Tampilkan postingan dengan label elips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

[mencari makna] Solidarity


"eh, kamu kenapa tadi gak ikut rapat?!"

"...mm, aku gak diizinin sama ibuku. Aku gak boleh maen-maen dulu sebelum SNMPTN."

"Tadi itu kan kita bukan maen. Kita RAPAT KELAS ! Terus, kalau kamu gak dibolehin maen kenapa kamu bisa sampe sini? Jajan di sini? Gak solid ah!!"

"..."

~~~~~

"Hei!! kapan kamu mau jenguk si A?!"

"Besok Sabtu, insya Allah bareng temen-temen."

"Ngapain nunggu besok sabtu, ha?! Sekarang aja si A itu udah boleh dijenguk! lagian udah banyak juga koq yang jenguk dia ke sini.. anak-anak dari kelas laen juga udah pada jenguk. Kamu yang temen sekelasnya kenapa malah belom jenguk?! Mana solidaritasmu?!"

"..."

~~~~~

Solidaritas... apa sebenernya makna solidaritas? Apa sebenarnya tolok ukur solidaritas?

Kalau saya lihat di film-film, solidaritas itu identik dengan 'selalu bareng'. Kalau si Z pergi ke sini, si Y ikut. Bahkan ada juga kan, yang menjadikan solidaritas sebagai alasan sah untuk menyerang kelompok laen? Sampai-sampai tawuran dan perkelahian tak terhindarkan.

Kalau kata wikipedia nih..

Solidarity is the integration, and degree and type of integration, shown by a society or group with people and their neighbors.[1] It refers to the ties in a society that bind people to one another.

...hal itu mengacu pada ikatan dalam suatu kelompok yang mempersatukan seseorang dengan orang lainnya..

Menurut saya, solidaritas itu gak bisa diukur secara pasti. Itu subjektif. Harusnya kita gak boleh asal menilai seseorang itu gak solider atau gimana. Seperti kasus di atas misalnya. Kita gak boleh dong, marah sama temen sendiri gara-gara dia gak dateng ke rapat kelas lantaran gak diizinin ortunya. Apalagi malah nyaranin temen itu buat gak usah izin lagi sama ortu kalau ada undangan rapat. Padahal menurutku, izin dari ortu itu bagaikan ridho dari mereka, doa yang mengiringi langkah kita.

Sama halnya buat kasus jenguk temen itu... 

Pengalaman jadi anak SMA nih, hal dilematis adalah saat kita dihadapkan pada keinginan kumpul bareng temen dan birokrasi perizinan yang agak ribet ke ortu. Pas kelas sepuluh kemaren, pas organisasi yang saya ikuti ngadain event, saya sering izin pulang duluan lantaran izin dari orang tua udah habis. Galau.... pingin banget kumpul lebih lama sama temen-temen itu, paling nggak sampai event nya selesai. Tapi di sisi laen, gak berani juga buat ngelanggar batas waktu yang udah ditetapkan sama ortu. Mau minta perpanjangan waktu juga lumayan ribet. Okee... itu semua pasti karena ortu saya sayang sama saya  Mereka gak mau anaknya sakit, kecapekan...

Pernah juga ngerasain disindir-sindir masalah ini. Biarlah, terserah mereka mau bilang apa...

Aku sendiri selalu berusaha buat gak melabeli seseorang 'gak solider' [insya Allah]. Khusnudzon aja sama temen-temen. Karena bagiku, solidaritas itu gak sesederhana kehadiran fisik. Solidaritas itu harus berwujud dukungan moral dan doa juga. Nonsens banget deh, kalau kita sering kumpul tapi dalam hati ini ada niatan untuk saling menjatuhkan. Luarnya doang kelihatan solid, tapi dalemnya bobrok. 

Daripada sibuk menilai solidaritas orang lain, kenapa gak kita sendiri berusaha untuk menjadi pribadi yang solider?

Caranya..?

Coba pahami kondisi orang lain, pahami keadaan teman kita... minimal, usahakan untuk tidak menganggap teman-teman kita itu gak solider  

Jumat, 01 Juni 2012

[random] Habis UN Terbitlah CINTA

"..eh, si R itu jadian ya sama si Z?"

"Udah lama kaleee! Udah sejak seminggu pasca UN."

~~~~~

"..eh, tadi koq si C pasang status, kayaknya lagi seneng banget gitu.. kenapa? udah dapat universitas ya dia?"

"Hallaaah, paling juga tadi habis dipuji-puji sama si F."

"Hloh? Ada hubungan apa di antara mereka?"

"..mereka kan udah jadian -___-"

~~~~~

[di dunia maya, beberapa hari pasca UN]
Setiap kali si P pasang status, di like/comment sama si S.. dan sebaliknya

~~~~~

Ckckck... itulah fenomena yang sedang jadi trending topic saat ini [di lingkungan saya]. Ada temen yang dulu pas awal kelas XII minta break sama pacarnya. Begitu UN selesai, hubungan yang di-pause pun di-play kembali.

Ada juga temen yang udah putus dari pacarnya sebelum ujian. Habis UN, udah gandeng pacar baru aja..

Ada temen [cowok-cewek] yang selama ini suka dijodoh-jodohkan... eeeee, pasca UN, malah jadian beneran!

Ada pula temen yang cerita, pas acara wisuda kemarin ibunya tanya, "Dik, temen-temenmu semua ngenalin pacar mereka ke ortu, kok kamu enggak?"

Jawab temenku, "Adik kan gak punya pacar, bu..."

Si ibu masih saja bertanya, "Masak? gak pingin apa punya pacar?"

Temenku: "Sama sekali nggak pingin!"

~~~~~

Bagaimana dengan saya?

Ohhhooo, jangan khawatir.. saya juga sudah punya tambatan hati sendiri:

STEI, ITB !!

Ya, itulah cinta saya... cinta yang sedang saya usahakan... cinta yang sedang saya kejar.

Saya nggak mau ngiri sama temen-temen yang udah pacaran. Toh, prinsip saya emang gak mau pacaran. Saya cuma berharap, supaya temen-temen saya itu selalu dapat bimbingan dari Allah. Jangan sampai mereka melanggar batas-batas yang udah paten, mutlak, ditetapkan olehNya.

~~~~~

Ya Rabby... jodohkan aku dengan cinta yang sedang aku kejar saat ini. Jodohkan aku dengan ITB ya Allah... aamiin..

~~~~~

PS: kalau ada temen sekolahku yang baca entry ini dan merasa tersindir atau malah tersinggung, aku nggak maksud nyari musuh hlooo... terus kalau ada yang merasa kisah cintanya dijadiin contoh di awal entry ini, thanks dan maaf. identitas kalian masih aman insya Allah :)

Untuk para MPers yang udah baca entry ini, thanks for visiting.. maaf kalau entry ini geje/random banget. Yang jelas, saya minta doa dari MPers semua: tolong doakan saya berjodoh dengan ITB ya... ? Terima kasiiiiih.... ;)

Kamis, 29 Maret 2012

Koagulasi, di Waktu yang Salah

Di saat kritis seperti ini,
kau justru memberi darah dengan
golongan yang salah kepadaku.
Darah yang aglutinogennya tidak bisa
bersisian dengan aglutininku.
Yang membuat darah di arteri
dan venaku terkoagulasi.
Tambah menenggelamkanku ke
pusaran kekritisan.



Sabtu, 03 Maret 2012

Ujian Praktek: Baca Puisi

Alhamdulillah... usai sudah ujian prakteknya :D Satu ikatan sudah terurai!!

Well, pingin banget upload foto-foto yang diambil selama lima hari ujian praktek kemarin. Tapi entar aja deh yaa.. Di entry kali ini, saya mau share pengalaman saya pas ujian praktek baca puisi.

______________________________

H-4, sepulang les matematika, ngobrol-ngobrol sama temen. Hingga sampailah ke tema ujian praktek.

Me: eh, kamu dah siap buat baca puisi?
T: udah, aku udah bikin puisinya...
Me: udah dapet instrumennya juga?
T: udah...
Me: berapa bait puisinya?
T: sepuluh.. lha kamu?
Me: *mringis* hehe, aku belum persiapan apa-apa
T: gimana kalau kita duet aja?
Me: boleh, boleh!!

Jadilah kami mulai persiapan berdua. Puisi yang udah ada, diedit lagi jadi lebih panjang. Ini dia puisi jadinya:

DIA BERNAMA TAKDIR
karya Amanti Duciel

Sebuah parade kehidupan dimulai

Diuntai cerita demi cerita sesuai skenario

Dalam sepi aku terdiam, terduduk lunglai

Karena tak ada penawaran, dan telah ditetapkan sepanjang rasio

 

Parade kehidupan dimulai

Pita-pita kisah dianyam dengan polaNya

Dalam bingar aku termenung, menghitung hadiahNya

Betapa, kepadaku Pemilik Semesta ini amat baik

 

Di sini, aku sebagai salah satu lakon

Bukan protagonis apalagi antagonis

Kalian dengar! Akulah lakon!

Tak pula si manis ataupun si sadis

 

Tapi…

Inilah aku…

Aku bukanlah seorang napi…

Karena aku hanya seorang bodoh yang menggigit kuku…

 

Sering diri bertanya, “Apa makna eksistensi?”

Dengan limpahan sungai harta penghapus dahaga duniawi

Teruntuk jiwa-jiwa lain, apa sejatinya diri?

Adakah sebagai kurir rizki kepada orang-orang ini?

 

Orang-orang yang terpinggirkan

Yang dicaci, dimaki, dikatai

Yang dicap pemalas, parasit masyarakat

 

Yaaah…

Akulah yang disebut-sebut pemalas…

Tapi aku bukan pemarah

Karena aku hanya bisa mengandalkan satu tarikan napas

 

Orang-orang ini tetaplah manusia

Patut diberi uluran tangan yang mampu

Menghabisi putus asa mereka

 

Saat mentari menghujam terik

Aku menengadah tangan dan menunduk

Jam usang di tangan terus berderik

Menunggu koin demi koin di ujung tanduk

 

Dan tatkala bulan tertutup mendung hitam

Aku meringkuk tak berdaya bagai ulat

Tak pula aku menjadi naik pitam

Karena takdirku tuk dipeluk lalat

 

Di parade ini pula kutemui

Tak sedikit cibiran penuh iri

Kemanisan semu yang terbitkan muak

Keikhlasan yang dipaksa-paksakan

 

Sungguh aku tak minta

Untuk bisa merasai kasur empuk, mengecap santapan lezat

Tapi, pun Dia beri aku semua itu

Dan aku tak menolak

 

Ya Tuhan…

Mengapa hidup ini bagai lingkaran?

Tidak, aku tidak akan menjerit tak tahan

Tapi Tuhan…

 

Bolehkah aku menamai ini nasib?

Atau ini hanya sekedar permainan

Tapi satu Tuhan, yang Kau ajarkan

Episode sabar dan kesyukuran

 

Duhai Tuhan…

Munafiklah hamba bila berkata tak butuh

Namun, adakah ini sebuah ujian iman?

Dengan semua ini, mampukah iman bertahan utuh?

 

Jujur, hambaMu ini penasaran

Akan rasa kehidupan yang lain

Kehidupan penuh ketulusan

Apapun konsekuensinya

 

…saat semua dibalik…

 

Jika kesempatan hadir melepas jubah proletar ini

Ganti dengan sutera bersih lagi wangi

Tak salah bukan?

Jika aku ingin memakainya…

 

Oooh…

Apa ini?

Mungkinkah ini sisi lain dari polaMu, Tuhan?

Memang aku pernah memintanya

Tapi… Tuhan…

 

Bagai melenggang di atas takdir

Tetap indah walau tanpa warna

Tak lagi aku menjadi buah bibir

Dan kuikat mimpi di atas pelana

 

Kutapakkan langkah pertamaku

Di atas tumpukan bau

Inikah yang mereka sebut kehidupan?

Sungguh mengecewakan…

Tempat ini serasa tak berbatas

 

Tak seperti biasa…

Langit sore tergantung senja kali ini

Tanpa perlu aku mengiba

Toh, apa yang ada di hadapanku

Bisa dengan mudah jadi milikku

 

Bulan yang dulu hitam kusebut-sebut

Sebagai dewi malam kini

Tak lagi ia kelam

Karena kini ku bisa melakukan serupa

Dengan apa yang mereka lakukan dulu

 

Di mana ketulusan yang kucari, Tuhan?!

Dunia baru ini sesak dengan

Tatapan sebelah mata, menghina

Betapa kini, hidup terasa perih sekali

Jerih aku merasai lelah

 

Aku lelah, Tuhan!

Apa ini ujianMu yang lain?!

Aku lelah, Tuhan!

 

Aku ingin seperti dulu

Bisakah permintaan kemarin dicabut saja?

Dan kembalikan aku ke masa lalu?

 

Sudahlah…

Hingga titik jenuhku tak kurasa kepuasan

Aku dapat mencaci!

Tapi mereka yang dulu mencintaiku, terus pergi meninggalkanku

 

 

…kita manusia hanya bisa menerima

inilah dia yang bernama takdir…


Keterangan: Amanti Duciel itu nama pena gabungan. Kalau saya dan Titi pakai nama asli, entar kepanjangan. Jadi pakai nama samaran aja lah. Terus, yang font-nya miring itu bagian saya yang baca.

______________________________

H-1, selesai sholat dhuhur, langsung naik ke GS [lantai teratas, gedung utara masjid]. Niatnya mau latihan di situ biar gak ada yang ganggu dan terganggu. Biar bisa lepas teriak-teriak juga. Tapi nyatanyaaa, kita malah asyik merasakan angin yang subhanallah seger bangeeet XD Sampai akhirnya kita baru serius latihan habis asar. Itupun cuma sekali. Malemnya, saya sibuk ngedit instrumen yang mau dipakai pas hari H. Dengan harapan nanti instrumennya itu nggak kependekan ataupun kepanjangan. Jadi pas puisi selesai, instrumennya juga selesai gitu hloo.. 

______________________________

And finally.... It's show time!!! Selasa, 28 Februari 2012... setelah sekali latihan hanya untuk mengepaskan tempo bacaan dengan instrumennya, kami berdua pun maju. Ini nih video rekamannya... [thanks buat Mr. HandyCameraman]




Hari itu, saya nurut aja deh sama Titi buat pakai bando ijo, syal putih-biru, sama gelang warna-warni, walau sebenernya saya nggak pede [warna-warni gitu sih!], haha...

Komentar buat diri sendiri: ekspresi kurang pas, terlalu judes. Keras pelannya suara juga musti dilatih lagi deh kayaknya. Terus, gerakannya juga terkesan ngasal. Kelihatan banget kalau latihannya kurang >.<

... any other comments?

Jumat, 10 Februari 2012

Lebih Dekat, Lebih Dalam

Mengapa bintang bersinar...

Mengapa air mengalir...

Mengapa dunia berputar...

Lihat segalanya..

Lebih dekat...

Dan kau akan mengerti...

[Lihatlah Lebih Dekat -- Sherina]

 

Saya seringkali merasa senang setelah mengobrol dengan teman-teman yang bukan termasuk teman akrab. Lewat obrolan itu, saya bisa lebih mengenal sosok mereka. Bagi saya, itu memang menyenangkan!!

 

Jadi gini, di kelas saya ada beberapa anak cewek yang memang jarang sekali jadi pusat perhatian, bahkan mereka jarang pula kedengeran suaranya di kelas. Tadi siang habis Try Out Biologi dan Kimia, saya berkesempatan ngobrol dengan dua orang di antara mereka. Berawal dari nyocokin jawaban hingga rencana kuliah.

 

Pas nyocokin jawaban, tanpa sengaja salah satu dari mereka [sebut saja si A] membaca coretan saya di lembar soal Biologi. Dia pun bertanya, “Hayooo, ini apaan nih?”

 

Well, sejujurnya coretan itu bisa dibilang personal journal, semacam curahan hati yang biasa ditulis di diary gitu deh. Salah saya juga sih, nulis suatu hal pribadi di tempat yang terbuka untuk umum. Tapi karena udah terlanjur kepergok dan saya gak enak kalau harus merebut lembar soal itu dari si A, maka saya biarkan saja coretan itu dibaca oleh si A dan si B. Saya hanya berusaha terkesan tidak panik dengan mengatakan bahwa coretan itu merupakan ide mentah untuk membuat cerpen.

 

Tanpa diduga-duga, si B malah menyahut, “Oh, kamu suka bikin cerpen toh? Wah, bagus, bagus, aku dukung!! Aku gak pernah bisa bikin cerpen sih…”

 

Nah lho?

 

 

 Si B pun bercerita kalau dia punya temen yang hobi nulis cerpen dan puisi. Bahkan karyanya sudah menghiasi media cetak. “Temenku itu orangnya suka galau. Terus kalau pas galau, dia suka nulis puisi atau cerpen di blognya. Eeee, taunya malah ada yang dimuat di majalah. Jadi dapet uang deh…”

 

Dari sini saya jadi berkesimpulan kalau galau itu gak selamanya jelek. Jika dengan galau kita malah bisa lebih produktif, bisa dapet duit, why not? Haha, kesimpulan macam apa ini -__-“

 

Aku pun jadi penasaran, apa yang dilakukan kedua temanku itu saat mereka terserang galau.

 

“Kalau aku orangnya moody sih… jadi ya tergantung pas galau itu aku pinginnya ngapain..,” jawab si A.

 

“Kalau aku biasanya tidur. Pas bangun, udah lupa deh sama galaunya. Atau kalau nggak, aku belanja,” jawab si B.

 

Sontak jawaban si B ini bikin saya angkat alis, heran. Begitupun si A. Pasalnya, kalau dilihat-lihat, si B itu bukan tipe cewek yang suka belanja [shopaholic].

 

“Iya kok, beneran. Biasanya aku suka belanja roti-roti. Tapi begitu sampai rumah, jadi bingung deh mau diapain. Hehe, kalau dimakan sendiri kebanyakan…”

 

Ealaaaah, ternyata belanjanya belanja amunisi perut toh… Lucu juga. Baru kali ini lho saya ketemu orang unik kayak si B.

 

Ngomong-ngomong soal roti, saya pun jadi ingat temen SMP yang sekarang udah mulai bisnis bakery. Saya ceritakan sosoknya pada si B [yang dulu emang nggak se SMP sama saya] dan si A [yang gak pernah sekelas sama temen saya itu di SMP].

 

Cerita selesai, si B pun angkat suara lagi, “Aku tuh sebenernya pingin jadi koki, pingin bikin kue-kue gitu. Tapi aku takut sama api.”

 

Nada bicara dan mimik wajah si B yang sarat akan kepolosan itu, untuk kesekian kalinya, berhasil mengundang tawa saya. “Sekarang kan gak musti pake kompor.. udah ada microwave kan, hehe,” sahutku asal.

 

Yah… itulah sekelumit ceritaku soal obrolan tadi siang. Obrolan yang membawaku lebih dekat dengan si A dan B. Obrolan yang membantuku untuk lebih mengenal sosok mereka. Mempererat ukhuwah yang sudah ada dan menjalankan silaturahim.

 

Kata mbak Murobiyahku, silaturahim itu menyehatkan. Kalau dipikir-pikir, bener juga sih. Saya kalau habis ketemu dan berbagi cerita sama temen lama ataupun setelah saling menjajaki dengan teman baru rasanya tuh seneng dan tambah semangat beraktivitas. Dan bukankah perasaan kita itu berpengaruh pada kesehatan fisik kita? Iya kan….? ^^

Sabtu, 04 Februari 2012

Video Mini WG




WG = Wedhuss Gembel = We are Dhuabelas Science Satu Gemar Belajar...

Yeah... hanya secuil kisah ditahun terakhir putih abu-abu...

Keterpaksaan untuk lebih serius belajar membuat sisi kenarsisan kami terkikis. Walhasil, walau sudah satu semester berlalu, gak ada stock foto tambahan yang bisa dijadiin video :[

Moga aja deh sebelum acara perpisahan kita bisa bikin video WG, sekedar untuk kenangan akan masa saat kita berjuang bersama :D

Jumat, 27 Januari 2012

KOLOID: Aku dan Kamu

Aku dan kamu itu beda, tentu saja. Aku ini sering nggak jelas, nggak ngerti apa yang kuinginkan sebenarnya. Kamu tahu pasti apa yang kau inginkan. Aku tidak terlalu erat memegang prinsip, sering bersikap lunak dengan dalih toleransi, bahkan pada diri sendiri. Kamu sangat teguh memegang prinsipmu, tak peduli apakah prinsipmu itu bersebrangan atau tidak dengan prinsip orang lain, prinsip tetap prinsip. Aku lebih sering mempertimbangkan perasaan orang yang kuajak berinteraksi walau aku tak sependapat dengan dia. Kamu lebih mementingkan pemikiran dan cara berpikir orang lain ketimbang perasaannya. Hehe, bahkan terkadang kata-katamu menyentil ego dan emosiku.

 

Masih banyak lagi beda di antara kita. Tapi aku nggak akan menghabiskan waktu untuk menuliskannya satu per satu. Aku hanya berpikir, sepertinya persahabatan kita ini seperti koloid ya? :)

 

Sekalian ngulang materi kelas XI buat persiapan UN + SNMPTN… Koloid itu bukan larutan, bukan juga suspensi. Secara makroskopis, koloid tampak homogen. Tapi mikroskopisnya sebenarnya heterogen. Partikel-partikel diskontinue (disebut fase terdispersi) nggak bercampur dengan partikel-partikel kontinue (pendispersi) tapi juga nggak terang-terangan memisahkan diri membentuk endapan. Ya, seperti kita selama menjalani persahabatan ini, kita tidak pernah jadi homogen. Buktinya masih banyak perbedaan di antara kita. Namun, keheterogenan kita belum mampu merusak ukhuwah ini, dan semoga tak akan pernah mampu.[aamiin]

 

Meski demikian, aku masih belum bisa menentukan siapa yang terdispersi dan siapa yang pendispersi di antara kita berdua :) Aku juga belum menentukan nama koloid kita: apakah aerosol, sol, sol padat, emulsi, emulsi padat, buih, atau buih padat? Atau kita namai koloid kita ini dengan nama yang belum pernah ada di dunia perkoloidan? Ada usul? X)

 

Kamu ingat kenapa koloid bisa stabil? Ya, salah satunya karena ada gerak Brown. Molekul-molekul dalam koloid terus bergerak dan bertumbukan. Tapi sekali lagi, tumbukan ini tidak akan mencampurkan (menggabungkan, menghomogenkan) molekul-molekul yang ada sehingga tidak akan terbentuk larutan ataupun suspensi. Gerak Brown inilah yang menyebabkan partikel-partikel dalam koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi (tidak mengendap). Jadi, walaupun kita ini banyak bedanya, kita tetap mesti sering-sering interaksi yaa? Biar koloid kita langgeng :)

 

By the way, koloid kita ini termasuk hidrofil atau hidrofob ya? Gimana kalau hidrofil aja? Kita berdua suka air kan? Hehe… soalnya koloid hidrofil itu nggak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit. Koloid hidrofil ini juga bersifat reversibel, yaitu kalau zat terdispersi dan pendispersi terlanjur berpisah, mereka bisa disatukan lagi dengan menambahkan air.

 

Aku bersyukur bisa berkawan dengan kamu. Sudah dari sananya kita ini berbeda. Dan meski banyak perbedaannya, aku sungguh berharap koloid kita bisa bertahan selamanya :)


Senin, 12 Desember 2011

S.K.Y




"Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung di permukaan bumi agar ia tidak menggoyangkan kamu..." [QS Luqman 10]

Beberapa hari kemarin, langit Solo begitu indah. Cerah, sampai-sampai gunung Lawu di timur dan gunung Merapi serta Merbabu di barat sering terlihat jelas.

Saya suka langit. Langit pagi yang biru tanpa awan. Langit siang dengan awan-awan tipis ataupun tebal. Langit sore bersemburat cantik. Langit malam yang bertabur bintang.

Dan ternyata, teman saya juga suka langit, utamanya saat sang surya baru saja bangun ataupun hendak beranjak tidur.

eniwei... ini beberapa foto langit yang pernah ter-capture oleh kamera mami, Canon PowerShot A495 [dengan pengeditan seperlunya]

Sabtu, 03 Desember 2011

Obati hatimu!!


"Apa kamu puas? Membalas sakit hati dengan sakit hati?"

Teruntuk seorang kawan...
Aku rindu tawamu, candamu, kekonyolanmu, semua tentangmu. Saat ini, kamu sama sekali berbeda. Bahkan aku merasa asing denganmu.

"Aku sedang sakit hati." Hanya itu kata-katamu yang kurasa bisa kujadikan clue tentang perilakumu yang tak biasa. Kau juga beri tahu aku orang yang telah menyakiti hatimu. Namun, kau tak mau mengatakan: dengan apa orang itu menyakiti hatimu?

Itulah yang membuatku kesulitan menentukan sikap untuk menghadapimu. Apa sebenarnya yang telah membuatmu sakit hati? Apa pula alasanmu mengambil tindakan ekstrim seperti ini sebagai iritabilita? Apakah karena dendam? Ataukah kau hanya takut lebih tersakiti lagi? Atau...?

Berhari-hari aku bergumul dengan beberapa hipotesa. Hingga sekarang pun belum bisa kupastikan hipotesa mana yang benar.

Jika kau takut hatimu lebih tersakiti lagi, aku ingin ucapkan ini padamu: selama kita hidup bersama orang lain di dunia ini, jangan pernah berharap kita bisa lepas dari "garis-garis singgung" yang menyakitkan. Karena setiap orang pasti pernah lupa dan khilaf. Dan karena setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sensitif di mana ia sangat rentan dan rapuh sehingga belaian akan terasa seperti cakaran.

Maka, pandai-pandailah merawat hatimu sendiri.

Jika motifmu adalah dendam, aku ingin ingatkan kamu:

"Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebil baik bagi orang yang sabar."
[QS An Nahl 126]

Bersabar itu lebih baik. Melupakan dendam itu lebih sehat bagimu, lebih menguntungkanmu.

"Jika mata dibalas dengan mata, maka dunia akan buta"
[Mahatma Gandhi]

"Darkness cannot drive out darkness, only light can do that. Hate cannot drive out hate, only love can do that."
[Martin Luther King, Jr]

Ayolah kawan...
Kalaupun sekarang kau merasa puas, kepuasanmu itu semu belaka.

Ayolah kawan...
Obati hatimu. Jangan biarkan lukanya membusuk, menyebabkan infeksi. Kamu lebih tahu kondisi hatimu daripada aku. Maka aku hanya bisa berusaha membantu dan mendoakanmu.

Cepat sembuh ya, Kawan... :')
Miss you...

Kamis, 10 November 2011

Kamis ke Kamis

Akhir-akhir ini, rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin hari Kamis, sekarang sudah Kamis lagi. Rasanya baru kemarin libur, sekarang udah libur lagi. [sekilas info: sekolah saya liburnya hari Jum'at].

Namun hari-hari yang berlari itu tetap memberi kesempatan kepada banyak kejadian mengesankan, kalau kita memperhatikan. Sayangnya, seringkali kita tidak mempedulikan kejadian-kejadian itu. Apa yang saya alami ini salah satu contohnya...


Kamis, 3 November 2011

Seperti biasa, begitu bel jam 7 berdering, semua siswa masuk kelas, berdoa, dan mengaji. Jadwal pertama untuk hari Kamis adalah Sejarah. Bunda Guru Sejarah orangnya ramah, senyum selalu hadir di wajahnya. Bahkan ia juga tetap membagi senyum ramahnya kepada seorang siswi yang agak terlambat masuk kelas pagi itu. Ia pandai bercerita. Ia tipe guru yang menghendaki siswanya belajar secara aktif, tidak hanya duduk diam mendengarkan terus-menerus. Ia selalu mengajak siswa berdiskusi. Ia selalu menghargai jawaban apapun yang dilontarkan para siswa untuk menjawab pertanyaannya. Kelas menyenangkan, berakhir tanpa PR dan saya yakin semua siswa -- seperti saya -- tidak berpikir bahwa pelajaran Sejarah ini ikut berakhir juga seiring dengan berakhirnya kelas pagi itu.

Kamis, 10 November 2011

66 tahun lalu, ada pertempuran besar di Surabaya hingga akhirnya tanggal 10 di bulan November ini ditetapkan sebagai hari Pahlawan. Dan ternyata, 66 tahun setelah pertempuran itu, saya dan teman-teman harus merasakan kehilangan sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang kami sayangi. Orang yang ramah dan murah senyum. Ya, dia Bunda Guru Sejarah kami. Semua orang tahu bahwa datangnya ajal tidak bisa diprediksi. Ajal bisa tiba kapan saja. Meski demikian, saya yakin hampir semua orang akan kaget bila mendapati orang terkasih mereka telah dijemput ajal. Begitupun saya dan teman-teman. Kami merasa kehilangan sosok Bunda Guru Sejarah. Saya merasa kehilangan sesi-sesi kelas Sejarah yang menyenangkan bersama Bunda Guru. Berlebihan mungkin, tapi sesi-sesi itu saya rasa tak akan tergantikan oleh siapapun. Kalaupun ada Guru yang lebih baik, yang bisa membuat pelajaran Sejarah lebih menyenangkan daripada Bunda Guru, tetap saja sesi-sesi itu takkan tergantikan. Karena mereka telah terlanjur terukir indah di atas batu terkeras, atau di atas baja terkuat.


Begitulah... Dari Kamis ke Kamis, yang saya rasa berjalan begitu cepat, ternyata dapat menimbulkan suatu kehilangan yang besar. Hari-hari yang pernah dilalui bersama Bunda Guru jadi lebih berarti dan sangat perlu disyukuri.


Allahu rabbiy, ampunkanlah dosa-dosanya, terangi alam kuburnya, lapangkan ruang barzakhnya.. aamiin


-- in memoriam Mrs. Rachmi Prih Utami --

Jumat, 28 Oktober 2011

Dongkrak Percaya Diri

"Bagaimana perasaanmu?"

"...tak kupungkiri, aku senang. Namun percayalah padaku, ada terselip rasa tak enak hati selalu..."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau tahu kan, di luar sana banyak sekali yang berharap untuk bisa menyamai langkahmu?"

"...entahlah. Aku ini bukan orang yang pandai bergaul. Aku ingin membantu mereka. Namun aku selalu saja merasa kurang percaya diri untuk sekedar mengulurkan tangan, menggenggam tangan mereka untuk kuajak berlari bersama. Aku takut menerima penolakan, walau belum pasti jua aku akan ditolak. Aku hanya berani menggenggam tangan mereka yang telah secara langsung memanggilku. Karena bersama mereka, pasti tidak akan ada penolakan..."

"Lakukan saja! Beranikan dirimu untuk mendahului mengulurkan tangan. Kalaupun mereka menolak menggenggam tanganmu, biarkan! Yang penting kau telah berinisiatif menolong."

"....."

"Lakukan saja!"

"...akan kucoba, Insya Allah..."




Do whatever you wanna do, as long as it is good for you and others and it doesn't oppose His rules.


Pagi hari Jum'at
83 tahun pasca Soempah Pemoeda
semoga aku dan pemuda Indonesia bisa membawa perubahan yang baik
untuk Indonesia

PS. terpaksa mengundurkan deadline yang telah ditetapkan sendiri, tapi saya janji, ini kali terakhir saya mengundurkan deadline...!!!

13 days remain...

Sabtu, 01 Oktober 2011

Mindset

[...buat para pembaca blog saya, baik yang di Multiply ini maupun di Blogspot, saya harap kalian tidak bosan membaca tulisan saya akhir-akhir ini yang didominasi tema galau ala anak SMA tingkat akhir plus motivasi-motivasi dari saya untuk saya maupun teman-teman seperjuangan...] #sokpunyapembacasetia

Alhamdulillah :) satu minggu telah berlalu lagi :)

Minggu ini sama kayak minggu kemarin: masih banyak tugas, banyak ulangan, daaaaan..... remidi buat yang nilai ulangannya belum mencapai KKM! Minggu ini, mungkin sama stress nya kayak minggu kemarin. Tapi minggu ini, jam tidur saya lebih banyak daripada minggu kemarin. Yeaaahh, walau banyak ulangan, bukannya banyak-banyakin belajar saya malah banyak-banyakin tidurnya, heheh :P ... Entahlah, sepertinya gaya tarik yang dilakukan kasur saya lebih besar daripada gaya yang saya lakukan untuk menjauhi kasur, jadi arah resultan gayanya ya ke kasur X)

Kali ini, saya mau cerita soal temen-temen saya yang sedang beruntung karena mendapat perhatian dari saya [emang siapa elo?!]... Walaupun mungkin mereka nggak ngerasa kalau sedang saya perhatikan, coz saya merhatikannya secara diam-diam [mungkin lebih tepat disebut spying daripada memperhatikan]

Buat temen-temen yang saya jadikan bahan omongan di entry ini, harap diikhlaskan ya? Sama sekali tak bermaksud membuka aib kalian. Hanya ingin menuliskannya supaya bisa diambil hikmahnya oleh banyak orang :) Ya? Ikhlas yaaa? Makasih sebelumnyaa :)

Jadi gini... minggu ini, ada dua orang teman yang berhasil menyita perhatian saya...

Temen 1
Setelah baca notes FBnya barusan aku jadi tahu alesan kenapa dia pingin jadi dokter. Aku jadi tahu juga kalau dia udah berusaha mati-matian buat suka sama yang namanya BIOLOGI [mapel wajib buat yang mau jadi dokter] tapi nilai biologinya selalu gak mencapai target yang sudah ia tetapkan sendiri. Aku juga jadi tahu kalau dia suka gak percaya diri gara-gara ngerasa bahwa dia belum bisa ngebanggain ortu, padahal sodara-sodaranya udah pernah ngebanggain ortu dan mengharumkan nama keluarga. Minggu ini dia juga harus ikut remidi biologi.

Temen 2
Sejauh yang aku perhatikan, dia kelihatan kalem-kalem aja. Tapi ternyata dia juga terserang stress akut minggu ini. Puncaknya adalah dia nggak mau masuk sekolah. Katanya di status FB sih, dia bolos gara-gara gak mau ketemu ulangan matematika dan fisika hari itu. Dia ngerasa belum siap ikut ulangan. Dia nggak mau ikut remidi. Jadi dia lebih pilih ikut ulangan susulan aja deh...

Hmmmm #tariknapasdalem

Gimana cara memotivasi mereka yaa? Rasanya, saya ingin sekali jadi teman baik buat mereka. Yang bisa diajak sharing dan memberi motivasi. Tapi saya ini orangnya gampang bingung. Kalau saya dihadapkan pada seorang kawan yang curhat panjang lebar disertai derai air mata, maka saya hanya mampu terdiam. Maksimalnya, paling hanya beberapa patah kata [yang itu-itu aja] yang mampu saya ucapkan untuk memotivasinya. Saya bingung, saya harus bersikap bagaimana?

Dan saya pun teringat pada sebuah nasyid yang disenandungkan oleh Tiar, judulnya Tak Ada Beban Tanpa Pundak... Silakan disimak dulu... :)


Yaa... Tiada beban tanpa pundak. Allah, sebelum mengamanahkan suatu beban kepada hambaNya, pastilah Ia sudah menganugerahi hamba itu dengan 'pundak' yang mampu menanggung beban tersebut. Simpelnya, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Mengenal setiap hamba, jadi Ia tahu kemampuan masing-masing hamba dan Ia tak akan memberikan beban yang melebihi kapasitas kemampuan kita. Kita pasti mampu mengatasi beban itu.... :)

Buat temen 1, temen 2, dan temen-temen yang punya problem sama, aku sarankan: ubah MINDSET kalian. Terutama dalam menghadapi pelajaran.

Apa itu MINDSET?

Mindset adalah cara kita memandang sesuatu; pola pikir kita terhadap sesuatu. 'Sesuatu' dalam konteks ini adalah PELAJARAN SEKOLAH.

[+] Jangan pernah mengatakan suatu pelajaran itu sulit! Karena dengan begitu, tanpa kita sadari kita telah membentuk Mindset negatif terhadap pelajaran itu. Sebaliknya, katakanlah bahwa pelajaran itu menantang dan butuh perhatian khusus. Lalu sediakanlah kesabaran extra untuk memahaminya.

[+] Angka nilai itu tidak selalu mencerminkan tingkat kefahaman seseorang. Jadi, sebaiknya buang jauh-jauh niat belajar untuk dapat nilai bagus. Ganti dengan niat belajar untuk memahami pelajaran itu sendiri. Nggak gampang juga sih, untuk meluruskan niat seperti ini... Tapi tetep harus dicoba :)

[+] Coba juga PDKT sama guru. Mungkin nggak semua guru cocok dengan kita, sehingga kita kerap bingung kalau diajar sama guru itu. Tapi PDKT di sini jangan diartikan sama dengan cari muka lho yaa... Maksud saya, kita jalin hubungan yang baik dan akrab dengan guru. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya kalau diberi kesempatan bertemu. Tanyakan materi yang dirasa belum jelas, hingga kita paham.&nbsp;

[+] Kalau guru sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tapi kitanya masih belum ngeh juga soal pelajaran itu, nggak ada salahnya tanya lagi ke orang lain yang lebih faham. Bisa tanya ke temen atau guru les. Kalau nggak ya tanya ke Prof. Google, hehe... Pokoknya kita musti aktif deh, nggak boleh pasif.

[+] Keep praying! Mohon sama Allah supaya diberi hidayah, dibukakan akal dan pikiran untuk memahami suatu pelajaran itu. Dan senantiasa berpositive thinking kepadaNya, bahwa Dia pasti beri kita yang terbaik...


Semoga dapat memotivasi :)






Jum'at 30092011...
30 days remain...

Kamis, 22 September 2011

Jangan Mengeluh... Usahakan!

image taken from here

Bismillah :)

Kehidupan ku mulai berubah. Gak ada lagi waktu buat leha-leha. Yang ada adalah tugas, ulangan, laporan praktikum, karya tulis, dan 12th grader thingy lainnya. Semua bermula semenjak Negara Api menyerang... eh hlo? Maksudnya tadi pingin nulis semenjak liburan Idul Fitri berlalu, hehehe...

>>>Tugas n Ulangan
Ini sih emang menu wajib buat anag sekolah. Tapi, rasanya beda aja gitu. Guru-guru serba ngebut ngasih materi. Tau-tau udah ulangan aja. Siklus 'belajar-ngerjain tugas-ulangan' buat satu bab jadi terasa cepat sekaliii

>>>Laporan Praktikum
Kalau ini menu wajib buat anag IPA :) Fufufufu... dan meski saya sudah satu tahun lebih jadi anag IPA, saya masih merasa kikuk dan sering salah pas praktikum. Seringkali langkah kerjanya nggak saya baca dan pahami hingga detail. Seringkali juga saya nggak neliti dulu data apa aja yang mesti dicari lewat praktikum itu. Jadilah saya bingung sendiri saat membuat laporannya...

>>>Karya Tulis
Sebagai syarat mengikuti Ujian Nasional. Hmph... Semacam skripsi gitu deh... Deadline nya masih pertengahan November sih, tapi target saya, tanggal 1 November harus udah kelar! Mohon doanyaa ^^

Selain hal-hal di atas, anag-anag kelas 3 juga udah harus mulai cari info seputar kuliah. Dan ini bikin galau... yeahhhh. Ada yang merasa seperti dipaksa orang tuanya buad kuliah di fakultas tertentu. Ada yang pingin masuk fakultas tertentu, tapi ngerasa nggak capable. Ada juga mungkin yang belum punya keputusan mau lanjud kuliah di mana...

Stress gilaaaa.... Astaghfirullahal'adzim... >.<

Ada beberapa temen yang udah mulai tampak labil emosinya. Semangatnya sebentar naik, lama turun [maksudnya lebih sering gak semangat]. Nggak bisa nahan air mata buat gak tumpah.

Aku sendiri juga merasa berat. Minggu ini, aku sudah mulai mengurangi waktu tidurku. Aku juga sudah mulai mengoptimalkan waktu yang ada buad menyelesaikan semua tugas tepat waktu. Seringkali terserang ngantug berat di sekolah [yang saya atasi dengan minta tolong temen semeja nyubit punggung tanggan saya, lumayan manjur juga] dan kantong mata jadi item.

Tapi aku akan berusaha untuk tidak mengeluh...

Karena jika mengeluh, semuanya jadi sia-sia...

Yang terasa berat, akan semakin terasa berat. Yang tadinya jika dilakukan tanpa keluhan akan mendapat nilai pahala, gara-gara mengeluh pahalanya jadi di cancel atau minimal di diskon. Capeknya jadi dobel: capek ngejalanin plus capek ngeluh.

Makanya jangan mengeluh... :) Budayakan jangan mengeluh...

Keep S.M.I.L.E ... positive thinking... jalani saja... don't FEEL it, just DO it... Insya Allah, we'll find our way...

Kamis, 15 September 2011

=) FOR US (=

"Koq kamu bisa semangat banget sih?"

"Ada motivasi tersendiri, koq.. hehe"

"Bagi tips dong...? Aku koq males-malesan terus gini yaa...?"

"Hmm, emangnya kamu gak punya motivasi? Apa tujuan hidupmu? Apakah dengan bermalas-malasan tujuan hidupmu itu akan tercapai? Kamu gak pingin masuk surga? Jangan males-malesan dooong... :D"

"Menurutmu, penyebab rasa malas itu apa?"

"Kayaknya itu relatif deh... tiap orang beda-beda"

"ooooh"

"Jika kau bersikap lunak kepada dirimu sendiri, maka dunia ini akan keras terhadapmu. Jika kau bersikap keras kepada dirimu sendiri, maka dunia akan terasa lunak bagimu."

"Oke deh... I'll try... Moga aja bisa"

"Harus bisa dooong.. gak boleh pesimis... :D"

~~~~~~~~~

Selasa kemarin, di tengah-tengah pelajaran bahasa Indonesia, saya dapat kata-kata bagus nih...

"Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat"
[Cerdas Berbahasa Indonesia untuk SMA kelas XII, halaman 115]

Cocok !!!

Cocok dengan apa yang saya yakini. Saya percaya bahwa setiap manusia itu punya potensi luar biasa. Setiap manusia dapat memperoleh apa yang diinginkannya asal mau berusaha dan berdoa.

Kalau kita pernah mewujudkan 'kejayaan' di masa lalu, maka sekarang pun kita pasti bisa meraih 'kejayaan' sejenis, atau bahkan 'kejayaan' yang lebih jaya lagi.

Mungkin kita pernah merasa kurang percaya diri dengan kemampuan yang kita miliki. Kita pun bebas untuk memilih cara menanggapinya: mengiyakan saja atau menjadikannya motivasi untuk upgrade diri.

Pilih yang mana? 

Yang pertama...? Berarti kita hanya tinggal menerima 'kenyataan' bahwa kita kurang mampu. Kenyataan yang sebenarnya [mungkin] tidak nyata, mengingat kita punya potensi dahsyat.

Yang kedua...? Berarti kita harus berusaha untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa penilaian kita selama ini keliru. Bahwa ternyata kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita impikan, yang dulu hanya berani kita impikan. Tak pernah kita berani, bahkan untuk sekadar membayangkan impian itu berhasil kita jadikan nyata. Dulunya...

Kalau menurut saya pribadi.. Pilihan yang kedua lebih keren, hehe :D

~~~~~~~~~

"Jangan menganggap remeh diri sendiri karena setiap orang memiliki potensi yang tak berhingga"
[Perspektif Matematika 3, halaman 54]

~~~~~~~~~

Kudedikasikan untuk semua yang membaca entry ini...

Dan untuk seorang teman...: Yakinlah bahwa kamu bisa !! Karena aku sendiri yakin bahwa kau bisa... Bukankah kita ini pernah berdiri bersama dengan predikat juara yang sama? Lalu, kenapa kau kini biarkan aku sendiri mempertahankan predikat itu? Kenapa kau enggan untuk kembali merasakan kejayaan masa lalu itu? Adakah kemudharatan di dalamnya? Bahkan kau terkesan pesimis setiap kali kulihat akan melangkah...

Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi yang menulis dan yang membaca. Ingat, kita baru bisa berleha-leha setelah kita berada di SURGA, jannatillah... :D

Minggu, 31 Juli 2011

untuk seorang teman

image taken from here

Bahkan, orang seperti dirimu pun, yang gagah, yang garang, yang tampak tegas dalam bersikap, pernah menghabiskan hari-hari untuk menangis. Saat kau merasa sendirian, tanpa kawan yang dapat menolong. Saat kau merasa begitu kecil untuk amanah yang dibebankan di pundak bidangmu. Saat kau tak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat kau tak tahu harus melakukan apa.


Namun, tangisanmu yang kumaksud ini sudah berlalu, jauh berlalu. Kini, entah seperti apa sejatinya dirimu.


Adakah kepalsuan di setiap tawa lepasmu kemarin? Benarkah saat ini kau sedang baik-baik saja, tanpa beban pikiran yang meresahkan?


Mungkin kau tak tahu bahwa aku tahu mengenai hal ini. Kau mungkin juga tak menyangka bahwa aku akan mempedulikanmu. Tapi, justru kamu sendiri yang seakan memancing penasaranku, sehingga aku mencari tahu lebih tentang dirimu.


Dan, sekalinya aku menemukan satu hal saja, rasa ibaku terbit untukmu.... Aku tak pernah mengira bahwa kau adalah orang yang rapuh. Sungguh tak pernah.


Aku. Kasihan. Sama. Kamu.




Hanya beberapa untai kalimat yang mampu kukeluarkan dari hati yang sedang dilanda gulana, tentang seseorang yang "aneh", yang sudah berhasil memancing penasaranku...

Kamis, 26 Mei 2011

[Personal Journal] Manusiakan Aku!

"Aku hanyalah manusia biasa yang mengejar pencapaian terbaik. Dan kuakui, aku beruntung karena sering mencapai posisi terbaik [menurut kalian]. Tapi, kuingatkan kalian, I’M STILL HUMAN. Special thanks untuk kalian yang menyadari itu dengan tidak menyuarakan hal-hal yang membuatku merasa aku bukan manusia."
[heraminerva.tumblr.com]

"Masak sih kamu salah?" atau "Kamu pasti bener deh." atau "Kamu aja salah, gimana yang laen? Pasti lebih parah."

Bagaimana sikapmu jika mendengar kata-kata itu diucapkan oleh teman-temanmu? Padahal saat itu kamu sedang sangat yakin bahwa kamu baru saja melakukan kesalahan? Bagaimana sikapmu dalam menghadapi orang yang telah asal menilai kamu tanpa mengenal kamu yang sebenarnya? Parahnya lagi jika penilaian mereka itu terlalu tinggi sehingga dapat membuatmu melambung sombong untuk lantas terjun bebas saat menyadari realita... Bagaimana perasaanmu?

This life is full of possibility. And I'm just an imperfect human with many mistakes. Even the Genius makes mistakes.

"I make mistakes like the next man. In fact, being--forgive me--rather cleverer than most men, my mistakes tend to be correspondingly huger."
[Albus Dumbledore]

To make a mistake is human. Jadi, saat kita menyatakan ketidakyakinan bahwa seseorang telah berbuat salah, secara tidak langsung kita telah meragukan eksistensinya sebagai manusia [in theory]. Begitupun sebaliknya, saat kita yakin sepenuhnya bahwa kita tidak mungkin melakukan kesalahan, berarti kita telah mengingkari kodrat kita yang sesungguhnya, kita telah bersikap takabbur. Na'udzubillahi min dzalik.



...to my friends... I do have lacks... have mistakes... so, please Manusiakan Aku! Thank you...

Rabu, 20 April 2011

[ALASKA] Lagi-lagi Tentang ELIPS

Ini lanjutan postingan saya yang ini...

Kan saya udah janji buat upload foto si Ridho yang bermesraan dengan dua kawan jenis yang berbeda... ini nih fotonya...

Perhatikan dua cowok yang duduk di depan itu. Yang lagi pegang piring jeruk itu namanya Fathan. Cowok yang ngerangkul dia dari belakang itulah yang bernama Ridho. Ckckck

Kalau di foto yang ini, Ridho yang di belakang sono... yang lagi suap-suapan sama Diorizky. Ckckck... mesranya...

Hahahaha...

Nih, ada foto-foto lain lagi dari ELIPS.... Foto-foto seratus persen candid. Coz modelnya lagi tidur, jadi gak tau deh kalau di foto.... Ckckck, di kelas malah pada bobok...



ealah elips... elips...