Tampilkan postingan dengan label college. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label college. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Habis Ini

Haloo :)

Sebenernya saya sedang nggak tau pengen ngapain (lagi-lagi). Posisi sudah di kampung halaman, jauh dari hiruk-pikuk dan dinginnya Bandung. Beberapa topik sudah menjejali sticky notes yang saya khususkan untuk mencatat ide untuk ditulis ke dalam blog. Tapi rasanya saya masih saja bingung harus mulai menulis dari mana...

Ya udahlah yaaa... saya mulai nulis aja :3

Jadi, sudah 6 mingguan ini saya mencicipi hal baru: dunia kerja. Hari di kantor diawali pada jam 8 pagi, diakhiri pada jam 5 sore. Jeda satu jam di siang hari, dari jam 12 sampai jam 1. Demikian setiap hari. Pada jam kerja, hal yang saya lakukan adalah duduk di depan laptop, mengembara di internet untuk mencari solusi, mencoba solusi dari internet, kalau satu solusi gagal beralih ke solusi lain. Begitu seterusnya. 

Jujur, saya pernah terserang rasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. No life. Sepulang kantor merasa sudah powerless, energi habis, pengen langsung istirahat. Kalau kayak gini terus-terusan, kapan saya bisa melakukan hal lain selain kerjaan kantor? Bagaimana nanti kalau saya sudah berkeluarga? Apakah bakal sempat ngurus keluarga kalau tiap hari waktu habis buat kerjaan kantor? Saya pun bertekad, kalaupun nanti akan bekerja, saya ingin pekerjaan yang fleksibel. Intinya pekerjaan yang tetap memberi saya keleluasaan untuk melakukan hal-hal lain.

Lalu suatu hari, orang kantor ada yang membagikan suatu link di Slack. Silakan klik di sini untuk membaca artikelnya.

Setelah membaca artikel itu, saya merasa tergelitik. Kebetulan saya lumayan berminat pada bidang Basis Data dan di kantor juga sedang menggunakan teknologi AWS. Namun selama magang ini, saya belum berkesempatan untuk bersinggungan langsung dengan data yang sangat besar dan tuntutan accessibility yang tinggi. Begitu membaca artikel tersebut, saya jadi tertarik dengan term baru: database engineer. Sepertinya keren B)

Setelah membaca artikel itu juga, naluri kepo saya terpanggil, wkwk. Saya tidak lantas menutup tab browser yang menampilkan artikel itu dan kembali ke kerjaan. Saya malah ngulik-ngulik web tersebut dan iseng mengunjungi Careers site-nya. Dan, whoaa.... entah kenapa saya tertarik untuk sekilas mencari tahu tentang posisi Software Engineer di Pinterest. Di antara macem-macem posisi Software Engineer, ada Data Scientist dan Data Engineer juga. Syaratnya harus PhD dong minimal :3 hahaha, padahal selama ini saya kira Master aja udah cukup.

Nggak berhenti di situ, saya malah jadi kepo kantornya Pinterest. Saya googling "Pinterest office tour" dan membuka link teratas. Well, saya jadi pengen kerja di sana...

Saya pun jadi teringat Tumblr. Saya juga jadi kepo kantornya Tumblr. Kirain Tumblr juga bermarkas di the so called Silicon Valley, ternyata enggak. Kantornya Tumblr itu ada di New York. Kantornya juga keren :3

Kenapa saya tertarik kerja di dua tempat itu? Karena saya sedang suka menggunakan produk dari keduanya: saya suka buka Tumblr walau sekedar scroll dashboard, saya suka buka Pinterest walau sekedar browsing randomly. Rasanya asik aja, kalau selain menjadi pengguna (user), kita juga berkesempatan untuk berkontribusi dalam mengembangkan produk yang kita sukai itu.

Jadi, enaknya habis kuliah S1 ini saya ngapain ya...?



Solo, 13 Juli 2015
...maaf kalau tulisan ini pointless haha

Minggu, 07 Juni 2015

KP Ceciwi UrbanIndo 1: The Beginning

Mau Kerja Praktik (KP) di mana?
Itulah pertanyaan yang mulai sering muncul di benak saya akhir tahun 2014 lalu. Mulailah tanya-tanya ke kakak tingkat soal KP. Baca-baca cerita KP mereka di blog juga. Dan, berbekal keinginan tidak mau KP sendirian, saya mulai cari teman buat diajakin barengan kalau mau daftar KP: Icha dan Afik. Kami bertiga pun mulai mencoba mengirimkan CV ke beberapa perusahaan dan mendaftar program Global Internship di GIST, Korsel. 

Bulan demi bulan berlalu dan belum ada kemajuan dalam menjawab pertanyaan tadi. Belum ada panggilan wawancara dari perusahaan yang sudah dikirimi CV. Nggak begitu yakin juga bakal lolos seleksi ke GIST. Sampai akhirnya dapet info dari seorang teman kalau UrbanIndo ada lowongan magang. Kami bertiga pun langsung kirim CV ke sana.

Wawancara
Beberapa hari kemudian kami bertiga dipanggil buat interview di UrbanIndo. Kami diwawancara di tempat terpisah dalam waktu yang bersamaan. Pewawancaranya ada 3 orang, ganti-gantian. Pertanyaan yang diajukan saat interview ya standar lah: diminta memperkenalkan diri, ditanya beberapa hal berkaitan dengan info yang kita cantumkan di CV, dan karena kerjaan di UrbanIndo berhubungan dengan web jadi ditanya soal dunia per-web-an dan per-internet-an juga (materi-materi kuliah WBD, Sister, Basdat).

Pra-KP
Sekitar seminggu setelah interview, kami bertiga dipanggil lagi ke kantor UrbanIndo. Alhamdulillah, pada pertemuan itu kami diberi tahu kalau kami diterima KP di sana. Kami pun diminta mengisi biodata dan ditanya mau mulai KP kapan sampai kapan. Selain itu, kami juga langsung mendapat briefing mengenai tugas yang akan di assign ke kami saat magang nanti. Dan sebagai tindak lanjut dari briefing itu, kami diminta membuat dokumen perencanaan pengerjaan tugas tersebut.

Beberapa hari setelah mengumpulkan dokumen yang diminta, kami mendapat tugas untuk mengeksplor beberapa teknologi: Spring Boot, Lumen, dan Protocol Buffer.

Beberapa minggu setelahnya, kami dipanggil lagi ke kantor untuk briefing. Ada perubahan tugas untuk intern ternyata. Yang semula kami diminta untuk membuatkan fitur newsletter, push notifications, dan social dashboard diganti dengan user contact verification, dynamic image resizer, dan unit and functional testing untuk Yii2. Kami di-brief mengenai teknologi-teknologi yang akan kami gunakan dalam mengerjakan tugas tersebut. Lalu, masing-masing kami diminta memilih satu tugas. Saya memilih untuk mengerjakan user contact verification, Afik dynamic image resizer, Icha unit and functional testing.

Hari pertama ngapain?
Sampai malam Senin, kami belum punya gambaran mengenai apa yang akan kami lakukan di kantor pada hari pertama. Biasanya kan (kalau baca-baca dari blog KP angkatan atas) hari-hari pertama tuh isinya pengenalan lingkungan kerja dan penjelasan mengenai pekerjaan yang harus dilakukan. Lhah, masalahnya kami sudah diajak keliling kantor saat briefing beberapa bulan lalu. Kami juga sudah diberi tahu pekerjaan yang harus kami kerjakan beserta teknologi-teknologinya. Jadi, hari pertama kami ngapain dong? Ini bikin saya lumayan takut menghadapi hari pertama...


to be continued..

Bandung, 7 Juni 2015
...9 weeks to go

Jumat, 24 April 2015

Karena Orang Lain

"Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik" 
[taken from my Tumblr dashboard, tapi lupa siapa yang nge-share]

---

Sore itu, mentoring diisi oleh mentor pengganti karena teteh mentor yang sebenarnya sedang sibuk mempersiapkan proses penggenapan setengah agamanya, cieee :)

Bertempat di selasar masjid kampus yang sore itu ramai dengan anak-anak SMP-SMA yang sedang belajar bersama. Sempat mager juga jalan dari gedung kuliah (labtek V) ke masjid kampus. Biasanya juga mentoring-nya di labtek V. Tapi khusus yang kemarin di masjid kampus.

Diawali dengan tilawah seperti biasa. Lanjut ke sesi perkenalan. Teteh mentor pengganti memperkenalkan dirinya dengan cukup detail. Setelah itu kami diminta bergiliran memperkenalkan diri masing-masing.

Masuklah ke sesi materi. Materi yang dibawakan adalah tentang ikhlas. Sebenarnya, kelompok mentor kami sudah pernah membahas tentang materi itu (mungkin sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu). Namun tak ada satu pun dari kami yang menyampaikan ke teteh mentor pengganti tentang hal ini. Si teteh pun melanjutkan penyampaian materinya.

Saat si teteh sampai ke sub bahasan mengenai niat, tiba-tiba saja saya teringat quote di atas. Lalu ingat bahwa dulu saya pernah melakukan perbuatan-perbuatan baik karena ada orang lain. Orang lain yang menurut penilaian saya adalah orang baik, sangat baik hingga membuat saya jatuh kagum. Dan saat jatuh kagum itu, saya jadi punya motivasi untuk mengikuti amalan-amalan baik orang tersebut. Demi memantaskan diri. Laki-laki baik jodohnya perempuan baik kan...? Hehe..

Berarti saya nggak ikhlas dong?

Pikiran itu berputar di kepala saya selama si teteh masih menyampaikan materinya. Saya berharap si teteh selesai menyampaikan materinya sebelum adzan maghrib sehingga saya punya kesempatan untuk mengutarakan pikiran itu. Saya tahu, kalau hal yang saya lakukan dulu itu tidak bisa dibilang ikhlas karena saya melakukan amalan-amalan baik bukan semata-mata karena Allah. Saya tahu. Tapi saya ingin tetap meminta pendapat dari si teteh. 

Alhamdulillah, I got the chance...

Pendapat si teteh adalah: nggak apa-apa kita jalankan saja amalan baik itu. Walau niatnya belum lurus, tetap lakukan saja. Sembari jalan sembari kita berusaha meluruskan niat. Jangan nunggu niatnya lurus sebelum melakukan suatu kebaikan, nanti bisa-bisa malah batal melakukan kebaikan itu.

Kakak-kakak sekelompok mentor juga menyampaikan pendapat mereka. Menurut kak A, ya nggak papa lakuin aja kebaikan itu. Walau niat belum bener, siapa tau kebaikan yang kita lakukan itu bisa membawa kebaikan bagi orang lain juga.

Okee dee..


Bandung, 24 April 2015
...sedang ingin melakukan suatu kebaikan untuk menyamakan kemampuan dengan seseorang, tapi koq kayaknya berat ya?

Minggu, 22 Maret 2015

Hari-hari Hectic

Akhir minggu sampai awal minggu kemarin adalah hari-hari yang padat bagi saya. Sekali-sekali saya ingin mengisi blog ini dengan cerita harian lah yaa.. Lumayan juga sebagai pengingat saya di masa depan kalau saya pernah menghadapi hari-hari seperti yang akan saya ceritakan ini ;)

Here you go...

13 Maret 2015
Hari terakhir UTS. Siangnya aku menyempatkan diri mengambil foto kahim-sekben di Jonas Banda yang lokasinya lumayan jauh dari kampus. Habis itu, aku agak lupa apa yang kulakukan. Yang jelas pas jam 15.00 lebih, aku kumpul kelompok Grafika. Pembagian tugas dilakukan dan mencoba install floobits supaya bisa ngoding barengan di satu file dengan Sublime Text. Saat maghrib tiba, aku langsung sholat lalu cus ke Ciwalk untuk foto Warga Basdat (asisten lab). Kami tidak langsung foto di studio, melainkan makan malam dulu. Jam 20.30 baru kami ke studio foto. Setelah foto, aku merasa pusing. Entah kenapa. Teman-teman Warga Basdat masih ingin karaokean, namun aku dengan kekeuh bilang aku mau pulang saja. Selama hangout bersama teman-teman Warga Basdat aku juga lebih banyak diam. Saat ditanya kenapa, aku jawab "Sedang banyak pikiran." Dan mereka pun dengan sangat care berusaha menghiburku :') They've been so kind to me, yet I don't think I've been a good friend for them.
Foto di luar studio fotonya

14 Maret 2015
Pagi ada acara rutin suatu organisasi. Sebenarnya siangnya ada kumpul kelompok Grafika lagi, tapi aku memutuskan untuk tidak ikut kumpul dan mencoba mengerjakan bagianku dulu sendiri di kosan. Saat masih mengikuti acara organisasi itu, teman kelompok tugas Kriptografi mengontak saya via chat FB. Lagi-lagi fokus saya terpecah: raga sedang mengikuti rapat, tapi pikiran melanglang buana ke tugas Kriptografi.
Sesampai di kos, saya mencoba mengerjakan tugas Grafika dulu. Harapannya, setelah bagian saya selesai, saya bisa total fokus ke tugas Kriptografi. Tapi ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan Grafika sangat banyak. Bahkan saya baru tidur setelah lewat jam 12 malam, itu pun tugas Grafika saya belum kelar dan saya tidak jadi menyentuh tugas Kriptografi sama sekali. Ah..

15 Maret 2015
Pagi-pagi saya berangkat ke kampus dengan niat merampungkan tugas Grafika yang memang harus dikumpulkan keesokan harinya. Sesampai di kampus, saya menemui kenyataan bahwa apa yang saya kerjakan kemarin masih sangat tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan kelompok saya. Walhasil, hasil kerja saya tidak saya integrasikan ke aplikasi yang akan dikumpulkan esok hari. Duhduh…
Hari itu sampai malam berusaha menyelesaikan tugas Grafika. Lelah ngoding, beralih ke laporan. Buntu mikir laporan, balik lagi ke kodingan.
Saat merasa bagian saya sudah selesai, saya pun beralih ke kerjaan organisasi: kompilasi LPJ akhir tahun yang akan dipresentasikan hari Selasa.
Sekitar jam 21.00 saya izin pulang ke teman-teman kelompok Grafika.

16 Maret 2015
Terbangun dini hari. Ada message FB di grup chat Grafika: file zip deliverable untuk dikumpulkan pagi itu. Tapi masih kurang laporannya. Karena merasa kemarin laporannya sudah selesai, maka aku tidak otak-atik file deliverable itu lagi. Ternyata pas paginya, setelah kuliah jam pertama, temen sekelompok bilang kalau laporannya belum digabungin ke file deliverable, itu 30 menit sebelum deadline pengumpulan. Langsung deh saya nyalakan laptop, dan mulai menggabungkan file laporan ke folder deliverable. Sempat waswas juga karena laptop belum dalam keadaan menyala, takut booting-nya lama.
Saat kuliah kedua hari itu, tiba-tiba ada telepon masuk, dari nomor tak dikenal. Saya pun keluar kelas untuk mengangkatnya. Ternyata itu dari suatu perusahaan yang tempo hari saya kirimi email lamaran magang. Saya diundang untuk wawancara keesokan harinya. Tambah lagi hal yang harus saya lakukan: mempersiapkan diri untuk wawancara besok.
Selesai kuliah jam 11, langsung demo Grafika. Setelah itu saya pun mulai kompilasi LPJ akhir tahun lagi. Jam 14-16 kuliah lagi. Setelah itu saya membuat LPJ sekretaris dan lagi-lagi kompilasi LPJ.
Malamnya rakor terakhir sebelum forum LPJ keesokan hari. Forum LPJ dilakukan dalam 2 batch, 2 hari, Selasa dan Rabu. Saya (sekretaris) dan bendahara mendapat giliran presentasi hari Selasa. Itu artinya, selain kompilasi LPJ, mempersiapkan diri untuk wawancara, saya juga harus membuat slide presentasi.
Saat semua LPJ divisi yang sudah ada sudah dikompilasi, saya pun curi-curi kesempatan untuk mempersiapkan wawancara keesokan hari. Saya buka website perusahaan yang akan mewawancarai saya. Saya kulik-kulik. Teman saya yang bendahara dengan baik hati menyarankan saya untuk belajar mengenai algoritma-algoritma programming sederhana. Dia menunjukkan satu web untuk latihan programming. Dia juga mencontohkan solving satu soal mengenai Palindrom.
Sesampai di kosan, saya berniat untuk merampungkan kompilasi LPJ, tidur sebentar, lalu belajar untuk wawancara lagi. Tapi apa daya, mata sudah berat sekali. Saya pun langsung tidur tanpa merampungkan kompilasi LPJ (lagipula masih ada divisi yang belum selesai LPJ nya).

17 Maret 2015
Terbangun dini hari (lagi). Ada message FB, isinya LPJ dari suatu departemen. Ya sudah, langsung kompilasi LPJ lagi. Masih lumayan banyak juga yang kurang. Padahal udah hampir 100 halaman (sampe-sampe MS Word nya lemooot). Langsung japri kadiv-kadiv dan kepala departemen yang LPJ-nya belum lengkap.
Selesai kuliah langsung berangkat ke kantor perusahaan yang akan mewawancara. Walau wawancaranya masih jam 13.15. Makan siang di dekat kantornya. Pas ada beberapa laki-laki yang datang ke warung makan, saya dan teman-teman langsung cabut (kebetulan udah selesai makan juga) karena curiga kalau laki-laki itu adalah karyawan kantor tempat kami akan diwawancara (dan kami berencana untuk mengobrolkan soal wawancara nanti, nggak lucu kan kalau mereka denger).
Jam 13.00 kami ke kantor itu. Beberapa menit kemudian kami bertiga dibawa ke tempat terpisah. Saya dapat tempat di teras bagian dalam yang ada kolam ikannya, suasananya sejuk. Saya diwawancara oleh 3 orang, masing-masing 15 menit. Well, saya mencoba untuk menjawab semua pertanyaan mereka sebisa saya. Sekarang saya masih menunggu hasil penilaian mereka.
Satu pertanyaan dari salah satu pewawancara menanyakan soal bagaimana program untuk memeriksa suatu anagram yang valid. Dalam menjelaskan soalnya, dia menyebut-nyebut soal palindrom juga. Kebetulan sekali kemarin saya dikasih contoh dengan persoalan palindrom juga sama temen saya yang bendahara itu.
Selesai wawancara sekitar jam 14.15. Saya masih menunggu sebentar di kantor itu. Tapi saat jam menunjukkan pukul 14.30 lebih, saya pamit duluan karena jam 15.00 harus bertemu dengan asisten suatu tugas kuliah.
Sempat bingung harus naik angkot apa untuk kembali ke kampus. Tapi akhirnya selamat sampai ke kampus, telat sekitar 5 menit dari jadwal asistensi.
Saya langsung mencari teman kelompok tugas saya lalu kami sama-sama menghadap ke asisten.
Selesai asistensi, saya mulai mengerjakan slide presentasi lagi. Ada juga LPJ dari divisi yang baru selesai dan belum dikompilasi.
Jam 16.00 jadwal saya mentoring agama. Awalnya saya mau izin untuk tidak ikut dulu. Tapi akhirnya saya datang juga. Dan walau rencana awal saya hanya akan ikut sampai jam 17.00, nyatanya saya baru berani pamit duluan pas jam 17.30 an.
Setelah itu saya langsung ngebut kompilasi LPJ dan menyelesaikan slide presentasi. Jam 19.00 saya pindah ke ruang kelas yang digunakan untuk forum LPJ. Sempat kaget saat diberi tahu saya dapat giliran presentasi pertama. Tapi ternyata jadinya dapat giliran presentasi setelah suatu departemen. Sekitar jam 21.00 saya selesai presentasi. Saya pun pamit pulang duluan karena mau ngedeadline tugas Kriptografi yang harus dikumpulkan besok siangnya.
Saya menginap di rumah teman sekelompok tugas Kriptografi. Lagi-lagi berniat untuk tidak tidur, untuk marathon menyelesaikan tugas Kriptografi. Tapi yang ada tetep aja tidur, walau tidurnya tidak jenak (jam 23.00 an ketiduran, bangun jam 00.30 an, tidur lagi jam 02.00 an, bangun jam 04.00 an)

18 Maret 2015
Hari itu ngantuk terus di kelas. Susah menjaga mata tetap terbuka dan konsentrasi tetap terjaga. Malamnya datang forum LPJ lagi. Berniat untuk ikut sampai selesai karena di akhir akan ada penilaian kinerja.
Saat penilaian kinerja, semua nilai ditampilkan di depan. Malu saat tahu ada nilai C untuk kinerjaku. Astaghfirullah, ini baru penilaian kinerja di suatu organisasi. Gimana kalau pas hari akhir nanti? Saat aku dinilai oleh Allah… betapa malu jika semua nilai jelekku diketahui orang lain.

Setelah penilaian kinerja, ada sertijab ke pengurus baru. Namun aku memutuskan untuk langsung pulang ke kosan karena sudah super ngantuk. Dan rasanya aku pengen teriak setelah semua itu selesai. Setelah hari-hari hectic terlampaui.
Foto setelah rakor terakhir sebelum forum LPJ (16 Maret 2015)
Bandung, 22 Maret 2015
...sedang berusaha move on.

Minggu, 08 Maret 2015

Lesson Learned dari Semester Gila

Ini semester gila, bagi saya. Seperti yang mungkin telah saya sebutkan pada post-post sebelum ini dan mungkin di sosial media saya juga, tugas semester ini tak ada hentinya. Mulai besok selama satu minggu adalah masa-masa UTS. Dan benarlah kata orang yang menyatakan kalau masa-masa ujian itu lebih selow daripada hari-hari perkuliahan biasa. At least hari Minggu ini bisa saya habiskan di kosan saja, tidak seperti hari-hari Minggu yang lalu yang hampir selalu saya habiskan di kampus dari pagi sampai malam untuk mengerjakan tugas.

Ada beberapa tugas yang ingin saya pamerkan, tapi mungkin bukan di post ini, hehe... (semoga aja nggak wacana, aamiin)

Di post ini saya cuma ingin berbagi lesson learned yang saya dapatkan selama menjalani setengah semester gila ini. Here they are...

1. Desain itu penting! Sekecil apapun program/aplikasi yang ingin dibuat, harus diawali dengan perencanaan yang matang. Sebenarnya hal ini sudah ditekankan pada mata kuliah Proyek Perangkat Lunak. Bahwa kalau desainnya sudah bagus, tahap implementasi (coding) bisa lebih lancar dan cepat selesai. Tapi saat dapat tugas membuat aplikasi di mata kuliah lain, ilmu desain tidak saya terapkan. Desain masih mentah, langsung terjun ke implementasi. Walhasil, jadi bingung sendiri saat tahap implementasi, saat di tengah jalan menyadari bahwa harusnya begini, harusnya bukan begitu.

2. Kalau ngoding yang rapi. Saat mendemokan aplikasi di depan asisten dan asisten minta untuk diperlihatkan kodenya, dia berkata, "Lain kali kode programnya dibikin well commented ya. Biar gampang dibaca orang lain." Saya jadi ingat materi soal clean code yang pernah diberikan oleh kakak alumni. Salah satunya ya soal komentar itu. Ada juga soal penamaan variabel ataupun fungsi yang harus dipikirkan baik-baik (harus mencerminkan variabel atau fungsi tersebut, nggak boleh asal namain fungsi dengan kata tak bermakna). Mengenai kerapian kode program ini, ada beberapa teman yang lumayan concern. Salah satu teman sekelompok tugas saya menuliskan komentar ini di kodenya:


Yeah, dia menuliskan komentar yang sangat detail di kodenya sendiri hehe. Saya juga mendapat "teguran" darinya saat dia tahu kode yang saya ketik melewati garis batas yang ada di code editor suatu IDE. Hal yang menurut saya sepele karena toh program yang dihasilkan tetap bisa dijalankan.

3. Jangan lupakan dokumentasi. Mungkin saat ini dokumentasi masih sebatas pelengkap tugas. Tapi nanti di dunia nyata (memangnya ini bukan dunia nyata, Yyu?) yang namanya dokumentasi itu penting kalau sewaktu-waktu aplikasi yang kita buat akan dikembangkan lagi. Apalagi kalau yang akan mengembangkan itu orang lain. Supaya dia (atau kita) tidak perlu memulai dari nol lagi.

4. Time management!! Yang ini sudah dibahas di post kemarin nih. Saya sih pengennya bener-bener bisa menerapkan SKS dengan benar. Bahwa 1 SKS itu artinya 1 jam kuliah tatap muka, 1 jam belajar mandiri, dan 1 jam mengerjakan tugas. Saya mulai pasang batas waktu kalau mengerjakan tugas, sesuai dengan SKS mata kuliah yang bersangkutan. Tapi masih sering cheating sih, hehe. Entah karena terdistraksi pas ngerjain tugas ataupun emang butuh waktu lebih untuk mengerjakan tugas itu. Yang perlu diperhatikan juga adalah gimana caranya berkoordinasi dengan kelompok mengenai waktu pengerjaan tugas. Jangan sampai alokasi waktu untuk tugas individu tabrakan dengan tugas kelompok.

5. Kalau mau begadang, setelah nyampe kosan langsung bawa laptop ke ruang TV ajah. Jangan kelamaan di kamar. Yang ada pasti bakal langsung ketiduran.

Hmm, apalagi yaa? Mungkin segitu dulu aja sharingnya, haha... Doakan saya sukses UTS seminggu ke depan yak! :)


Bandung, 8 Maret 2015
Ditulis untuk mengusir kantuk yang datang saat belajar Sistem Paralel...

Sabtu, 28 Februari 2015

"Kuliah" Tambahan: Time Management

"Manusia tidak akan bisa mengalahkan waktu, tapi manusia bisa menang bersama waktu"

-----

Quotes tersebut saya tuliskan di cover notebook yang saat ini masih saya pakai. Saya lupa, apakah saya mendapatkan kalimat itu dari suatu tempat, ataukah itu hasil perenungan saya sendiri. Di post kali ini, lagi-lagi ingin membahas soal waktu.

Kemarin malam saya mengikuti mabit di masjid kampus. Salah satu hal yang dibahas oleh pemateri adalah mengenai waktu. Berdasarkan surat Al Asr, ada manusia yang tidak merugi, yaitu manusia yang beriman, beramal sholeh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Kaitannya dengan waktu, manusia yang tidak merugi adalah manusia yang senantiasa mengisi waktu yang dimilikinya dengan iman dan amal sholeh, bukan hanya dengan iman atau hanya dengan amal. Yang perlu diingat adalah perwujudan iman dan amal sholeh tidak terbatas pada ibadah-ibadah yang "spiritual" seperti sholat, puasa, dll. Belajar, mengerjakan tugas kuliah, mencari nafkah, itu juga bisa disebut praktek iman dan amal sholeh kan...?

Saat ini saya sudah melalui 6 minggu di semester 6 kuliah. Kata orang-orang, semester 6 adalah puncak kuliah tersibuk, banyak tugas, dan masih harus mencari tempat magang juga untuk liburan semester nanti. Well, I agree. 

Semester ini saya mendapat tantangan untuk bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik. Kenapa? Karena jadwal kuliah yang random, misalnya hari Kamis kuliah jam 7-10 lalu kosong dan mulai kuliah lagi jam 16-18. Waktu kosong antar kuliah inilah yang perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Walau kosan dekat dengan kampus, saya memilih untuk tidak pulang ke kosan pada jam kosong tersebut. Saya memilih untuk stay di kampus dan berusaha mengerjakan tugas-tugas yang ada.

Untuk bisa memanfaatkan jam kosong dengan optimal, beberapa hari terakhir saya mulai membiasakan diri untuk membuat jadwal harian. Jadwal tersebut berisi spesifikasi apa saja yang harus saya kerjakan hari itu. Jadwal harian saya buat menggunakan Chronodex untuk memudahkan pembacaan jadwal. 

Contoh Chronodex, taken from here.

Selain masalah jadwal, ada juga masalah deadline. Tugas-tugas kuliah semester ini lebih banyak daripada semester kemarin. Setiap minggu ada saja tugas untuk setiap mata kuliah. Menjalani hidup di semester 6 ini seperti hanya menghadapi rangkaian deadline tugas. Satu deadline dilalui, deadline berikutnya sudah menanti. Dan deadline yang selama ini diterapkan di program studi saya adalah "hari X jam 23.xx". Ya, jam 11 malam ke atas, hari apapun (termasuk Sabtu dan Minggu). Sedangkan saya (dan teman-teman) adalah orang yang cenderung deadliner

Pernah suatu ketika, ada deadline tugas kelompok jam 23.59. Sebenarnya tugas itu sudah selesai sejak pukul 19.00. Namun, begitu saya sampai kosan, saya malah ketiduran sebelum mengirim tugas tersebut ke asisten mata kuliah. Walhasil, saya telat 42 menit dari deadline.

Walau saya masih tidak paham kenapa banyak yang memberi deadline jam 23.59 (memangnya tugas itu akan segera diperiksa jam 00.00?), tapi saya mendapat pelajaran dari sini. Mungkin saja deadline jam 23 itu ada untuk mendidik saya supaya tidak deadliner. Saya adalah orang yang tidak bisa tidur terlalu larut malam kalau hari kuliah (kalau pas libur sih bisa baru tidur jam 1 pagi). Makanya, kalau ada tugas yang deadline jam 23, saya harus sudah menyelesaikan dan mengumpulkannya sebelum jam 21 kalau bisa. Untuk menghindari kejadian lewat deadline seperti yang saya ceritakan di atas.

Masih ada 9 minggu kuliah lagi semester ini. Semoga kemampuan manajemen waktu saya semakin baik...


Bandung, 28 Februari 2015
"... ingat, life without passion is a slow way to freeze to death."


Jumat, 05 Desember 2014

Galau Akhir Semester

Feeling messed up? Try to do good things. A lot of good things. You need to feel good about yourself first, that you are not a mistake, a bad guy, a man of failure. Start with this, you’ll have the energy to make the “train” moving.

[diambil dari tumblr seseorang yang muncul di dashboard saya, lupa siapa persisnya orang itu]

---

Belakangan merasa ampas sekali. Sempat sakit beberapa minggu dan sekarang masih agak tak stabil kesehatannya. Dan kalau udah sakit, rasanya hidup jadi berantakan. Mulai dari tugas-tugas yang terbengkalai sampai berantakan yang secara fisik terlihat jelas.

Hari ini hari terakhir kuliah semester 5. Masih banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan. Belum lagi harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir. Tapi gara-gara habis sakit dan masih merasa 'berantakan' jadi agak males juga buat 'bergerak'.

Setelah baca quote di atas, sekarang jadi mikir:  

"Oke, mungkin hidupmu akhir-akhir ini memang udah berantakan banget. Kamu merasa ampas banget. Tapi, sekarang setelah kondisimu lumayan sehat dan masih ada kesempatan buat nggak jadi ampas, yaa bergeraklah! Mulai rapikan hidupmu yang berantakan: kamar kos, pikiran, jadwal. Jangan hanya diam dan membiarkan hidupmu terus berantakan. Segera rapikan! Ingat, harusnya kamu yang mengontrol tubuhmu bukan tubuhmu yang mengontrolmu."


Bandung, 5 Desember 2014
ditulis di basement Campus Center, diiringi instrumen musik klasik live
2 bulan sebelum berumur seperti nama bioskop

Kamis, 18 September 2014

Inkonsistensi yang Konsisten

Pertama-tama, maafkan saya yang telah melanggar rencana saya sendiri untuk mempost materi kuliah tiap minggu. Di post kali ini pun saya belum akan melanjutkan serial What I've Learned This Week. Saya cuma mau curhat sedikit.

Alhamdulillah, di tingkat tiga ini, saya mulai sadar masalah akademik. Emang sih di awal-awal masih suka agak males buat belajar / ngulang materi di kosan. Tapi saya bisa memaksa diri sendiri untuk tetap baca-baca dikit di kosan.

Sekarang, saat flow perkuliahan dan kegiatan lain mulai naik, waktu semakin tidak terasa berlalunya. Semester ini saya punya target buat coba-coba ikut lomba. Semester ini saya juga masih punya amanah lumayan gede di himpunan. Semester ini saya baru aja direkrut jadi asisten lab. Semester ini saya memutuskan untuk berhenti jadi tutor kelompok belajar di masjid kampus (dan saya tidak menyesali pilihan ini, karena saya sudah niat buat mengalihkan slot waktu mengajar untuk melakukan eksplorasi di major saya, salah satunya ya dengan ikut lomba).

Minggu lalu saya disibukkan dengan deadline proposal PKM. Sehabis kuliah saya masih harus kumpul bareng temen-temen kelompok PKM sampai malam. Sampai kos rasanya sudah capek sekali dan mulai tidak konsisten dengan jadwal belajar di kos. Dampaknya? Dua kuis saya di minggu itu tidak saya persiapkan dengan baik. Nilai pun pas-pasan. Hmm... tapi setidaknya saya jadi tahu kalau saya harus mengubah strategi belajar saya :3 Dan saya juga jadi sadar kalau 'menghafal' itu bisa dibilang bagian kecil dari 'memahami'. Mungkin awalnya kita harus menghafal sesuatu, tapi agar sesuatu itu bisa bertahan lebih lama di otak kita perlu untuk memahaminya juga.

Saya sempat merasa agak menyesal juga memutuskan ikut PKM (saat harus ngejar deadline proposal). Dengan begitu saya jadi tidak punya waktu untuk belajar. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, bukankah ikut PKM itu juga salah satu kesempatan untuk belajar? Memang sih hasilnya tidak akan mendongkrak IP di transkrip, tapi kan masih ada efek positifnya juga.. Jadi harusnya saya nggak setengah-setengah ngerjain proposalnya, ikutan PKM-nya.

Hari ini menjadi hari pertama saya merasa lumayan free setelah hari-hari kemarin penuh dengan deadline. Rasanya saya perlu recharge semangat. Yosh!

Bandung, 18 September 2014

Minggu, 31 Agustus 2014

What I've Learned This Week #1

Minggu pertama kuliah didominasi dengan perkenalan, aturan main di setiap perkuliahan, dan overview dari kuliah itu sendiri.

Semester 5 ini saya mengambil 21 SKS yang terbagi ke dalam 8 mata kuliah. Post kali ini saya kasih tahu overview dari setiap mata kuliah dulu yaa... here they are:

1. Interaksi Manusia dan Komputer (IMK)
Tujuan dari kuliah ini adalah supaya mahasiswa bisa mendesain interaksi yang efektif dan efisien antara komputer (aplikasi) dengan manusia (user). Suatu aplikasi yang canggih sekalipun akan kurang bermanfaat jika sulit digunakan oleh user. Aplikasi yang interaktif harusnya dapat dioperasikan oleh user secara intuitif, tanpa banyak menghapal petunjuk penggunaan.
Kuliah ini akan banyak membahas tentang desain. Diawali dengan membicarakan desain mana yang bagus untuk suatu produk, kaitan desain interaksi dengan interaksi manusia dan komputer, hingga nantinya kita diharapkan dapat membuat suatu produk yang menerapkan prinsip-prinsip desain interaksi.
First impression saya kepada kuliah ini: kuliah ini bisa dikategorikan kuliah yang fun dan ringan karena sepertinya tidak akan terlalu banyak ngoding, wkwkwkwk.

2. Jaringan Komputer (Jarkom)
Kuliah ini mempelajari tentang proses komunikasi antar komputer yang terhubung dengan suatu media membentuk sebuah jaringan. Kalau dulu pas masih SMP-SMA saya cuma diajarin definisi dan macam-macam jaringan komputer secara general dan hanya diberi tugas untuk merakit jaringan komputer sederhana (dengan kabel UTP dan konektor RJ45), di kuliah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai bagaimana proses pengiriman data antar komputer. Mungkin selama ini kita cukup tahu kalau mengirim email kita hanya perlu terhubung ke jaringan internet, mengetikkan email, lalu tekan tombol send, dan pasti email tersebut akan masuk ke alamat tujuan. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu kan...? Karena bagaimanapun mesin (komputer) dan gelombang elektromagnetik (internet) yang kita gunakan punya protokol masing-masing untuk mengirim data. Bingung? Sama! Saya juga masih nggak ngerti ._.

3. Kecerdasan Buatan (AI)
Apa yang pertama terpikir jika mendengar "Kecerdasan Buatan" atau bahasa kerennya "Artificial Intelligence" ? Kalau saya, yang pertama terpikir adalah ROBOT!
Hoho, tapi di kuliah ini, kami tidak diajari untuk merakit robot. Kami cukup mempelajari bagian 'otak' robotnya saja. Di kuliah ini akan dipelajari bagaimana mendesain/membuat agen intelijen, sederhananya agen yang bisa bertindak/berpikir seperti manusia maupun bertindak/berpikir secara rasional.
Pernah dengar soal Turing Test? Itu salah satu aplikasi dari AI. Atau mungkin pernah pakai aplikasi Simsimi? Itu aplikasi AI juga tuh, hehe.

4. Manajemen Proyek Perangkat Lunak (MPPL)
Masih ingat dengan statement ini: "Panggil programmer, 2 minggu selesai!"
Hoho, bukan bermaksud negatif ya... Saya hanya ingin menjelaskan bahwa di kuliah ini akan diajarkan mengatur sumber daya (programmer, biaya, dll) untuk menyelesaikan suatu perangkat lunak dalam jangka waktu tertentu. Setiap perangkat lunak yang akan dibuat harus diperjelas dahulu requirements-nya (aplikasi harus bisa ngapain aja?). Habis itu mulai deh diatur-atur sumber dayanya supaya perangkat lunak tersebut bisa diselesaikan sebelum batas waktu yang disepakati antara developer dan customer.

5. Pengembangan Aplikasi Berbasis Web (PABW)
Jelas lah yaa dari namanya. Kami bakal diajarin bikin suatu aplikasi web. Kalau kata wikipedia, aplikasi berbasis web itu merupakan aplikasi yang dijalankan di web browser. Contoh aplikasi berbasis web: Sistem Akademik a.k.a Siakad.

6. Manajemen Basis Data (MBD)
Ini merupakan kelanjutan kuliah Basis Data semester 4 kemarin. Kita hidup di era big data. Kebayang nggak sih sebanyak apa data yang tersimpan di Google sampai-sampai Google menjadi tempat pertama kita mencari tahu tentang sesuatu? Data segitu banyaknya tentu harus diatur dong penyimpanannya supaya bisa cepat diakses kalau dibutuhkan. Hal inilah salah satu yang akan diajarkan di mata kuliah ini.

7. Astronomi dan Lingkungan (Asling)
Ini mata kuliah dari prodi Astronomi. Di sini kami akan belajar mengenai permasalahan lingkungan terutama yang ada di 'langit'. Topik-topik kuliahnya antara lain Polusi Cahaya, Sampah Antariksa, Bahaya Radiasi Antariksa, dsb.

8. Psikologi Persepsi (Psikopers)
Ini juga mata kuliah dari prodi lain, yaitu prodi Desain Komunikasi Visual. Inti yang kutangkap dari overview kemarin sih, mata kuliah ini mempelajari bagaimana 'sesuatu' ter-indera oleh seseorang hingga menimbulkan persepsi pada orang itu terhadap 'sesuatu' itu. Mata kuliah ini juga bakal ngebahas aspek-aspek yang berkaitan dengan rekognisi, atensi, dan memori. Masih belum terlalu kebayang sih bakal seperti apa kuliahnya ._.


Oke, sekian dulu untuk WILTW #1. Yang saya sampaikan di atas baru sekedar overview dan bisa jadi saya telah salah dalam menyimpulkan overview ini sehingga ke depannya akan ada perubahan. Yah, namanya juga baru belajar kan...

Sampai ketemu di WILTW #2 insya Allah :)

Bandung, 31 Agustus 2014

Jumat, 29 Agustus 2014

[Teaser] What I've Learned This Week

Hellooo...

Langsung saja. Di semester 5 ini saya punya rencana baru untuk mengisi blog ini. Saya akan posting setiap minggu (tepatnya saat weekend) untuk menceritakan kuliah saya selama seminggu tersebut.

Ide ini didasari atas pertanyaan dari teman SMA yang ia utarakan saat liburan kemarin, "Kuliahmu itu ngapain sih? Belajar apa aja?"

And I found it difficult for me to explain in brief -___-"

Harapannya, dengan saya menceritakan tentang kuliah saya setiap minggu, akan ada 'rekaman' yang detail yang bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya-tanya, "Kuliah di Informatika itu belajar apa aja?"

Selain itu, saya juga berharap bisa berbagi sebagian materi kuliah yang saya dapatkan kepada banyak orang. Plus-nya lagi, supaya materi yang sudah saya dapat bisa lebih erat terikat di ingatan saya.

Get ready! What I've Learned This Week #1 is coming :D


Bandung, 29 Agustus 2014
Saat hujan deras dan sedang menunggu kuliah terakhir minggu ini..

Minggu, 08 Juni 2014

My Magic Wand

Jadi, ceritanya laptopku habis diinstall ulang.. finally. Begitu kelar, langsung aku reinstall pernak-pernik buat programming cemcem Sublime, Netbeans, JDK, XAMPP, dll.
Ini laptop keren deh! Udah hampir 2 tahun lho nemenin aku.. inget banget, dulu pas udah pengumuman lolos SNMPTN tulis, aku bilang ke Mami, "Mi, kalau udah ada uang, beliin aku laptop dulu ya.." waktu itu yang kebayang adalah, aku bakal kuliah jauh dari Solo, ya kali aku nggak ada laptop/komputer sendiri. Bisa repot dong, masak harus ke warnet atau rental kalau butuh komputer? Nggak mungkin juga bawa laptop mami atau laptop papi, mereka juga masih butuh kan buat ngajar. Alhamdulillah, cuma dalam hitungan hari papi beliin laptop baru buat aku. Ini dia penampakannya:

<<gambarnya nyusul yak, entah kenapa tiap kali mau upload gagal mulu =,=>>
<<update 13 Juni 2014.. akhirnya dapet koneksi yang bagus, bisa upload gambar deh... nih gambarnya>>

 

Spesifikasi:
HP Mini, tapi gak tau seri berapa -_-a
Sistem Operasi Windows 7 Ultimate, 32 Bit
RAM 2 GB
Processor Intel Atom
Panjang 27 cm lebar 20 cm

Semester pertama dapat makul Pengenalan Teknologi Informasi. Di makul inilah aku kenalan sama sesuatu yang baru bernama programming, ngoding, pake bahasa pemrograman C. Berdasarkan saran seorang temen di grup FB angkatan, aku install CodeBlocks buat latihan ngoding. CodeBlocks itu salah satu aplikasi buat ngoding dan ngompile kode program yang udah kita ketik (simpelnya, CodeBlocks itu salah satu IDE, apa itu IDE? silahkan googling, hehe). Kalau di praktikum nggak pake CodeBlocks sih, pakenya Geany di sistem operasi Fedora (salah satu sistem operasi open source). Selain buat ngoding, laptop ini kepake buat baca-baca ebook, ngenet, dan ngerjain tugas yang perlu diketik aja.

Semester dua, nggak ada mata kuliah programming lagi. Tapi semester ini aku sempat ikut kaderisasi Unit Robotika. Ada beberapa software pendukung yang mesti diinstall: SolidWorks, CVAvr, Altium Designer, Proteus (ISIS). SolidWorks itu aplikasi buat ngedesain body robot, CVAvr itu semacam IDE juga buat bikin program yang nantinya akan menjalankan si Robot, Altium Designer itu buat ngedesain PCB supaya komponen-komponen penyusun robot bisa disolder dengan rapi, kalau Proteus (ISIS) itu simulator buat ngejalanin program yang udah dibuat pake CVAvr sebelum program tsb ditanamkan ke si Robot. Bisa dibilang, aplikasi-aplikasi ini lumayan berat buat laptopku yang RAM nya cuma 2 GB. Kerasa juga sih, pas dipake buat ngerun SolidWorks lamban banget. Tapi laptop ini berhasil melewati masa-masa sulit itu, alhamdulillah..

Semester tiga, alias semester pertamaku sebagai mahasiswa jurusan Informatika. Kebanyakan mata kuliah yang kudapat adalah matakuliah matematika, tapi ada juga beberapa matakuliah yang perlu ngoding. Ada beberapa aplikasi tambahan yang harus diinstall lagi seperti GNUClisp dan GNUProlog. Selain itu, ada satu mata kuliah yang maenannya bukan windows, tapi linux. Walhasil, aku install Ubuntu 12.04 berdampingan dengan Windows 7, jadi dual boot deh laptopku :3 Sejauh itu, laptopku masih kuat... Oh iya, selain itu, karena pas semester ini aku ikut semacam workshop website dari himpunan, aku juga install XAMPP.

Semester empat, well... pertambahan kuantitas mata kuliah programming bagai kurva yang hampir gak punya gradien. Aplikasi tambahan yang perlu diinstall cuma Microsoft Visual Studio sama NetBeans sih, tapi... yah, keduanya gak bisa dibilang sebagai aplikasi yang 'ringan'. Pas semester ini juga Windows ku mulai rewel. Masalah paling besar adalah Firefox nya suka not responding sehingga nggak nyaman banget dipake buat browsing (akhirnya kalau butuh browsing aku pake firefox yang di Ubuntu). Puncaknya, Windows ku tiba-tiba nggak bisa ngebaca memori hape yang nyolok USB, grrr.

Ada temenku yang pernah nanya, "kamu ngoding pake ini Hay?" sambil nunjuk laptopku. Helloooo, ya emang mau pake apa lagi? Orang punyanya juga satu laptop ini doang -_-a

Setelah dapet mata kuliah Organisasi dan Arsitektur Komputer sama Sistem Operasi, sekarang aku jadi bersyukur sih.. kenapa? yah, mengingat spesifikasi laptopku ini, kemampuannya bertahan sampai sekarang patut diacungi jempol. Rata-rata temen kuliah tuh pake laptop yang processor nya i3, i5, atau bahkan i7 buat ngoding. Terus RAM nya juga yang 8 GB ke atas. Aku bisa survive pake laptop ini aja udah alhamdulillah :3

pukpuk laptop... be strong yaa :)

"Kalau pake laptop orang lain tuh kayak pake tongkat sihir penyihir lain. Mantranya jalan sih, tapi efeknya nggak se-powerful kalau pake tongkat sendiri." [quotes dari aku dan temenku, long time ago]


Solo, 3 Juni 2014
baru bisa ngepost sekarang gegara koneksi internet yang nggak stabil

Selasa, 15 April 2014

Memakai Sepatu Orang Lain

Sekitar sebulan yang lalu -- pas musim kampanye di himpunan -- saya nonton sebuah video tanpa dialog yang menceritakan bahwa setiap orang itu punya 'hidup' nya masing-masing. Mungkin di saat kita merasa senang karena mendapat kiriman uang dari ortu, ada teman kita yang sedang merasa khawatir karena ayahnya sedang sakit. Saat kita merasa puyeng dengan tugas-tugas kuliah, mungkin teman kita sedang merasa sangat bersemangat untuk mengejar beasiswa ke luar negeri. Dan lain sebagainya... Kalau mau nonton videonya, silakan klik link ini.

Beberapa hari setelah nonton video itu, saya mulai kepikiran untuk posting soal empati, frasa kerennya "Memakai Sepatu Orang Lain" (lebih lengkapnya "kita nggak bisa bener-bener mengerti orang lain sampai kita berdiri dengan sepatunya"). Tapi dorongan untuk menulis belum terlalu besar rupanya --"

Sekarang, saya memutuskan untuk menuliskannya saja.. gegara saya jadi kepikiran terus masalah ini..

****

"Ih, si A sekarang kok nyebelin sih..."

Itu salah satu pikiran saya soal seorang teman yang entah kenapa sikapnya menyebalkan sekali. Saya jadi sebel juga sama dia, tiap kali ngajak ngobrol ditanggepinnya dengan muka nggak ramah.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin sayanya juga telah bersikap menyebalkan ke si A kali yaa... Mungkin saya telah bersikap menyebalkan dan tidak ramah ke orang lain, sehingga saya diperlakukan dengan menyebalkan dan tidak ramah juga oleh orang lain... Mungkin si A memang lagi ada masalah, lagi not in the good mood... Dan mungkin-mungkin yang lain. Semoga saja rasa sebal saya ke si A bisa segera hilang (yeah, saya mengaku masih sebal sama si A).

****

"Yu, tugas udah selesai?" tanya seorang temen.

"Belum nih, bagian X masih error..." jawab saya dengan muka memancarkan pesan 'jangan ganggu saya, saya mau nyelesaiin tugas ini dulu'. Padahal -- kayaknya -- temen yang bersangkutan itu mau minta bimbingan/pencerahan/bantuan buat ngerjain tugas itu. Melihat respon saya terhadap pertanyaannya, dia jadi segan mengganggu saya untuk tanya-tanya soal tugas.

Saya akui, saya telah bersikap menyebalkan ke temen saya yang satu itu. Empati saya masih kurang --"

****

Dari pemikiran 'Memakai Sepatu Orang Lain' ini, pikiran saya sampai ke ingatan materi 7 Habits yang pernah saya terima pas masih berstatus MaBa. Materi soal sifat reaktif.

Yang dimaksud dengan sifat reaktif di sini adalah sifat seseorang yang gampang terpengaruh oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya menyenangkan, suasana hatinya ikut senang. Kalau lingkungannya tidak menyenangkan, suasana hatinya akan memburuk. Kalau orang lain bersikap tidak menyenangkan, orang reaktif akan ikutan bete.

Well, saya jadi merasa kalau saya masih terlalu reaktif --"

***

Oke, maaf kalau postingan ini 'curhat' banget dan kesannya seperti menjelek-jelekkan diri saya sendiri (saya hanya berusah bersikap objektif). Yang jelas, pesan yang ingin saya sampaikan adalah

Jangan buru-buru memberikan reaksi terhadap rangsangan dari luar (orang lain), apalagi kalau reaksinya negatif. Coba sejenak 'posisikan diri di sepatu orang tersebut'.



Bandung, 15 April 2014
Sebulan lagi liburan
Tugas akhir semester mulai menumpuk
UAS menjelang...

Senin, 24 Maret 2014

Rencana Allah Lebih Indah

"Waduh, argh, pengen skip hari ini...!! Banyak banget yang musti dikerjain hari ini...!! Astaghfirullah..."

Kira-kira seperti itu gumaman saya saat terbangun dini hari tadi dan melihat jam di hape.

Yah, kelemahan saya ini memang dalam hal menahan kantuk. Kalau sudah ngantuk, saya bakal susah memaksa diri untuk konsen ke pekerjaan. Terus, kelanjutannya adalah saya (lagi-lagi) akan membatin, "Ya udah, tidur aja, daripada bangun tapi terkantuk-kantuk terus nggak konsen, nggak produktif. Mending tidur dulu 3 jam laa..."

Lalu saya tidur...

Syukur-syukur kalau saya beneran bisa bangun setelah tertidur 3 jam. Sering juga saya baru bangun setelah 5 jam atau lebih. Sering juga saya terbangun, tapi habis itu tidur lagi (batal deh nerusin kerjaannya). Sering juga saya bangun, lalu merasa menyesal karena telah menuruti keinginan untuk tidur. Tapi kadar penyesalan masih kecil sepertinya, buktinya sampai sekarang saya masih sering mendahulukan tidur kalau sudah terserang kantuk :3

Balik ke cerita hari ini. Jadi ceritanya, hari ini saya punya banyaaakk bangeeett hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan: 2 tugas kepanitiaan, 1 tugas proker organisasi, 1 tugas kuliah yang musti dikumpul, 1 kuis di sore hari (dan pas kebangun saya belom selesai belajarnya). Rasanya beneran pingin skip hari ini.

Tapi saya tahu, tidak mungkin bisa skip. Di mana tanggung jawab saya? Cemen banget sih sampai minta skip #talktomyself

Akhirnya saya pun mulai merancang strategi untuk mengerjakan semua yang harus dikerjakan. Pertama, saya mengerjakan tugas kepanitiaan dulu. Kenapa bukan belajar atau mengerjakan tugas kuliah dulu? Karena menurut hemat pikir saya tadi, tugas kepanitiaan itu adalah tugas termudah yang bisa dilakukan dan tidak memakan waktu yang lama. 

Tapi saya mengerjakan tugas kepanitiaan itu juga diselingi dengan membaca bahan untuk kuis. Rasanya nggak tenang gara-gara belum belajar buat kuis.

Saya juga sudah merancang strategi untuk melaksanakan amanah proker organisasi. Bisalah dilaksanakan di jeda kuliah siang ini...

Setelah tugas kepanitiaan saya anggap cukup (maksudnya cukup nggak malu-maluin kalau ditanyai sama temen-temen panitia, hoho), saya berpindah ke tugas kuliah. Alhamdulillah, tugasnya sudah dicicil, jadi bisa cepet juga menyelesaikannya. Tambah lagi itu tugas kelompok. Jadi setelah saya selesai, saya bisa menyerahkannya ke teman sekelompok supaya untuk selanjutnya di handle oleh mereka.

Tinggal belajar buat kuis. Saya baca lagi buku kuliah yang tebel dan enak dijadiin bantal. Semakin lama, semakin susah memahami kalimat-kalimatnya. Semakin susah, jadi semakin sering otak ini idle, tidak berpikir. Terus jadi ngantuk deh! Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membaca materi kuis, daripada saya tidur lagi --"

Seharian di kampus saya memanfaatkan waktu-waktu jeda untuk menyelesaikan tugas-tugas kepanitiaan dan organisasi. Sempat berpikir untuk tidak membuka materi kuis lagi. Tapi alhamdulillah, ternyata masih ada slot waktu yang bisa digunakan. Sekitar sejam sebelum kuis, saya punya waktu untuk membaca materi kuis!

Jam 16.00, saya sudah standby di kelas. And guess what?! Beberapa menit kemudian si ketua kelas berdiri dan membacakan SMS dari sang Dosen: kuliah sore ini ditiadakan.

Berarti nggak jadi kuis... Alhamdulillaaaahh, dapet injury time buat persiapin diri lagi, semoga aja bisa lebih siap nanti.

Sekali lagi saya merasakan Rencana Allah Lebih Indah. Betapa saya telah memadatkan kegiatan di waktu yang saya miliki dan menguat-nguatkan diri untuk menjalani semuanya... salah saya juga sih yang kemarin-kemarin tidak mengatur waktu dengan baik..


"Setengah ditambah setengah itu sama dengan nol."

Bandung, 24 Maret 2014

What They Said...

Di salah satu sesi kuliah tamu yang diisi oleh 3 orang alumni Teknik Informatika yang sedang menjalani fast track

"Kak, saya kan juga tertarik nih di bidang riset. Di pikiran saya, kalau riset itu kita harus mengangkat hal yang baru. Padahal saya ini gak jago-jago amat di kelas… apa saya bisa menemukan hal baru untuk diriset?"

Itu sepotong pertanyaan dari seorang teman saya. (Sebenernya pertanyaannya panjang, intinya dia tanya kalau riset itu harus mengangkat hal baru atau boleh mengangkat hal yang pernah diriset orang lain)

Lalu, jawaban dari pengisi acara telah sukses mendorong saya untuk mencatat (sebelumnya saya cuma mendengarkan, tanpa minat untuk mencatat). Kalimat pertamanya begini:

"Pertama-tama, don't underestimate yourself!"

Rasanya saya kembali mendapatkan peringatan untuk tidak rendah diri. Saya kembali diingatkan bahwa 'percaya pada diri sendiri' itu penting. Kalau kita tidak percaya kepada diri kita sendiri, bagaimana orang lain akan percaya kepada diri kita?

Tahap selanjutnya untuk memulai riset adalah 'mulai dari hal yang disukai'. Kebetulan kakak alumni yang menjawab pertanyaan ini suka dengan game, jadilah risetnya di bidang game. Kalau kita melakukan hal yang kita sukai, time flies.

Jadi ingat film Harry Potter and the Goblet of Fire. Saat Harry tahu bahwa tantangan Triwizard pertamanya adalah menghadapi Naga. Profesor Mad-Eye Moody menanyai apa keterampilan yang benar-benar dikuasainya. Harry menjawab: Terbang. Maka dengan cara itulah Harry menghadapi Naganya, dengan terbang memakai sapu terbangnya.

Terus, untuk masalah "riset harus mengangkat hal baru atau tidak", jawabannya adalah tidak harus. Kita boleh meriset hal yang pernah diriset oleh orang lain. Katanya, kita tidak bisa menemukan sesuatu yang bener-bener baru.

Selain sharing masalah riset, kakak-kakak alumni itu juga sharing pengalaman mereka dalam mengikuti (dan memenangkan) beberapa kompetisi serta pengalaman mereka internship ke JAIST.

Ada juga teman yang tanya soal manajemen waktu. Yah mengingat tugas kuliah di Teknik Informatika itu banyak (banget, sekali satu tugas keluar di awal semester akan bersambung terus sampai akhir semester) dan kakak-kakak alumni itu masih sempat mengikuti berbagai kompetisi dan melakukan riset.

Jawaban dari pengisi acara adalah kita harus tahu kapabilitas diri kita sendiri. Saat ingin mengikuti suatu kegiatan, pikirkan dulu apakah kita masih mampu melakukannya. Jangan jadi yes people yang selalu mengiyakan ajakan mengikuti suatu kegiatan tapi akhirnya malah keteteran semua. Saya kesindir banget nih sama jawaban ini :3

Oke, segitu dulu updatenya... maaf kalau agak terganggu dengan font yang besar kecil dicoret-coret.. Lagi kangen aja ngeblog model kayak gini, hehe



Bandung, 24 Maret 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Dewasa

Sembari menunggu kuliah (yang baru mulai sekitar 3 jam lagi --"), mending update blog :3

Belakangan ini, saya kepikiran masalah kedewasaan seseorang. Gara-garanya adalah saya sadar kalau saya bertambah tua (bentar lagi kepala 2) tapi saya masih merasa bocah banget.

Emang, orang yang dewasa itu yang seperti apa?

Seingat saya, dosen saya pernah bilang bahwa orang yang dewasa itu bisa memilah antara hal yang penting dan hal yang tidak penting untuk dilakukan atau dipikirkan. Orang yang bisa menentukan mana hal yang lebih penting dari sekumpulan hal-hal penting. Sederhananya, orang itu bisa menyusun prioritas dengan benar lah...

Bisa menentukan pilihan antara menuruti keinginan untuk melakukan hobi atau mempersiapkan diri untuk kuliah esok hari terlebih dulu. Bisa menentukan pilihan antara menghabiskan waktu dengan leha-leha atau mengeksplorasi rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru. Bisa menentukan pilihan untuk menuruti rasa galau atau berusaha mengabaikannya dan melanjutkan melakukan sesuatu yang memang harus dikerjakan (kewajiban tidak terbengkalai). Dan lain sebagainya...

Seingat saya juga, dulu seorang teman pernah nge-tweet yang isinya kurang lebih begini:

"Dewasa itu melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan, bukan hanya melakukan sesuatu yang disukai."

Hmm, iya juga ya. Kan tidak semua kewajiban kita sukai. Pasti ada saja kewajiban yang sebenarnya kita tidak suka melakukannya. Mungkin mindset kita perlu diubah dalam memandang kewajiban tersebut. Seperti kata orang, "Do what you love. Love what you do." 

Sebenernya saya masih belum tahu sih, gimana caranya 'love what you do'. Adakah yang bisa memberi tahu saya caranya? Please, post aja di comment yaa :) Thank you...



Bandung, 22 Januari 2014

Sabtu, 04 Januari 2014

Tidak Menunda, Bersyukur

Ini salah satu pikiran yang terbetik di benak saya saat sendirian mencuci piring di dapur. Tapi yang membetikkan pikiran ini bukan masalah cuci piring, bukan... Melainkan karena ada satu tugas yang saya rasa sudah saya selesaikan. Dan saya jadi merasa lebih ringan untuk bersyukur atas tugas itu.

Jadi, apa pemikiran itu?

"Tidak menunda-nunda pekerjaan adalah jalan untuk menjauhi keluh dan mendekatkan diri kepada syukur. Karena bersyukur itu lebih baik daripada mengeluh, kenapa kita harus menunda melakukan/mengerjakan tugas kita?"

Kalau kita menunda-nunda mengerjakan sesuatu, otomatis waktu kita untuk menanggung beban itu jadi lebih lama. Ini bisa menimbulkan stress, seperti kata pak Stephen Covey:

"Bukan BERAT beban yang membuat kita stress, tetapi LAMAnya kita memikul beban tersebut."

Nah, saat sedang stress, lebih mudah untuk mengeluh atau bersyukur?

Kemarin, saat saya mengunjungi suatu toko buku, saya menemukan buku yang berisi tips rehabilitasi untuk orang-orang yang suka menunda-nunda melakukan sesuatu (saya lupa judulnya). Salah satu tipe penunda-nunda pekerjaan yang dibahas di dalam buku itu adalah orang yang perfeksionis. Dan saya merasa itu tipe penunda-nunda yang paling mendekati karakter saya (ya, saya adalah orang yang suka menunda-nunda). Penunda-nunda tipe ini belum bisa memulai suatu pekerjaan kalau keadaan belum benar-benar sempurna. Untuk kasus saya, keadaan sempurna untuk memulai mengerjakan sesuatu tercapai jika memang saya sudah ada mood atau keinginan kuat untuk memulainya. Selain itu, 'keterpaksaan' mengerjakan sesuatu (karena sudah mendekati deadline) juga bisa membuat saya memulai suatu pekerjaan.

Nah, kebetulan tugas yang saya sebutkan di bagian awal post ini adalah tugas yang lumayan besar, butuh waktu yang tidak sebentar. Mood saya untuk mengerjakan tugas itu tak kunjung terbentuk karena selalu ada pikiran negatif dalam diri saya bahwa mengerjakan tugas itu pastilah membosankan. Tapi, karena tugas ini sudah molor jauh dari deadline dan tidak hanya menyangkut saya pribadi, akhirnya saya paksa diri sendiri untuk mulai 'merangkak' mengerjakan tugas itu. Tiap hari saya sempatkan mengerjakan tugas itu. Dan setiap kali setelah mencicil menyelesaikan tugas itu, perasaan saya membaik. Saya senang karena, walau mungkin hanya sedikit dan tugas itu belum selesai, saya telah membuat kemajuan. Rasanya seperti berkurang beban yang saya tanggung.

Semoga pemikiran saya ini bisa memotivasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lagi...
Aamiin.

Solo, 4 Januari 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Been A Secretary

Saya lagi bosen. Bosen merapikan sekian data yang harus dilampirkan di sebuah laporan pertanggungjawaban suatu acara. Dan saya jadi menyadari banyak kekurangan saya selama jadi sekretaris di kepanitiaan acara tersebut...

1. Template
Ini hal penting pertama yang muncul di benak saya. Template untuk berbakai berkas yang dipakai oleh tiap divisi. Misalkan template laporan progress, template timeline, dll. Harusnya saya menetapkan template ini dan tiap divisi tinggal mengisinya. Bukan malah menyerahkan sepenuhnya kepada tiap divisi. Walhasil, berkas yang dihasilkan bisa jadi beda-beda untuk masing-masing divisi. Padahal untuk hal ini, keseragaman itu bagus. Keseragaman bisa membuat laporan pertanggungjawaban ini lebih enak dibaca.

2. SOP
Ini penting banget. Misalnya aja SOP permintaan pembuatan surat keluar. Inget banget lah dulu, anak-anak divisi kalau minta dibuatkan surat suka mendadak dan kurang jelas spesifikasinya. Setelah saya masuk ke staf sekretaris di himpunan, saya baru tahu kalau surat keluar itu bisa dibuat sendiri oleh yang membutuhkan setelah orang itu minta nomor surat ke sekretaris dan mengisi daftar surat keluar (tanggal pembuatan, ditujukan ke siapa, perihal apa, dll). Terus sekretaris tinggal ngecek, mengesahkan (misal dengan stempel), dan mengarsipkan tentunya.

3. Arsip
Well, banyak banget hal-hal yang kurang terarsipkan dengan baik oleh saya selama saya jadi sekretaris di acara itu. Sekarang, pas nyusun LPJ, baru deh terasa banget repotnya ngumpulin berkas-berkas yang masih berserakan. Harusnya hal sekecil apapun yang dilakukan anak-anak divisi ada dokumentasinya, untuk diarsipkan.

Haha, padahal selama menyandang putih abu-abu saya sudah punya pengalaman jadi sekretaris, baik sekretaris organisasi maupun sekretaris acara. Tapi begitu saya diamanahi jadi sekretaris acara pas kuliah ini, saya merasa fail...

Saya pun jadi membanding-bandingkan acara-acara saya di SMA dengan acara saya yang kemarin. Dan saya pun menyadari kalau acara-acara di SMA itu lingkupnya kecil, paling cuma acara internal buat sekolah aja. Sedangkan acara saya yang kemarin itu lingkupnya lumayan besar. Selain itu, di SMA dulu, saya merasa masih banyak mendapat bantuan dan keringanan dari guru-guru. Sedangkan saat kuliah ini, saya dituntut untuk bisa mandiri, profesional, dan bisa bekerja sama dengan teman-teman panitia yang tidak sedikit jumlahnya. Mungkin ini yaa salah satu bedanya siswa sama mahasiswa...

-----
Semoga bisa jadi lebih baik.
Solo, 31 Desember 2013
...lagi bosen, di kamar...

Rabu, 27 November 2013

Nggak Bosen Bahas Waktu


Pernah nggak sih ngerasa waktu 24 jam dalam sehari itu kurang?

Well, kalau aku sih pernah...

Tapi setelah direnungi lagi, kayaknya kalau sehari dikasih waktu 30 jam pun kita bakalan merasa kurang kalau kita tidak meng-improve manajemen waktu kita.

Aku inget materi yang pernah kuterima saat jadi maba dulu, materi 7 Habits-nya Stephen Covey. Kalau nggak salah yang point 'Put First Thing First'. Ada video beberapa orang yang lagi nyusun batu-batu berbagai ukuran ke dalam suatu wadah dari kaca. Kalau orang-orang itu masukin batu-batu yang kecil dulu, batu-batu besar nggak akan bisa masuk semua. Tapi kalau caranya dibalik, yaitu masukin batu-batu yang besar dulu baru masukin batu-batu yang kecil, semua batu itu bakal bisa masuk dan muat di wadah kaca itu. Kalau mau tau lebih detil, bisa baca ini.

Masih masalah waktu juga, ada cerita nih... Jadi, semester ini, aku ada kuliah yang mulainya jam 7. Nah, dosennya ini menerapkan aturan, mahasiswa yang telat dateng (nggak peduli walau hanya semenit, nggak peduli gara-gara macet, pokoknya telat aja) bakal dapet hukuman. Nah, suatu pagi, ada temenku yang dateng telat mencoba bernegosiasi dengan beliau. Temenku mengusulkan agar kuliah dimundurkan 20 menit, jadi dimulai jam 7.20. Dengan begitu, (harapannya) nggak bakal ada lagi mahasiswa yang telat dateng.

Sang Dosen pun menolak. Kata beliau, kalau pun waktu kuliah dimundurkan tapi mindset mahasiswa tidak berubah, tetep aja bakal ada mahasiswa yang datang telat. Yang harusnya diubah itu mindset mahasiswa soal waktu. Mahasiswa harus bisa ngatur waktu. Kalau kuliah mulai jam 7, ya sediakan waktu yang cukup antara bangun tidur sampai jam 7 (waktu buat siap-siap dan perjalanan ke kampus). Misal udah tahu kalau di atas jam 6 jalanan bakal macet, ya berangkat dari rumah harus sebelum jam 6.

Hmm, bener juga sih...

Dari sini juga aku jadi punya rumusan baru:

“Manusia itu nggak akan pernah bisa mengalahkan waktu. Tapi manusia bisa menang bersama waktu. Yaitu dengan 'membuat kesepakatan' dengan waktu dan melaksanakan kesepakatan itu.”

Maksud membuat kesepakatan di sini adalah mengatur waktu. Jadi kita mengalokasikan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang prioritasnya tinggi terlebih dahulu, baru kemudian alokasikan waktu untuk hal-hal yang prioritasnya lebih rendah. Setelah alokasi, hal yang selanjutnya harus kita lakukan hanyalah patuh dan disiplin terhadap jadwal yang telah kita susun sendiri itu. 


Salam,
yang lagi merasa waktu berjalan tidak begitu cepat tapi padet banget

Sabtu, 23 November 2013

Manfaatkan Kesempatan yang Ada


“Kak, kenapa dulu milih kuliah di Informatika?”

Itu suatu pertanyaan yang aku lontarkan kepada kakak tingkat kemarin. Aku yang saat itu sedang merasa 'have no other choices' : tidak ingin kuliah di jurusan lain tapi juga merasa belum terlalu proper kuliah di Informatika.

Ini semester pertamaku sebagai mahasiswa Informatika, walau aku sudah berstatus mahasiswa sejak setahun yang lalu. Kalau ada adik kelas yang menanyakan pertanyaan di atas kepadaku, maka jawabku adalah:

“Sebenernya dulu aku mau masuk Matematika, FMIPA. Tapi kata ibuku, sayang kalau udah kuliah di institut teknologi ambilnya MIPA lagi, MIPA lagi. Ambil yang teknik sekalian lah!” Dan aku pun mulai mencari, bidang teknik apa yang menarik minatku.

Lalu kenapa akhirnya Informatika? Simple sebenernya.. aku pernah membaca salah satu novel karya Dan Brown dan menemukan istilah 'kriptografi' di sana. Lalu, saat browsing dan menemukan silabus kurikulum dari Prodi Informatika di PTN yang kuincar, aku menemukan mata kuliah 'Kriptografi'. Fix, sejak itu aku menempatkan Informatika di pilihan pertama.

Terkesan tidak pikir panjang kan? Hehe, karena aku memang tipe orang yang tak suka berlama-lama menimbang pilihan yang ada. Aku inginnya segera memutuskan.

And, finally... here I am..

Sekarang, aku dikelilingi orang-orang yang jago banget masalah ke-informatika-an. Jebolan TOKI. Jawara kompetisi nasional. Imba... Dan aku mulai merasa minder. Mulai merasa diri ini nggak pantas berada di antara orang-orang itu. Sampai akhirnya aku menanyakan pertanyaan di atas kepada salah seorang kakak tingkat. Kakak tingkat itu menjawab bahwa dari sekian mapel SMA, mapel komputer adalah mapel yang lumayan mudah dia mengerti. Lalu aku lanjutkan pertanyaanku: “Sekarang, setelah tercapai buat kuliah di Informatika, gimana rasanya kak?” Dia pun menjawab sambil tersenyum, “Hehehe, rasanya... kayaknya salah jurusan deh...”

Oke, berarti bukan cuma aku yang merasa nggak (atau belum) proper kuliah di Informatika.

Pagi ini, hari Sabtu yang cerah, tidak ada kuliah tapi aku tetap berangkat ke kampus pagi-pagi dengan harapan bisa menjadikan hari ini produktif. Saat memasuki gerbang kampus, aku tiba-tiba saja ingat kata-kata – yang entah pernah aku ungkapkan atau hanya tercetus di pikiranku saja – ini: 

“Kalau kamu sudah pinter di bidang itu, kamu nggak perlu kuliah di bidang itu. Kamu kuliah di bidang itu, karena emang kamu belom jago di bidang itu, dan kamu pingin 'bisa' di bidang itu.”

Aku belum jago di bidang ini. Aku sudah 'nyemplung' di sini. Ibaratnya, aku nggak jago renang (bahkan kenyataannya aku nggak bisa renang) tapi aku udah nyemplung ke kolam renang. Kenapa nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk menjagokan diri sekalian?

Lagi-lagi, quotes ini bisa dipakai sebagai reminder:

“Hard work can beat talent when talent doesn't work hard.”

Sabtu, 09 November 2013

Niat Belajar

"Kalian ngapain? Lagi belajar?"
"Iya dong...!"
"Ngapain belajar lagi? Semuanya sudah terlambat..."

Oke, saya jelaskan setting dialog di atas. Dialog di atas terjadi pada suatu siang setelah pekan UTS berlalu, saat saya sedang menunggu kuliah dimulai. Saya dan seorang teman dekat duduk di luar ruang kuliah sambil membahas ulang soal-soal UTS suatu mata kuliah (tepatnya saya bertanya cara mengerjakan soal-soal itu dengan benar ke teman saya). Lalu datanglah teman (cowok) saya yang lain dan terjadilah dialog di atas.

Respon saya setelah cowok ini mengucapkan kalimat terakhir itu adalah tertawa. Ya, karena dia begitu polos dan datar ekspresinya saat mengucapkan kata-kata itu. Padahal menurut saya kata-katanya itu hiperbolis.

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kata-kata itu membuat saya kembali bertanya-tanya kepada diri sendiri: apa sebenernya tujuan saya belajar? Apa tujuan saya kuliah? Apakah saya membahas ulang soal-soal UTS itu hanya supaya bisa mengerjakan soal-soal UAS dengan lebih baik sehingga bisa mendapat nilai lebih tinggi? Atau...?

"Tujuan belajar itu supaya kita paham dan bisa mengaplikasikan ilmunya atau supaya lulus ujian?"

Dari perenungan saya selanjutnya, saya juga jadi ingat salah satu materi agama yang saya terima saat masih belajar di sekolah menengah. Kurang lebih intinya seperti ini:

"Suatu amalan itu bergantung pada niatnya. Kalau niatnya untuk mendapat ridho Allah, ya itulah yang akan kita dapat. Tapi kalau niatnya untuk hal-hal duniawi, itu pulalah yang akan kita dapat."

Analoginya begini... kalau tujuan saya belajar cuma supaya dapat nilai bagus dan lulus ujian, ya mungkin saya akan mencapai tujuan tersebut tapi tidak benar-benar memahami materi yang saya pelajari. Karena saya bisa saja lulus ujian dengan hanya menghapal rumus tanpa tahu asal-muasalnya dari mana. Saya bisa saja lulus ujian hanya karena sedang beruntung dosen tidak membuatkan soal yang susah atau tidak saya mengerti. Saya bisa saja lulus ujian karena benar menebak jawaban untuk suatu soal. Walau sebenarnya pemahaman saya masih dangkal, saya bisa saja lulus ujian karena hal-hal yang saya sebutkan tadi. Setelah ujian berlalu pun kemungkinan besar saya akan 'lupa' akan materi-materi yang saya pelajari.

Beda ceritanya kalau saya belajar karena saya ingin benar-benar paham. Saya bisa lulus ujian karena saya memang benar-benar bisa mengerjakan soal yang diberikan, bukan dengan menerka-nerka, bukan karena keberuntungan belaka.

Mari luruskan niat belajar kita.... tidak ada angka yang bisa merepresentasikan pemahaman seseorang dengan tepat...


Bandung, 9 November 2013
badai tubes segera dimulai...