulurkan tangan. Kalaupun mereka menolak menggenggam tanganmu, biarkan! Yang penting kau telah berinisiatif menolong."

"....."

"Lakukan saja!"

"...akan kucoba, Insya Allah..."




Do whatever you wanna do, as long as it is good for you and others and it doesn't oppose His rules.


Pagi hari Jum'at
83 tahun pasca Soempah Pemoeda
semoga aku dan pemuda Indonesia bisa membawa perubahan yang baik
untuk Indonesia

PS. terpaksa mengundurkan deadline yang telah ditetapkan sendiri, tapi saya janji, ini kali terakhir saya mengundurkan deadline...!!!

13 days remain...

Jumat, 29 Juli 2011

S I A P A ?

Hari masih gelap. Subuh belum berlalu penuh. Namun kamu sudah paksa diri untuk segera melintas kota, menuju sekolah tercintamu. Prinsipmu belum berubah: jika sudah siap, segera berangkat saja. Kamu takut jika menunda-nunda untuk berangkat, jadinya nanti kamu malah malas.

Maka langsung kamu tunggangi kuda besi yang dibelikan orang tuamu tahun lalu. Lima belas menit berlalu, dan kamu pun sampai di gedung itu.

Sepagi itu, beberapa anak kelas sepuluh dan sebelas sudah ada yang datang. Ada jadwal olahraga rupanya. Kamu agak kaget juga melihat halaman yang padat manusia. Bagaimana bisa kamu membawa motor yang kau tunggangi ke tempat parkir yang ada di belakang gedung?

Tapi itu hanya sesaat. Karena ada seorang guru olahraga yang langsung "menggiring" anak-anak itu ke tepi, untuk memberimu jalan. Kamu pun langsung tancap gas tanpa menoleh ke guru tadi, tanpa menyampaikan sekedar tatapan terima kasih.

***

Di tempat parkir. Di hari yang lain.

Setelah merasa bahwa kau sudah memarkirkan motor dengan baik, segera kau putar kunci ke kiri. Meski aturannya tidak boleh kunci stang, tapi kamu tetap mengunci stang. Lagian tidak ada yang protes kan?

Selagi melepas helm, ada orang yang memarkir motor di sampingmu. Kau menoleh kepadanya beberapa detik. Orang itu juga menatapmu ternyata. Namun kau langsung memutuskan kontak pandang itu. Tanpa senyum. Untuk apa? Kamu tak kenal orang itu.

"Pagi, mbak Hayyu. Assalamu'alaikum."

Kaget, kau menoleh ke orang tadi. Yang saat ini sedang tersenyum kepadamu.

"Wa'alaikumussalam.." jawabmu dengan agak salah tingkah. Spontan kau melirik badge namanya. Bukan untuk mencari tahu nama, sekedar ingin tahu dia dari kelas berapa.

Hijau. Berarti dia anak kelas sebelas. Adik kelas.

Setelah melempar senyum singkat untuknya, kau pun berlalu.

***

Adzan baru saja selesai berkumandang. Kamu langsung menuju tempat wudhu. Tanpa seorang teman pun.

Di tempat wudhu yang sudah ramai, kau hanya diam dan lebih memilih untuk tidak memandang orang-orang yang keluar masuk tempat wudhu. Sembari menunggu antrian, sibuk dengan pikiran sendiri.

"Halo, mbak Hayyu..."

Ada yang menyapamu. Kau pun menoleh ke sumber suara. Anak kelas sepuluh rupanya. Setelah melempar senyum dan lambaian tangan sebagai balasan, kau segera menyambar keran kosong dan mengambil wudhu. 

***

Bel tanda jam ke 7 sudah berdering. Kamu segera menyudahi do'a dhuhur mu dan melipat mukena. 

Saat memakai sepatu di depan masjid...

"Hayyu... Besok mau kuliah di mana?" tanya seorang gadis di sampingmu. Teman seangkatan, tapi dari kelas lain.

"Eh? Uhm... Pingin coba ke ITB," jawabmu setelah melirik sekejap kepada orang itu.

"Ooo, jurusan apa?"

"Matematika," tersenyum. Sebenarnya kau ingin menjawab lebih dari itu. Bahwa pilihanmu selain ITB adalah UGM. Bahwa kamu belum pasti pula dengan jurusan Matematika. Namun, alih-alih menjawab demikian, kau balik melontarkan tanya basa-basi...

"Kalau kamu, mau nerusin ke mana?"

"Aku UNS aja. Yang deket," jawabnya ringan.

"Jurusan?"

"Hehe, belum tau. Pinginnya sih ambil kesehatan."

Mendadak terlintas tanya di benakmu: gadis ini dari kelas IPA atau IPS ya?

Tapi karena dia ingin kuliah di kesehatan, kausimpulkan bahwa dia anak IPA. Maka pertanyaan yang akhirnya kaulontarkan adalah:

"Kenapa nggak kedokteran [maksudnya pendidikan dokter] aja sekalian? Kan cool tuh.. hehe.."

"Uhm... nggak ah..."

Selesai memakai sepatu, kau segera berusaha mengakhiri percakapanmu dengan dia, secara halus tentu.

Dan kau pun melengang meninggalkannya, meski sebenarnya kau bertanya-tanya tentang gadis itu. Siapa gadis itu?

***

Itu tadi sekelumit cerita tentang diriku. Aku yang kurang peduli, kurang pandai bergaul, dan individualis.

Padahal aku hidup di tengah banyak orang yang peduli kepada ku. Yang menganggap aku ada.

Tapi aku sering lupakan mereka, abaikan mereka, menganggap mereka tak ada, dan bahwa aku hanya sendiri.

Teruntuk orang-orang yang hidup di sekitar ku...
Maafkan aku. Maafkan aku yang "autis". Maafkan sikapku, sikap sosialku yang kurang baik. Maafkan jika kalian pernah merasa diabaikan oleh ku. Aku bukan bermaksud sombong. Aku hanya memang tidak pandai bergaul. Maaf...
Terima kasih atas setiap sapa dan senyum kalian. Terima kasih atas sikap hangat kalian kepadaku...
Mulai sekarang, aku akan berusaha memperbaiki sikap. Berusaha untuk bisa jadi orang yang lebih peduli... 

Jumat, 24 Juni 2011

Tolong Sulap Kamar Saya!

Libur sekolah masih ada dua minggu dan kamar masih berantakan. Debu tebal di mana-mana, buku-buku berserakan di atas meja [sisa-sisa perjuangan mati-matian demi sukses UKK *halhah*], dan nyamuknya banyak bangeeeet [oke, yang terakhir ini lebih ke faktor musim yang sedang beralih dari hujan ke kemarau kali yaa *padahal emang messy banget, pas buat sarang nyamuk*].

Saya pun jadi berpikir, harus saya apakan kamar saya ini? Saya sudah punya tekad, pokoknya di awal tahun ajaran baru nanti, kamar ini harus rapi, bersih, dan kondusif sekali buat belajar mengingat saya akan menghadapi salah satu fase penting bagi riwayat akademis saya: UJIAN KELULUSAN SMA. Kalau kamar saya masih seperti sekarang ini, kebayang deh gimana gak nyamannya buat belajar nanti...

Huff... tapi baru tekad itu saja yang saya miliki. Sampai sekarang pun, saya belum melakukan langkah pertama untuk menyulap kamar saya.

Selain merapikan dan membersihkan, saya juga ingin mendekorasi kamar saya yang luasnya tak seberapa ini. Saya sering iri kalau lihat kamar-kamar remaja di sinetron atau film. Kamarnya bagus-bagus euy...

Dan... dari hasil googling, saya pun dapat gambar kamar-kamar yang menarik... seperti ini nih...
Wuiih, ada kolam renang di dalam kamar bow... Bangun tidur langsung aja deh nyebur ke kolam...

Yang ini oke juga... tempat tidurnya bisa ditumpuk gitu, jadi bisa menambah space...

asik juga nih kamar... tidur di loteng... [tapi jadi gak asik kalau ada tikusnya =,=]

kayaknya stuff ini cocok deh buat kamar saya yang mini [baca: sempit]

Well... jadi tambah iri deh sama yang punya kamar-kamar kayak yang di gambar itu... Ada yang bisa bantu menyulap kamar saya? Ini nih foto kamar saya [foto diambil ketika kamar dalam keadaan lumayan rapi]

Penulis akan menerima berbagai saran dari pembaca yang budiman dengan senang hati... silakan komentari entry ini atau tinggalkan pesan di shoutmix saya [bagi yang tak punya Multiply account]... Obrigado =D

Senin, 02 Mei 2011

[mencarimakna] Perfectionist

Nothing is perfect in this world, but the best does exist here, I know…
I want to be the best, so I often try to be perfect, am I wrong?
But, the way to get the perfection is hard, yeah…
And it drives me insane…
So, I’m often trapped in laziness…
On the end, I always hurt to race against the limit…
Apa perfeksionis itu? Apakah ia mengharapkan kesempurnaan?

Itu tergantung orang yang memilikinya (karakter perfeksionis). Tapi rasa-rasanya, mayoritas perfectionist people itu sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan, melainkan berharap untuk menjadi yang terbaik di antara yang lain. Oleh karena itu, mereka berusaha meminimalisir kesalahan dan kekurangan dengan 'mengejar' kesempurnaan.

Pastinya, usaha dalam mengejar kesempurnaan ini tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan, harus teliti dalam melangkah. Dan apa jadinya jika karakter perfeksionis itu didampingi dengan sifat malas???

Rasanya menyiksa sekali... [source: pengalaman pribadi]

Diri ini seperti terbelah. Di satu sisi, kita ingin hasil kerja kita nantinya menjadi yang terbaik. Di sisi lain, kita malas menempuh tebing curam menuju puncak kesempurnaan yang memang tak mungkin dicapai namun harus tetap dikejar untuk jadi the best.

Akhirnya, seringkali hasilnya nanti jadi 'netral', not the worst nor the best, just so so...

So, what should we do in this case?

Mari berteori...

Pertama-tama, rancang step-step kita untuk mengejar kesuksesan. Kiasannya, kita tentukan rute yang akan kita tempuh untuk berusaha mencapai puncak kesuksesan.

Kedua, laksanakan step-step tersebut dengan disiplin. Misalnya saja, jika kita telah mentargetkan 100 langkah pendakian untuk satu hari, maka kita harus melaksanakannya, tak lebih tak kurang. Jika lebih, bisa jadi hasil akhirnya nanti kurang maksimal. Jangan terlalu ngoyo! Jika kurang, secepatnya dilunasi! Supaya pekerjaan tetap selesai tepat waktu.

Ketiga, refresh motivasi. Tak jarang pula [bahkan sering] di tengah pendakian kita merasa hilang harapan. Kita mulai meragu akan diri sendiri. Mulai merasa diri sendiri tidak akan bisa memenuhi target yang diharapkan. Itulah perlunya refresh motivasi. Caranya? Tergantung masing-masing individu dong... Tapi mungkin, cara ini bisa dicoba: membaca [get to know] kisah-kisah inspiratif orang lain, tak harus orang terkenal, boleh juga kisah-kisah teman kita sendiri. Cara lainnya lagi: mengingat kejayaan masa lalu. Misalnya saja, dulu kita pernah berhasil mendekati puncak kesuksesan, lalu kenapa sekarang tidak? Pasti bisa dong...

Keempat, jangan lupa berdo'a. Ora et labora. Ikhtiar tak lengkap tanpa do'a. Bagaimanapun kita ini manusia yang lemah. Yang perlu bantuan Sang Pemilik dan Penguasa Yang Maha Segalanya.

Kelima, kalau sudah sampai di limit tertinggi yang bisa dicapai, jangan pernah berpuas diri [sombong]. Ingat, di atas langit masih ada langit dan manusia bukan makhluk sempurna.

Yeah, semoga saja teori ini bisa diterapkan... =)

Senin, 04 April 2011

Dialog Dengan Hati

Aku bercermin diri. Menekuni refleksiku di batuan kaca. Wajahku yang tak pernah kulapisi bedak. Pakaianku yang itu-itu saja. Penampilan yang minim aksesoris. Hanya jam tangan. Tidak ada gelang, kalung, maupun cincin. Tidak ada bros atau pin di jilbab yang kukenakan. Anting-anting pun tertutup jilbab. Tubuh yang jarang memakai wewangian. Kulit sawo matang yang bebas lotion. Apakah aku cantik?

Aku tahu, meski kau sering abai akan penampilanmu, tapi kau juga sering tergiur untuk peduli. Saat melihat wajah-wajah atraktif kawanmu, kau pun ingin merawat wajahmu supaya jadi seatraktif wajah mereka. Saat kau melihat pakaian-pakaian aneka mode, kau pun ingin mengenakannya. Kau ingin bergelang dan bercincin. Kau ingin merevolusi model jilbabmu, menghiasinya dengan pin lucu atau bros yang indah. Kau juga tergoda untuk memakai wewangian banyak-banyak, demi menutupi bau badan. Kau juga ingin pakai lotion, berharap kulitmu bisa jadi agak cerah. Iya kan?

Ya. Aku ingin. Tapi, aku tidak menuruti keinginanku. Aku tak mau menghabiskan waktuku yang sedikit ini hanya untuk merawat wajah. Aku sering tidak percaya diri saat mengenakan pakaian modis. Aku merasa gelang dan cincin itu tak ada gunanya. Aku tak pandai dalam berkreasi dengan jilbab. Dan aku takut melanggar batasan-batasanNya jika aku memakai wewangian dan lotion. Apakah aku salah?

Apakah kamu cantik?

Itu tadi pertanyaanku! Kenapa pula kau kembalikan padaku? Jawablah!

Segala sesuatu di dunia ini, segala yang telah diciptakanNya, itu indah, cantik. Karena Ia adalah Pencipta Yang Maha Segala. Ia Tak Bercacat. Pasti Ia telah membekali setiap ciptaannya dengan kecantikan. Kamu itu cantik.

Iyakah? Aku tahu bahwa ada kecantikan di setiap makhluk ciptaanNya. Tapi aku sulit percaya bahwa aku ini cantik.

Memangnya menurutmu, seperti apa orang yang cantik itu? Orang yang setiap minggu melakukan perawatan kulit? Rajin memakai lotion pemutih? Memiliki pakaian aneka mode selemari penuh? Bergelang dan bercincin?

Entahlah... aku sendiri bingung...

Percayalah: kau cantik! Kau hanya perlu menampakkan kecantikanmu itu, agar kau sendiri bisa melihatnya, merasakannya.

Bagaimana?

Senyumlah! Kendalikan emosimu! Optimislah memandang hidup! Setialah berjalan di atas jalan lurus! Be yourself! Percaya dirilah! Maka cantikmu akan tampak...





Sedikit motivasi diri untuk menjadi orang yang lebih baik...
Solo, 3 April 2011 @ 11.48 pm

Jumat, 21 Januari 2011

School of Life: Physique 1

"....meski benda itu besar, jika ia tidak bergerak, maka ia tidak punya momentum...."

Kata-kata itu diucapkan oleh guru Fisika saya saat beliau menerangkan kembali tentang momentum untuk gerak linier, sebagai preambule materi baru: momentum sudut.

Begitu mendengar kalimat itu, saya seolah mendapat inspirasi mendadak. Hasil kerja dari sistem syaraf manusia yang begitu cepat, hebat, dan dahsyat. Subhanallah...

Inspirasi apa??

Inspirasi untuk berprestasi. Yak...

Setiap orang di dunia ini memiliki potensi untuk berprestasi. Namun, potensi itu akan terus terpendam jika manusia tersebut tidak berusaha untuk menggalinya. Apa alasan seseorang untuk tidak menggali potensi yang ia miliki? Jawabannya ada lebih dari satu alasan. Dalam entry ini, saya akan membahas tentang salah satu alasan saja: MOMENTUM.

Ya... Banyak orang yang sebenarnya mengetahui secara pasti akan potensi yang dimilikinya. Namun, ia tidak mau repot-repot menariknya ke permukaan untuk menjadikannya sebuah prestasi hanya gara-gara ia merasa tidak memiliki kesempatan atau momen yang tepat.

Ini adalah hal yang salah. Berdasarkan hukum fisika, suatu benda pasti memiliki momentum (kesempatan) jika ia bergerak. Besar kecilnya momentum juga dipengaruhi oleh seberapa cepat benda itu bergerak. Jika benda itu hanya diam saja, tak peduli seberapa besar massanya (potensinya), pasti ia tak punya momentum.

Coba kita pahami hukum fisika yang satu ini......

Setelah itu, coba kita buat daftar potensi diri yang kita miliki.....

Sudah??

Dari daftar potensi diri tersebut, pasti masih ada potensi-potensi yang belum tercantum, karena mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa potensi itu ada dalam diri kita. But, it's ok... Kita mulai terlebih dulu untuk potensi-potensi yang sudah terdaftar...

Misalnya saja, saya tahu bahwa saya bisa menjadi pemusik yang handal, yang bisa memainkan berbagai macam alat musik, yang bisa menciptakan harmoni nada indah mempesona. Bagaimana saya bisa tahu? Karena bagi saya, musik adalah bahasa lain dari matematika. Musik adalah matematika yang indah, bebas, luwes, menentramkan... Saya bisa memahami pelajaran seni musik semudah saya memahami matematika.

Namun, kenyataannya sampai saat ini saya baru bisa memainkan pianika, itu pun tidak terlalu mahir. Main flute juga masih false. Mengapa demikian?

Karena saya tidak bergerak. Saya tidak memiliki variabel kecepatan. Bahasa sederhananya, saya tidak mempelajari seni musik lagi. Bagaimana saya bisa memahaminya jika mempelajarinya pun tidak? Terakhir saya bersinggungan dengan pelajaran musik adalah saat masih duduk di kelas 9 SMP, dua tahun yang lalu. Otomatis potensi musik saya belum sepenuhnya terangkat ke permukaan tangga prestasi.

Lalu, mengapa saya berhenti mempelajari musik?

Ternyata sederhana sekali jawabannya: kurikulum SMA saya memang tidak mengajarkan seni musik.

Bukankah saya bisa mengikuti les musik di luar sekolah, atau mungkin berguru pada relasi yang lebih pandai main musik?

Diri saya kembali beralasan: tidak ada dana untuk les musik. Tidak ada relasi yang bisa mengajari main musik. Intinya, saya tidak punya kesempatan untuk belajar musik.

Alasan lagi, lagi, dan lagi... Itulah yang membuat saya tidak bergerak. Hingga kini saya menyadari bahwa secara tidak sadar, saya telah melabeli diri saya dengan "tidak bisa main musik"

ITU SALAH!!!

SAYA BISA MAIN MUSIK! Jika saya mau bergerak untuk mulai mempelajarinya...!!!

Begitu pula bagi ANDA!!

Mulailah bergerak! Perbesar variabel kecepatan ANDA!! Karena semakin besar kecepatan gerak ANDA, semakin besar pula momentum (kesempatan) ANDA untuk mengubah potensi menjadi prestasi..!

Ciptakan momentum ANDA sendiri dengan bergerak!!!

Sabtu, 25 Desember 2010

Menebus Impian

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
A film by Hanung Bramantyo
Starring: Acha Septriasa (Nur), Fedi Nuril, Ayu Dyah Pasha

Another film about dream.

Film ini menceritakan perjuangan seorang Nur (Acha Septriasa), seorang mahasiswi sekaligus orang yang ikut dalam suatu bisnis MLM, dalam mendapatkan semua hal yang diinginkannya. Of course, ceritanya nggak jauh-jauh dari yang namanya uang.

Dia berulang kali diuji dan menemui jalan buntu. Mulai dari ibunya yang divonis tumor otak dan harus segera operasi, hingga collapse-nya bisnis yang sedang digelutinya lantaran pengkhianatan seorang teman. Sampai akhirnya ia benar-benar putus asa.

Nah, bagian inilah yang saya suka. Saya temukan motivasi di bagian ini.

Setiap kali menemui jalan buntu, kita selalu punya kesempatan untuk putar balik dan ulangi semuanya dari awal. You know, I think that's right... Nggak ada gunanya juga kalau setiap kita menemui jalan buntu, terus kita hanya diam, duduk di sana, dan berkata, "Oke, aku capek. Aku akan menunggu di sini sampai tembok ini runtuh dengan sendirinya dan memberi aku jalan untuk maju."

Haloooo, umur kita nggak panjang di dunia ini! Kita nggak bisa menjamin bahwa kita bisa bertahan hidup sedemikian lama hingga tembok itu runtuh dengan sendirinya. Cobalah cara lain! Anggap saja dunia ini seperti sebuah maze raksasa dengan banyak pilihan jalan. Just try! And enjoy your "Trial and Error".

Pasti ada jalan keluar untuk setiap permasalahan. Kita hanya tinggal berusaha menemukannya.

Selain itu, ada lagi nih yang menarik...

Ketika Nur mengutarakan pendapatnya bahwa impian adalah sesuatu yang indah, sekonyong-konyong ia disalahkan oleh perintis bisnis MLM Grand Vision.

Menurut orang itu, impian adalah sesuatu yang menjijikkan, memuakkan.

Dibalik kepakan indah sayap kupu-kupu, ada fase kepompong yang di dalamnya menggeliat ulat yang menjijikkan. Dan jika ingin mendapat buah yang manis sekalipun, butuh pupuk dari kotoran hewan.

Dari sinilah aku jadi berfilosofi sendiri tentang impian:
Impian itu cantik layaknya mawar yang penuh duri...
Impian itu indah layaknya bintang yang panas membakar...

Intinya: No pain, no gain! Yeah....

Film yang bagus untuk ditonton. Especially, untuk anda yang sedang drop semangatnya.