Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Habis Ini

Haloo :)

Sebenernya saya sedang nggak tau pengen ngapain (lagi-lagi). Posisi sudah di kampung halaman, jauh dari hiruk-pikuk dan dinginnya Bandung. Beberapa topik sudah menjejali sticky notes yang saya khususkan untuk mencatat ide untuk ditulis ke dalam blog. Tapi rasanya saya masih saja bingung harus mulai menulis dari mana...

Ya udahlah yaaa... saya mulai nulis aja :3

Jadi, sudah 6 mingguan ini saya mencicipi hal baru: dunia kerja. Hari di kantor diawali pada jam 8 pagi, diakhiri pada jam 5 sore. Jeda satu jam di siang hari, dari jam 12 sampai jam 1. Demikian setiap hari. Pada jam kerja, hal yang saya lakukan adalah duduk di depan laptop, mengembara di internet untuk mencari solusi, mencoba solusi dari internet, kalau satu solusi gagal beralih ke solusi lain. Begitu seterusnya. 

Jujur, saya pernah terserang rasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. No life. Sepulang kantor merasa sudah powerless, energi habis, pengen langsung istirahat. Kalau kayak gini terus-terusan, kapan saya bisa melakukan hal lain selain kerjaan kantor? Bagaimana nanti kalau saya sudah berkeluarga? Apakah bakal sempat ngurus keluarga kalau tiap hari waktu habis buat kerjaan kantor? Saya pun bertekad, kalaupun nanti akan bekerja, saya ingin pekerjaan yang fleksibel. Intinya pekerjaan yang tetap memberi saya keleluasaan untuk melakukan hal-hal lain.

Lalu suatu hari, orang kantor ada yang membagikan suatu link di Slack. Silakan klik di sini untuk membaca artikelnya.

Setelah membaca artikel itu, saya merasa tergelitik. Kebetulan saya lumayan berminat pada bidang Basis Data dan di kantor juga sedang menggunakan teknologi AWS. Namun selama magang ini, saya belum berkesempatan untuk bersinggungan langsung dengan data yang sangat besar dan tuntutan accessibility yang tinggi. Begitu membaca artikel tersebut, saya jadi tertarik dengan term baru: database engineer. Sepertinya keren B)

Setelah membaca artikel itu juga, naluri kepo saya terpanggil, wkwk. Saya tidak lantas menutup tab browser yang menampilkan artikel itu dan kembali ke kerjaan. Saya malah ngulik-ngulik web tersebut dan iseng mengunjungi Careers site-nya. Dan, whoaa.... entah kenapa saya tertarik untuk sekilas mencari tahu tentang posisi Software Engineer di Pinterest. Di antara macem-macem posisi Software Engineer, ada Data Scientist dan Data Engineer juga. Syaratnya harus PhD dong minimal :3 hahaha, padahal selama ini saya kira Master aja udah cukup.

Nggak berhenti di situ, saya malah jadi kepo kantornya Pinterest. Saya googling "Pinterest office tour" dan membuka link teratas. Well, saya jadi pengen kerja di sana...

Saya pun jadi teringat Tumblr. Saya juga jadi kepo kantornya Tumblr. Kirain Tumblr juga bermarkas di the so called Silicon Valley, ternyata enggak. Kantornya Tumblr itu ada di New York. Kantornya juga keren :3

Kenapa saya tertarik kerja di dua tempat itu? Karena saya sedang suka menggunakan produk dari keduanya: saya suka buka Tumblr walau sekedar scroll dashboard, saya suka buka Pinterest walau sekedar browsing randomly. Rasanya asik aja, kalau selain menjadi pengguna (user), kita juga berkesempatan untuk berkontribusi dalam mengembangkan produk yang kita sukai itu.

Jadi, enaknya habis kuliah S1 ini saya ngapain ya...?



Solo, 13 Juli 2015
...maaf kalau tulisan ini pointless haha

Sabtu, 13 Juni 2015

Penilaian dan Saling Mengingatkan

Pernah nggak sih merasa dikecewakan oleh orang lain saat kita mengetahui sisi buruk mereka?

Saya pernah.

Dulu, saya kenal dengan seseorang yang menurut saya keren dalam suatu hal. Saya kagum terhadap orang itu. Dan tanpa sadar, saya seperti menjadikannya panutan. Saya seperti terinspirasi oleh orang itu. Saya mulai melakukan hal-hal baik, tanpa disuruh.

Tapi, suatu ketika saya mendapat cerita soal masa lalu orang yang saya kagumi itu. Dan ternyata, masa lalunya bisa dibilang kurang baik. Dia pernah melakukan suatu hal yang menurut saya seharusnya tidak dilakukannya. Di situlah saya kecewa. Cerita mengenai masa lalu orang tersebut telah mengubah penilaian saya untuknya. Yah, bukan serta-merta jadi benci juga. Tapi tingkat kekaguman jadi menurun lah. Dan saya jadi sadar bagaimanapun orang yang saya kagumi itu adalah manusia yang pasti punya cacat.

Saya juga pernah berusaha mengenal seseorang, tidak secara langsung, namun melalui tulisan-tulisannya di blog. Setelah membaca sekian banyak post, dari yang terbaru sampai yang telah berusia tahunan, saya dibuat kagum oleh orang itu. Setelah mengenalnya lewat blog, saya mendapat kesempatan untuk berinteraksi juga dengannya, jadi bisa berusaha mengenalnya secara langsung. Dan setelah mengenal secara langsung, saya jadi merasa bahwa saya telah memberikan penilaian terlalu tinggi untuk orang tersebut, hanya dari tulisan-tulisannya di blog. Bisa dibilang saya agak kecewa juga karena mendapati kesalahan/cacat orang tersebut secara nyata.

Padahal kalau dipikir-pikir, wajar saja kan manusia melakukan kesalahan? Entah itu di masa lalu atau di masa kini...? Dan memangnya penilaian saya selalu benar...? Bisa saja kan ada hal-hal lain yang luput dari pertimbangan saya saat menilai seseorang..? 

Hal ini mengingatkan saya akan pertanyaan yang pernah melintas di kepala: bagaimana penilaian orang-orang terhadap saya? Menurut mereka, saya ini seperti apa sih?

Penasaran aja. Nggak pengen orang-orang menilai saya terlalu tinggi, nggak pengen mereka kecewa.

Terlepas dari itu semua, bukankah kita masih bisa saling mengingatkan agar terhindar dari kesalahan? Bukan tak mungkin kan seseorang melakukan kesalahan karena lupa, misalnya saja lupa sholat karena terlalu fokus bekerja. Untuk orang-orang yang telah kita nilai sebagai orang baik, reminder dari kita bisa menjaganya untuk tetap baik atau bahkan lebih baik lagi (di mata kita). Sedangkan untuk orang-orang yang kita nilai kurang baik, siapa tau reminder dari kita bisa membuatnya jadi lebih baik...

Mari saling mengingatkan :)


Bandung, 13 Juni 2015
...semoga reminder yang diberikan terhitung sebagai usaha mencegah kemunkaran

Jumat, 24 April 2015

Karena Orang Lain

"Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik" 
[taken from my Tumblr dashboard, tapi lupa siapa yang nge-share]

---

Sore itu, mentoring diisi oleh mentor pengganti karena teteh mentor yang sebenarnya sedang sibuk mempersiapkan proses penggenapan setengah agamanya, cieee :)

Bertempat di selasar masjid kampus yang sore itu ramai dengan anak-anak SMP-SMA yang sedang belajar bersama. Sempat mager juga jalan dari gedung kuliah (labtek V) ke masjid kampus. Biasanya juga mentoring-nya di labtek V. Tapi khusus yang kemarin di masjid kampus.

Diawali dengan tilawah seperti biasa. Lanjut ke sesi perkenalan. Teteh mentor pengganti memperkenalkan dirinya dengan cukup detail. Setelah itu kami diminta bergiliran memperkenalkan diri masing-masing.

Masuklah ke sesi materi. Materi yang dibawakan adalah tentang ikhlas. Sebenarnya, kelompok mentor kami sudah pernah membahas tentang materi itu (mungkin sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu). Namun tak ada satu pun dari kami yang menyampaikan ke teteh mentor pengganti tentang hal ini. Si teteh pun melanjutkan penyampaian materinya.

Saat si teteh sampai ke sub bahasan mengenai niat, tiba-tiba saja saya teringat quote di atas. Lalu ingat bahwa dulu saya pernah melakukan perbuatan-perbuatan baik karena ada orang lain. Orang lain yang menurut penilaian saya adalah orang baik, sangat baik hingga membuat saya jatuh kagum. Dan saat jatuh kagum itu, saya jadi punya motivasi untuk mengikuti amalan-amalan baik orang tersebut. Demi memantaskan diri. Laki-laki baik jodohnya perempuan baik kan...? Hehe..

Berarti saya nggak ikhlas dong?

Pikiran itu berputar di kepala saya selama si teteh masih menyampaikan materinya. Saya berharap si teteh selesai menyampaikan materinya sebelum adzan maghrib sehingga saya punya kesempatan untuk mengutarakan pikiran itu. Saya tahu, kalau hal yang saya lakukan dulu itu tidak bisa dibilang ikhlas karena saya melakukan amalan-amalan baik bukan semata-mata karena Allah. Saya tahu. Tapi saya ingin tetap meminta pendapat dari si teteh. 

Alhamdulillah, I got the chance...

Pendapat si teteh adalah: nggak apa-apa kita jalankan saja amalan baik itu. Walau niatnya belum lurus, tetap lakukan saja. Sembari jalan sembari kita berusaha meluruskan niat. Jangan nunggu niatnya lurus sebelum melakukan suatu kebaikan, nanti bisa-bisa malah batal melakukan kebaikan itu.

Kakak-kakak sekelompok mentor juga menyampaikan pendapat mereka. Menurut kak A, ya nggak papa lakuin aja kebaikan itu. Walau niat belum bener, siapa tau kebaikan yang kita lakukan itu bisa membawa kebaikan bagi orang lain juga.

Okee dee..


Bandung, 24 April 2015
...sedang ingin melakukan suatu kebaikan untuk menyamakan kemampuan dengan seseorang, tapi koq kayaknya berat ya?

Minggu, 22 Maret 2015

Hari-hari Hectic

Akhir minggu sampai awal minggu kemarin adalah hari-hari yang padat bagi saya. Sekali-sekali saya ingin mengisi blog ini dengan cerita harian lah yaa.. Lumayan juga sebagai pengingat saya di masa depan kalau saya pernah menghadapi hari-hari seperti yang akan saya ceritakan ini ;)

Here you go...

13 Maret 2015
Hari terakhir UTS. Siangnya aku menyempatkan diri mengambil foto kahim-sekben di Jonas Banda yang lokasinya lumayan jauh dari kampus. Habis itu, aku agak lupa apa yang kulakukan. Yang jelas pas jam 15.00 lebih, aku kumpul kelompok Grafika. Pembagian tugas dilakukan dan mencoba install floobits supaya bisa ngoding barengan di satu file dengan Sublime Text. Saat maghrib tiba, aku langsung sholat lalu cus ke Ciwalk untuk foto Warga Basdat (asisten lab). Kami tidak langsung foto di studio, melainkan makan malam dulu. Jam 20.30 baru kami ke studio foto. Setelah foto, aku merasa pusing. Entah kenapa. Teman-teman Warga Basdat masih ingin karaokean, namun aku dengan kekeuh bilang aku mau pulang saja. Selama hangout bersama teman-teman Warga Basdat aku juga lebih banyak diam. Saat ditanya kenapa, aku jawab "Sedang banyak pikiran." Dan mereka pun dengan sangat care berusaha menghiburku :') They've been so kind to me, yet I don't think I've been a good friend for them.
Foto di luar studio fotonya

14 Maret 2015
Pagi ada acara rutin suatu organisasi. Sebenarnya siangnya ada kumpul kelompok Grafika lagi, tapi aku memutuskan untuk tidak ikut kumpul dan mencoba mengerjakan bagianku dulu sendiri di kosan. Saat masih mengikuti acara organisasi itu, teman kelompok tugas Kriptografi mengontak saya via chat FB. Lagi-lagi fokus saya terpecah: raga sedang mengikuti rapat, tapi pikiran melanglang buana ke tugas Kriptografi.
Sesampai di kos, saya mencoba mengerjakan tugas Grafika dulu. Harapannya, setelah bagian saya selesai, saya bisa total fokus ke tugas Kriptografi. Tapi ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan Grafika sangat banyak. Bahkan saya baru tidur setelah lewat jam 12 malam, itu pun tugas Grafika saya belum kelar dan saya tidak jadi menyentuh tugas Kriptografi sama sekali. Ah..

15 Maret 2015
Pagi-pagi saya berangkat ke kampus dengan niat merampungkan tugas Grafika yang memang harus dikumpulkan keesokan harinya. Sesampai di kampus, saya menemui kenyataan bahwa apa yang saya kerjakan kemarin masih sangat tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan kelompok saya. Walhasil, hasil kerja saya tidak saya integrasikan ke aplikasi yang akan dikumpulkan esok hari. Duhduh…
Hari itu sampai malam berusaha menyelesaikan tugas Grafika. Lelah ngoding, beralih ke laporan. Buntu mikir laporan, balik lagi ke kodingan.
Saat merasa bagian saya sudah selesai, saya pun beralih ke kerjaan organisasi: kompilasi LPJ akhir tahun yang akan dipresentasikan hari Selasa.
Sekitar jam 21.00 saya izin pulang ke teman-teman kelompok Grafika.

16 Maret 2015
Terbangun dini hari. Ada message FB di grup chat Grafika: file zip deliverable untuk dikumpulkan pagi itu. Tapi masih kurang laporannya. Karena merasa kemarin laporannya sudah selesai, maka aku tidak otak-atik file deliverable itu lagi. Ternyata pas paginya, setelah kuliah jam pertama, temen sekelompok bilang kalau laporannya belum digabungin ke file deliverable, itu 30 menit sebelum deadline pengumpulan. Langsung deh saya nyalakan laptop, dan mulai menggabungkan file laporan ke folder deliverable. Sempat waswas juga karena laptop belum dalam keadaan menyala, takut booting-nya lama.
Saat kuliah kedua hari itu, tiba-tiba ada telepon masuk, dari nomor tak dikenal. Saya pun keluar kelas untuk mengangkatnya. Ternyata itu dari suatu perusahaan yang tempo hari saya kirimi email lamaran magang. Saya diundang untuk wawancara keesokan harinya. Tambah lagi hal yang harus saya lakukan: mempersiapkan diri untuk wawancara besok.
Selesai kuliah jam 11, langsung demo Grafika. Setelah itu saya pun mulai kompilasi LPJ akhir tahun lagi. Jam 14-16 kuliah lagi. Setelah itu saya membuat LPJ sekretaris dan lagi-lagi kompilasi LPJ.
Malamnya rakor terakhir sebelum forum LPJ keesokan hari. Forum LPJ dilakukan dalam 2 batch, 2 hari, Selasa dan Rabu. Saya (sekretaris) dan bendahara mendapat giliran presentasi hari Selasa. Itu artinya, selain kompilasi LPJ, mempersiapkan diri untuk wawancara, saya juga harus membuat slide presentasi.
Saat semua LPJ divisi yang sudah ada sudah dikompilasi, saya pun curi-curi kesempatan untuk mempersiapkan wawancara keesokan hari. Saya buka website perusahaan yang akan mewawancarai saya. Saya kulik-kulik. Teman saya yang bendahara dengan baik hati menyarankan saya untuk belajar mengenai algoritma-algoritma programming sederhana. Dia menunjukkan satu web untuk latihan programming. Dia juga mencontohkan solving satu soal mengenai Palindrom.
Sesampai di kosan, saya berniat untuk merampungkan kompilasi LPJ, tidur sebentar, lalu belajar untuk wawancara lagi. Tapi apa daya, mata sudah berat sekali. Saya pun langsung tidur tanpa merampungkan kompilasi LPJ (lagipula masih ada divisi yang belum selesai LPJ nya).

17 Maret 2015
Terbangun dini hari (lagi). Ada message FB, isinya LPJ dari suatu departemen. Ya sudah, langsung kompilasi LPJ lagi. Masih lumayan banyak juga yang kurang. Padahal udah hampir 100 halaman (sampe-sampe MS Word nya lemooot). Langsung japri kadiv-kadiv dan kepala departemen yang LPJ-nya belum lengkap.
Selesai kuliah langsung berangkat ke kantor perusahaan yang akan mewawancara. Walau wawancaranya masih jam 13.15. Makan siang di dekat kantornya. Pas ada beberapa laki-laki yang datang ke warung makan, saya dan teman-teman langsung cabut (kebetulan udah selesai makan juga) karena curiga kalau laki-laki itu adalah karyawan kantor tempat kami akan diwawancara (dan kami berencana untuk mengobrolkan soal wawancara nanti, nggak lucu kan kalau mereka denger).
Jam 13.00 kami ke kantor itu. Beberapa menit kemudian kami bertiga dibawa ke tempat terpisah. Saya dapat tempat di teras bagian dalam yang ada kolam ikannya, suasananya sejuk. Saya diwawancara oleh 3 orang, masing-masing 15 menit. Well, saya mencoba untuk menjawab semua pertanyaan mereka sebisa saya. Sekarang saya masih menunggu hasil penilaian mereka.
Satu pertanyaan dari salah satu pewawancara menanyakan soal bagaimana program untuk memeriksa suatu anagram yang valid. Dalam menjelaskan soalnya, dia menyebut-nyebut soal palindrom juga. Kebetulan sekali kemarin saya dikasih contoh dengan persoalan palindrom juga sama temen saya yang bendahara itu.
Selesai wawancara sekitar jam 14.15. Saya masih menunggu sebentar di kantor itu. Tapi saat jam menunjukkan pukul 14.30 lebih, saya pamit duluan karena jam 15.00 harus bertemu dengan asisten suatu tugas kuliah.
Sempat bingung harus naik angkot apa untuk kembali ke kampus. Tapi akhirnya selamat sampai ke kampus, telat sekitar 5 menit dari jadwal asistensi.
Saya langsung mencari teman kelompok tugas saya lalu kami sama-sama menghadap ke asisten.
Selesai asistensi, saya mulai mengerjakan slide presentasi lagi. Ada juga LPJ dari divisi yang baru selesai dan belum dikompilasi.
Jam 16.00 jadwal saya mentoring agama. Awalnya saya mau izin untuk tidak ikut dulu. Tapi akhirnya saya datang juga. Dan walau rencana awal saya hanya akan ikut sampai jam 17.00, nyatanya saya baru berani pamit duluan pas jam 17.30 an.
Setelah itu saya langsung ngebut kompilasi LPJ dan menyelesaikan slide presentasi. Jam 19.00 saya pindah ke ruang kelas yang digunakan untuk forum LPJ. Sempat kaget saat diberi tahu saya dapat giliran presentasi pertama. Tapi ternyata jadinya dapat giliran presentasi setelah suatu departemen. Sekitar jam 21.00 saya selesai presentasi. Saya pun pamit pulang duluan karena mau ngedeadline tugas Kriptografi yang harus dikumpulkan besok siangnya.
Saya menginap di rumah teman sekelompok tugas Kriptografi. Lagi-lagi berniat untuk tidak tidur, untuk marathon menyelesaikan tugas Kriptografi. Tapi yang ada tetep aja tidur, walau tidurnya tidak jenak (jam 23.00 an ketiduran, bangun jam 00.30 an, tidur lagi jam 02.00 an, bangun jam 04.00 an)

18 Maret 2015
Hari itu ngantuk terus di kelas. Susah menjaga mata tetap terbuka dan konsentrasi tetap terjaga. Malamnya datang forum LPJ lagi. Berniat untuk ikut sampai selesai karena di akhir akan ada penilaian kinerja.
Saat penilaian kinerja, semua nilai ditampilkan di depan. Malu saat tahu ada nilai C untuk kinerjaku. Astaghfirullah, ini baru penilaian kinerja di suatu organisasi. Gimana kalau pas hari akhir nanti? Saat aku dinilai oleh Allah… betapa malu jika semua nilai jelekku diketahui orang lain.

Setelah penilaian kinerja, ada sertijab ke pengurus baru. Namun aku memutuskan untuk langsung pulang ke kosan karena sudah super ngantuk. Dan rasanya aku pengen teriak setelah semua itu selesai. Setelah hari-hari hectic terlampaui.
Foto setelah rakor terakhir sebelum forum LPJ (16 Maret 2015)
Bandung, 22 Maret 2015
...sedang berusaha move on.

Kamis, 18 September 2014

Inkonsistensi yang Konsisten

Pertama-tama, maafkan saya yang telah melanggar rencana saya sendiri untuk mempost materi kuliah tiap minggu. Di post kali ini pun saya belum akan melanjutkan serial What I've Learned This Week. Saya cuma mau curhat sedikit.

Alhamdulillah, di tingkat tiga ini, saya mulai sadar masalah akademik. Emang sih di awal-awal masih suka agak males buat belajar / ngulang materi di kosan. Tapi saya bisa memaksa diri sendiri untuk tetap baca-baca dikit di kosan.

Sekarang, saat flow perkuliahan dan kegiatan lain mulai naik, waktu semakin tidak terasa berlalunya. Semester ini saya punya target buat coba-coba ikut lomba. Semester ini saya juga masih punya amanah lumayan gede di himpunan. Semester ini saya baru aja direkrut jadi asisten lab. Semester ini saya memutuskan untuk berhenti jadi tutor kelompok belajar di masjid kampus (dan saya tidak menyesali pilihan ini, karena saya sudah niat buat mengalihkan slot waktu mengajar untuk melakukan eksplorasi di major saya, salah satunya ya dengan ikut lomba).

Minggu lalu saya disibukkan dengan deadline proposal PKM. Sehabis kuliah saya masih harus kumpul bareng temen-temen kelompok PKM sampai malam. Sampai kos rasanya sudah capek sekali dan mulai tidak konsisten dengan jadwal belajar di kos. Dampaknya? Dua kuis saya di minggu itu tidak saya persiapkan dengan baik. Nilai pun pas-pasan. Hmm... tapi setidaknya saya jadi tahu kalau saya harus mengubah strategi belajar saya :3 Dan saya juga jadi sadar kalau 'menghafal' itu bisa dibilang bagian kecil dari 'memahami'. Mungkin awalnya kita harus menghafal sesuatu, tapi agar sesuatu itu bisa bertahan lebih lama di otak kita perlu untuk memahaminya juga.

Saya sempat merasa agak menyesal juga memutuskan ikut PKM (saat harus ngejar deadline proposal). Dengan begitu saya jadi tidak punya waktu untuk belajar. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, bukankah ikut PKM itu juga salah satu kesempatan untuk belajar? Memang sih hasilnya tidak akan mendongkrak IP di transkrip, tapi kan masih ada efek positifnya juga.. Jadi harusnya saya nggak setengah-setengah ngerjain proposalnya, ikutan PKM-nya.

Hari ini menjadi hari pertama saya merasa lumayan free setelah hari-hari kemarin penuh dengan deadline. Rasanya saya perlu recharge semangat. Yosh!

Bandung, 18 September 2014

Jumat, 20 Juni 2014

Jawaban Kegelisahan Hati

Ciee banget nggak sih judulnya :3

Well, asal-usul tulisan ini adalah kemarin aku ngepost sebuah foto pemandangan yang diambil dari lantai 4 kosan. Lalu ada teman yang berkomentar, "Weh kosanmu 4 lantai?" Menurutku komen itu menyiratkan kalau menurut si komentator 4 lantai itu tinggi sekali untuk sebuah kosan (hehe, menurutku lho ya.. Kalau ternyata yang dimaksud si komentator berbeda ya maap). Aku tiba-tiba teringat, dulu waktu kecil sempat pengen tinggal di rumah bertingkat. Yah minimal 2 tingkat lah. Nggak tau deh sebabnya apa. Mungkin gara-gara kebanyakan nonton TV :3

Now, here I am. Di sebuah rumah dengan 4 lantai. Menghuni kamar di lantai 2. Nggak nyangka aja keinginan konyol masa kecil bisa tercapai sekarang, setelah belasan tahun berlalu. Yah, walaupun rumahnya nggak sebagus rumah-rumah bertingkat yang di TV, yang penting tetep rumah bertingkat, haha.

Terus pikiran saya pun berlanjut ke sebuah tulisan di salah satu akun Tumblr favorit saya yang dipost beberapa hari lalu. Tulisan tersebut menceritakan bahwa, 10 tahun dari hari ini, mungkin kita akan sudah mendapat jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menimbulkan kegelisahan tersendiri karena belum terjawab saat ini. Mungkin sekarang kita bertanya, siapa jodoh kita nanti. Apakah dia sudah pernah kita temui, atau belum sama sekali. Apakah dia berasal dari teman-teman di masa lalu, atau berasal dari teman-teman yang sekarang sedang sering bersama kita. Atau mungkin pertanyaan lain seputar apa pekerjaan kita nanti. Atau apakah cita-cita kita yang ini, yang itu, akan tercapai. Pertanyaan-pertanyaan akan masa depan semacam itu mungkin akan sudah terjawab 10 tahun dari sekarang.

Sekarang yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Mengisi waktu yang menjadi jarak antara pertanyaan dan jawaban dengan hal-hal yang sekiranya tidak akan membuat kita menyesal di akhir. Live life to the fullest gitu deh…

Dari pemikiran-pemikiran di atas, pengembaraan pikiran saya berlanjut kepada hal-hal yang lumayan membuat saya gelisah saat ini. Keinginan-keinginan untuk melakukan hal-hal luar biasa. Keinginan untuk menjadi orang yang eksistensinya berarti bagi orang lain. Keinginan untuk membuat hidup saya nggak "gini-gini aja".

Saya ingin seperti si P yang melanglang buana ke berbagai negeri bukan hanya sekedar jalan-jalan liburan. Saya ingin seperti si S yang suka ikut lomba dan menang. Saya ingin seperti si A yang gigih mencari beasiswa hingga akhirnya mendapatkannya. Saya ingin seperti si K yang benar-benar serius menjalani pendidikannya, sangat jarang malas, dan bisa mengatur waktu dengan baik. Apakah bisa?


Well I guess.. It's the time for me to keep on moving one by one step. Lessen the space between my questions and the answers in the future. Bismillah…


Bandung, 15 Juni 2014
Backsound yang didengerin pas nulis: The Climb - Miley Cirus

PS: Judul post ini kayak gitu karena ditulis pas lagi seneng-senengnya sama OST Gie yang judulnya Cahaya Bulan :3

Selasa, 15 April 2014

Memakai Sepatu Orang Lain

Sekitar sebulan yang lalu -- pas musim kampanye di himpunan -- saya nonton sebuah video tanpa dialog yang menceritakan bahwa setiap orang itu punya 'hidup' nya masing-masing. Mungkin di saat kita merasa senang karena mendapat kiriman uang dari ortu, ada teman kita yang sedang merasa khawatir karena ayahnya sedang sakit. Saat kita merasa puyeng dengan tugas-tugas kuliah, mungkin teman kita sedang merasa sangat bersemangat untuk mengejar beasiswa ke luar negeri. Dan lain sebagainya... Kalau mau nonton videonya, silakan klik link ini.

Beberapa hari setelah nonton video itu, saya mulai kepikiran untuk posting soal empati, frasa kerennya "Memakai Sepatu Orang Lain" (lebih lengkapnya "kita nggak bisa bener-bener mengerti orang lain sampai kita berdiri dengan sepatunya"). Tapi dorongan untuk menulis belum terlalu besar rupanya --"

Sekarang, saya memutuskan untuk menuliskannya saja.. gegara saya jadi kepikiran terus masalah ini..

****

"Ih, si A sekarang kok nyebelin sih..."

Itu salah satu pikiran saya soal seorang teman yang entah kenapa sikapnya menyebalkan sekali. Saya jadi sebel juga sama dia, tiap kali ngajak ngobrol ditanggepinnya dengan muka nggak ramah.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin sayanya juga telah bersikap menyebalkan ke si A kali yaa... Mungkin saya telah bersikap menyebalkan dan tidak ramah ke orang lain, sehingga saya diperlakukan dengan menyebalkan dan tidak ramah juga oleh orang lain... Mungkin si A memang lagi ada masalah, lagi not in the good mood... Dan mungkin-mungkin yang lain. Semoga saja rasa sebal saya ke si A bisa segera hilang (yeah, saya mengaku masih sebal sama si A).

****

"Yu, tugas udah selesai?" tanya seorang temen.

"Belum nih, bagian X masih error..." jawab saya dengan muka memancarkan pesan 'jangan ganggu saya, saya mau nyelesaiin tugas ini dulu'. Padahal -- kayaknya -- temen yang bersangkutan itu mau minta bimbingan/pencerahan/bantuan buat ngerjain tugas itu. Melihat respon saya terhadap pertanyaannya, dia jadi segan mengganggu saya untuk tanya-tanya soal tugas.

Saya akui, saya telah bersikap menyebalkan ke temen saya yang satu itu. Empati saya masih kurang --"

****

Dari pemikiran 'Memakai Sepatu Orang Lain' ini, pikiran saya sampai ke ingatan materi 7 Habits yang pernah saya terima pas masih berstatus MaBa. Materi soal sifat reaktif.

Yang dimaksud dengan sifat reaktif di sini adalah sifat seseorang yang gampang terpengaruh oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya menyenangkan, suasana hatinya ikut senang. Kalau lingkungannya tidak menyenangkan, suasana hatinya akan memburuk. Kalau orang lain bersikap tidak menyenangkan, orang reaktif akan ikutan bete.

Well, saya jadi merasa kalau saya masih terlalu reaktif --"

***

Oke, maaf kalau postingan ini 'curhat' banget dan kesannya seperti menjelek-jelekkan diri saya sendiri (saya hanya berusah bersikap objektif). Yang jelas, pesan yang ingin saya sampaikan adalah

Jangan buru-buru memberikan reaksi terhadap rangsangan dari luar (orang lain), apalagi kalau reaksinya negatif. Coba sejenak 'posisikan diri di sepatu orang tersebut'.



Bandung, 15 April 2014
Sebulan lagi liburan
Tugas akhir semester mulai menumpuk
UAS menjelang...

Senin, 24 Maret 2014

Rencana Allah Lebih Indah

"Waduh, argh, pengen skip hari ini...!! Banyak banget yang musti dikerjain hari ini...!! Astaghfirullah..."

Kira-kira seperti itu gumaman saya saat terbangun dini hari tadi dan melihat jam di hape.

Yah, kelemahan saya ini memang dalam hal menahan kantuk. Kalau sudah ngantuk, saya bakal susah memaksa diri untuk konsen ke pekerjaan. Terus, kelanjutannya adalah saya (lagi-lagi) akan membatin, "Ya udah, tidur aja, daripada bangun tapi terkantuk-kantuk terus nggak konsen, nggak produktif. Mending tidur dulu 3 jam laa..."

Lalu saya tidur...

Syukur-syukur kalau saya beneran bisa bangun setelah tertidur 3 jam. Sering juga saya baru bangun setelah 5 jam atau lebih. Sering juga saya terbangun, tapi habis itu tidur lagi (batal deh nerusin kerjaannya). Sering juga saya bangun, lalu merasa menyesal karena telah menuruti keinginan untuk tidur. Tapi kadar penyesalan masih kecil sepertinya, buktinya sampai sekarang saya masih sering mendahulukan tidur kalau sudah terserang kantuk :3

Balik ke cerita hari ini. Jadi ceritanya, hari ini saya punya banyaaakk bangeeett hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan: 2 tugas kepanitiaan, 1 tugas proker organisasi, 1 tugas kuliah yang musti dikumpul, 1 kuis di sore hari (dan pas kebangun saya belom selesai belajarnya). Rasanya beneran pingin skip hari ini.

Tapi saya tahu, tidak mungkin bisa skip. Di mana tanggung jawab saya? Cemen banget sih sampai minta skip #talktomyself

Akhirnya saya pun mulai merancang strategi untuk mengerjakan semua yang harus dikerjakan. Pertama, saya mengerjakan tugas kepanitiaan dulu. Kenapa bukan belajar atau mengerjakan tugas kuliah dulu? Karena menurut hemat pikir saya tadi, tugas kepanitiaan itu adalah tugas termudah yang bisa dilakukan dan tidak memakan waktu yang lama. 

Tapi saya mengerjakan tugas kepanitiaan itu juga diselingi dengan membaca bahan untuk kuis. Rasanya nggak tenang gara-gara belum belajar buat kuis.

Saya juga sudah merancang strategi untuk melaksanakan amanah proker organisasi. Bisalah dilaksanakan di jeda kuliah siang ini...

Setelah tugas kepanitiaan saya anggap cukup (maksudnya cukup nggak malu-maluin kalau ditanyai sama temen-temen panitia, hoho), saya berpindah ke tugas kuliah. Alhamdulillah, tugasnya sudah dicicil, jadi bisa cepet juga menyelesaikannya. Tambah lagi itu tugas kelompok. Jadi setelah saya selesai, saya bisa menyerahkannya ke teman sekelompok supaya untuk selanjutnya di handle oleh mereka.

Tinggal belajar buat kuis. Saya baca lagi buku kuliah yang tebel dan enak dijadiin bantal. Semakin lama, semakin susah memahami kalimat-kalimatnya. Semakin susah, jadi semakin sering otak ini idle, tidak berpikir. Terus jadi ngantuk deh! Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membaca materi kuis, daripada saya tidur lagi --"

Seharian di kampus saya memanfaatkan waktu-waktu jeda untuk menyelesaikan tugas-tugas kepanitiaan dan organisasi. Sempat berpikir untuk tidak membuka materi kuis lagi. Tapi alhamdulillah, ternyata masih ada slot waktu yang bisa digunakan. Sekitar sejam sebelum kuis, saya punya waktu untuk membaca materi kuis!

Jam 16.00, saya sudah standby di kelas. And guess what?! Beberapa menit kemudian si ketua kelas berdiri dan membacakan SMS dari sang Dosen: kuliah sore ini ditiadakan.

Berarti nggak jadi kuis... Alhamdulillaaaahh, dapet injury time buat persiapin diri lagi, semoga aja bisa lebih siap nanti.

Sekali lagi saya merasakan Rencana Allah Lebih Indah. Betapa saya telah memadatkan kegiatan di waktu yang saya miliki dan menguat-nguatkan diri untuk menjalani semuanya... salah saya juga sih yang kemarin-kemarin tidak mengatur waktu dengan baik..


"Setengah ditambah setengah itu sama dengan nol."

Bandung, 24 Maret 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Dewasa

Sembari menunggu kuliah (yang baru mulai sekitar 3 jam lagi --"), mending update blog :3

Belakangan ini, saya kepikiran masalah kedewasaan seseorang. Gara-garanya adalah saya sadar kalau saya bertambah tua (bentar lagi kepala 2) tapi saya masih merasa bocah banget.

Emang, orang yang dewasa itu yang seperti apa?

Seingat saya, dosen saya pernah bilang bahwa orang yang dewasa itu bisa memilah antara hal yang penting dan hal yang tidak penting untuk dilakukan atau dipikirkan. Orang yang bisa menentukan mana hal yang lebih penting dari sekumpulan hal-hal penting. Sederhananya, orang itu bisa menyusun prioritas dengan benar lah...

Bisa menentukan pilihan antara menuruti keinginan untuk melakukan hobi atau mempersiapkan diri untuk kuliah esok hari terlebih dulu. Bisa menentukan pilihan antara menghabiskan waktu dengan leha-leha atau mengeksplorasi rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru. Bisa menentukan pilihan untuk menuruti rasa galau atau berusaha mengabaikannya dan melanjutkan melakukan sesuatu yang memang harus dikerjakan (kewajiban tidak terbengkalai). Dan lain sebagainya...

Seingat saya juga, dulu seorang teman pernah nge-tweet yang isinya kurang lebih begini:

"Dewasa itu melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan, bukan hanya melakukan sesuatu yang disukai."

Hmm, iya juga ya. Kan tidak semua kewajiban kita sukai. Pasti ada saja kewajiban yang sebenarnya kita tidak suka melakukannya. Mungkin mindset kita perlu diubah dalam memandang kewajiban tersebut. Seperti kata orang, "Do what you love. Love what you do." 

Sebenernya saya masih belum tahu sih, gimana caranya 'love what you do'. Adakah yang bisa memberi tahu saya caranya? Please, post aja di comment yaa :) Thank you...



Bandung, 22 Januari 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Suka Baca Novel



“Hobi kamu apa?”
“Baca novel.”


Itu jawaban saya setiap kali ditanya masalah hobi. Saat Osjur kemarin, saya dan teman-teman seangkatan mendapat tugas untuk saling mewawancarai setiap orang di angkatan kami. Otomatis, saya jadi sering banget ditanya (dan bertanya juga) soal hobi. Somehow, saya sempat merasa kalau hobi saya ini ‘nggak banget’. Hmm, mungkin karena kebanyakan temen akan menjawab “dengerin musik” atau “nonton film” kalau ditanya hobi, saya jadi merasa kalau hobi saya keren (hari gini menemukan orang yang suka membaca itu susah kan?). Tapi, begitu ketemu sama temen yang hobi baca juga dan bacaannya adalah buku-buku nonfiksi (yang menurut saya ‘berat’), saya langsung merasa minder. Merasa diri ini kekanakan banget gegara baca novel doang.

Kenapa saya suka baca?
Mungkin ini adalah hasil kombinasi dari seorang Ibu yang telaten mengajari saya mengeja huruf dan seorang sepupu jenius yang bahkan sebelum masuk TK pun sudah hobi baca majalah Bobo. Saya jadi getol banget belajar baca. Pengen ngejar tuh sepupu jenius. Pengen baca Bobo juga :3

Kenapa sukanya baca novel?
Nah, kalau yang ini peran Ibu saya nih. Beliau yang pertama kali mengenalkan saya pada jenis bacaan selain majalah Bobo, yaitu novel. Beliau berjanji akan membelikan saya novel kalau nilai saya bagus. Saat itu saya masih duduk di bangku SD, mungkin kelas 3 atau 4.
Singkat cerita, tibalah hari di mana Ibu saya harus menepati janjinya, hehe. Saya diajak ke toko buku. Pas itu, salah satu novel yang sedang dijagokan adalah Harry Potter (baru ada buku 1 sampai 4). Langsung deh dibeliin Harry Potter 1 (Batu Bertuah). Sampai rumah langsung saya baca.
Dan saya pun ketagihan! Sejak saat itu, saya mulai mengoleksi novel. Rak buku di kamar saya mulai dijejali dengan serial Lima Sekawan dan beberapa novel lain karangan Enid Bylton (ini juga rekomendasi dari Ibu saya; beliau dulu juga suka baca karya-karya Enid Bylton). Saya ingat, betapa dulu sebelum tidur, saya selalu menyempatkan diri untuk menghitung jumlah buku di rak. Memastikan kalau nggak ada satu buku pun yang tercecer (soalnya dulu kan adik saya masih kecil, takutnya mereka ngambilin buku saya terus nggak dibalikin, hehe). Sebelum tidur saya sempatkan baca novel, biasanya sih reread aja… Gak setiap kali saya bisa punya novel baru segera setelah selesai membaca satu novel kan?

Yah… itulah awal mula hobi saya.

Dulu juga sempat punya keinginan untuk punya perpustakaan pribadi yang isinya novel-novel kesukaan. Terus, beberapa hari yang lalu tidak sengaja mampir ke kineruku.com. Dan keinginan saya untuk punya perpustakaan pribadi pun muncul kembali. Pengennya mulai sekarang rutin beli buku, misal sebulan sekali ke toko buku dan harus beli buku. Buku itu investasi coy…

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, baca novel itu ada gunanya koq.. karena kan pasti ada info-info yang diselipkan si penulis di novelnya. Lagian, baca novel itu bisa melatih imajinasi juga… 


"Sometimes I read because my reality is just too difficult"
[source

Solo, 10 Januari 2014


Sabtu, 04 Januari 2014

Tidak Menunda, Bersyukur

Ini salah satu pikiran yang terbetik di benak saya saat sendirian mencuci piring di dapur. Tapi yang membetikkan pikiran ini bukan masalah cuci piring, bukan... Melainkan karena ada satu tugas yang saya rasa sudah saya selesaikan. Dan saya jadi merasa lebih ringan untuk bersyukur atas tugas itu.

Jadi, apa pemikiran itu?

"Tidak menunda-nunda pekerjaan adalah jalan untuk menjauhi keluh dan mendekatkan diri kepada syukur. Karena bersyukur itu lebih baik daripada mengeluh, kenapa kita harus menunda melakukan/mengerjakan tugas kita?"

Kalau kita menunda-nunda mengerjakan sesuatu, otomatis waktu kita untuk menanggung beban itu jadi lebih lama. Ini bisa menimbulkan stress, seperti kata pak Stephen Covey:

"Bukan BERAT beban yang membuat kita stress, tetapi LAMAnya kita memikul beban tersebut."

Nah, saat sedang stress, lebih mudah untuk mengeluh atau bersyukur?

Kemarin, saat saya mengunjungi suatu toko buku, saya menemukan buku yang berisi tips rehabilitasi untuk orang-orang yang suka menunda-nunda melakukan sesuatu (saya lupa judulnya). Salah satu tipe penunda-nunda pekerjaan yang dibahas di dalam buku itu adalah orang yang perfeksionis. Dan saya merasa itu tipe penunda-nunda yang paling mendekati karakter saya (ya, saya adalah orang yang suka menunda-nunda). Penunda-nunda tipe ini belum bisa memulai suatu pekerjaan kalau keadaan belum benar-benar sempurna. Untuk kasus saya, keadaan sempurna untuk memulai mengerjakan sesuatu tercapai jika memang saya sudah ada mood atau keinginan kuat untuk memulainya. Selain itu, 'keterpaksaan' mengerjakan sesuatu (karena sudah mendekati deadline) juga bisa membuat saya memulai suatu pekerjaan.

Nah, kebetulan tugas yang saya sebutkan di bagian awal post ini adalah tugas yang lumayan besar, butuh waktu yang tidak sebentar. Mood saya untuk mengerjakan tugas itu tak kunjung terbentuk karena selalu ada pikiran negatif dalam diri saya bahwa mengerjakan tugas itu pastilah membosankan. Tapi, karena tugas ini sudah molor jauh dari deadline dan tidak hanya menyangkut saya pribadi, akhirnya saya paksa diri sendiri untuk mulai 'merangkak' mengerjakan tugas itu. Tiap hari saya sempatkan mengerjakan tugas itu. Dan setiap kali setelah mencicil menyelesaikan tugas itu, perasaan saya membaik. Saya senang karena, walau mungkin hanya sedikit dan tugas itu belum selesai, saya telah membuat kemajuan. Rasanya seperti berkurang beban yang saya tanggung.

Semoga pemikiran saya ini bisa memotivasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lagi...
Aamiin.

Solo, 4 Januari 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Been A Secretary

Saya lagi bosen. Bosen merapikan sekian data yang harus dilampirkan di sebuah laporan pertanggungjawaban suatu acara. Dan saya jadi menyadari banyak kekurangan saya selama jadi sekretaris di kepanitiaan acara tersebut...

1. Template
Ini hal penting pertama yang muncul di benak saya. Template untuk berbakai berkas yang dipakai oleh tiap divisi. Misalkan template laporan progress, template timeline, dll. Harusnya saya menetapkan template ini dan tiap divisi tinggal mengisinya. Bukan malah menyerahkan sepenuhnya kepada tiap divisi. Walhasil, berkas yang dihasilkan bisa jadi beda-beda untuk masing-masing divisi. Padahal untuk hal ini, keseragaman itu bagus. Keseragaman bisa membuat laporan pertanggungjawaban ini lebih enak dibaca.

2. SOP
Ini penting banget. Misalnya aja SOP permintaan pembuatan surat keluar. Inget banget lah dulu, anak-anak divisi kalau minta dibuatkan surat suka mendadak dan kurang jelas spesifikasinya. Setelah saya masuk ke staf sekretaris di himpunan, saya baru tahu kalau surat keluar itu bisa dibuat sendiri oleh yang membutuhkan setelah orang itu minta nomor surat ke sekretaris dan mengisi daftar surat keluar (tanggal pembuatan, ditujukan ke siapa, perihal apa, dll). Terus sekretaris tinggal ngecek, mengesahkan (misal dengan stempel), dan mengarsipkan tentunya.

3. Arsip
Well, banyak banget hal-hal yang kurang terarsipkan dengan baik oleh saya selama saya jadi sekretaris di acara itu. Sekarang, pas nyusun LPJ, baru deh terasa banget repotnya ngumpulin berkas-berkas yang masih berserakan. Harusnya hal sekecil apapun yang dilakukan anak-anak divisi ada dokumentasinya, untuk diarsipkan.

Haha, padahal selama menyandang putih abu-abu saya sudah punya pengalaman jadi sekretaris, baik sekretaris organisasi maupun sekretaris acara. Tapi begitu saya diamanahi jadi sekretaris acara pas kuliah ini, saya merasa fail...

Saya pun jadi membanding-bandingkan acara-acara saya di SMA dengan acara saya yang kemarin. Dan saya pun menyadari kalau acara-acara di SMA itu lingkupnya kecil, paling cuma acara internal buat sekolah aja. Sedangkan acara saya yang kemarin itu lingkupnya lumayan besar. Selain itu, di SMA dulu, saya merasa masih banyak mendapat bantuan dan keringanan dari guru-guru. Sedangkan saat kuliah ini, saya dituntut untuk bisa mandiri, profesional, dan bisa bekerja sama dengan teman-teman panitia yang tidak sedikit jumlahnya. Mungkin ini yaa salah satu bedanya siswa sama mahasiswa...

-----
Semoga bisa jadi lebih baik.
Solo, 31 Desember 2013
...lagi bosen, di kamar...

Rabu, 27 November 2013

Nggak Bosen Bahas Waktu


Pernah nggak sih ngerasa waktu 24 jam dalam sehari itu kurang?

Well, kalau aku sih pernah...

Tapi setelah direnungi lagi, kayaknya kalau sehari dikasih waktu 30 jam pun kita bakalan merasa kurang kalau kita tidak meng-improve manajemen waktu kita.

Aku inget materi yang pernah kuterima saat jadi maba dulu, materi 7 Habits-nya Stephen Covey. Kalau nggak salah yang point 'Put First Thing First'. Ada video beberapa orang yang lagi nyusun batu-batu berbagai ukuran ke dalam suatu wadah dari kaca. Kalau orang-orang itu masukin batu-batu yang kecil dulu, batu-batu besar nggak akan bisa masuk semua. Tapi kalau caranya dibalik, yaitu masukin batu-batu yang besar dulu baru masukin batu-batu yang kecil, semua batu itu bakal bisa masuk dan muat di wadah kaca itu. Kalau mau tau lebih detil, bisa baca ini.

Masih masalah waktu juga, ada cerita nih... Jadi, semester ini, aku ada kuliah yang mulainya jam 7. Nah, dosennya ini menerapkan aturan, mahasiswa yang telat dateng (nggak peduli walau hanya semenit, nggak peduli gara-gara macet, pokoknya telat aja) bakal dapet hukuman. Nah, suatu pagi, ada temenku yang dateng telat mencoba bernegosiasi dengan beliau. Temenku mengusulkan agar kuliah dimundurkan 20 menit, jadi dimulai jam 7.20. Dengan begitu, (harapannya) nggak bakal ada lagi mahasiswa yang telat dateng.

Sang Dosen pun menolak. Kata beliau, kalau pun waktu kuliah dimundurkan tapi mindset mahasiswa tidak berubah, tetep aja bakal ada mahasiswa yang datang telat. Yang harusnya diubah itu mindset mahasiswa soal waktu. Mahasiswa harus bisa ngatur waktu. Kalau kuliah mulai jam 7, ya sediakan waktu yang cukup antara bangun tidur sampai jam 7 (waktu buat siap-siap dan perjalanan ke kampus). Misal udah tahu kalau di atas jam 6 jalanan bakal macet, ya berangkat dari rumah harus sebelum jam 6.

Hmm, bener juga sih...

Dari sini juga aku jadi punya rumusan baru:

“Manusia itu nggak akan pernah bisa mengalahkan waktu. Tapi manusia bisa menang bersama waktu. Yaitu dengan 'membuat kesepakatan' dengan waktu dan melaksanakan kesepakatan itu.”

Maksud membuat kesepakatan di sini adalah mengatur waktu. Jadi kita mengalokasikan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang prioritasnya tinggi terlebih dahulu, baru kemudian alokasikan waktu untuk hal-hal yang prioritasnya lebih rendah. Setelah alokasi, hal yang selanjutnya harus kita lakukan hanyalah patuh dan disiplin terhadap jadwal yang telah kita susun sendiri itu. 


Salam,
yang lagi merasa waktu berjalan tidak begitu cepat tapi padet banget

Sabtu, 23 November 2013

Manfaatkan Kesempatan yang Ada


“Kak, kenapa dulu milih kuliah di Informatika?”

Itu suatu pertanyaan yang aku lontarkan kepada kakak tingkat kemarin. Aku yang saat itu sedang merasa 'have no other choices' : tidak ingin kuliah di jurusan lain tapi juga merasa belum terlalu proper kuliah di Informatika.

Ini semester pertamaku sebagai mahasiswa Informatika, walau aku sudah berstatus mahasiswa sejak setahun yang lalu. Kalau ada adik kelas yang menanyakan pertanyaan di atas kepadaku, maka jawabku adalah:

“Sebenernya dulu aku mau masuk Matematika, FMIPA. Tapi kata ibuku, sayang kalau udah kuliah di institut teknologi ambilnya MIPA lagi, MIPA lagi. Ambil yang teknik sekalian lah!” Dan aku pun mulai mencari, bidang teknik apa yang menarik minatku.

Lalu kenapa akhirnya Informatika? Simple sebenernya.. aku pernah membaca salah satu novel karya Dan Brown dan menemukan istilah 'kriptografi' di sana. Lalu, saat browsing dan menemukan silabus kurikulum dari Prodi Informatika di PTN yang kuincar, aku menemukan mata kuliah 'Kriptografi'. Fix, sejak itu aku menempatkan Informatika di pilihan pertama.

Terkesan tidak pikir panjang kan? Hehe, karena aku memang tipe orang yang tak suka berlama-lama menimbang pilihan yang ada. Aku inginnya segera memutuskan.

And, finally... here I am..

Sekarang, aku dikelilingi orang-orang yang jago banget masalah ke-informatika-an. Jebolan TOKI. Jawara kompetisi nasional. Imba... Dan aku mulai merasa minder. Mulai merasa diri ini nggak pantas berada di antara orang-orang itu. Sampai akhirnya aku menanyakan pertanyaan di atas kepada salah seorang kakak tingkat. Kakak tingkat itu menjawab bahwa dari sekian mapel SMA, mapel komputer adalah mapel yang lumayan mudah dia mengerti. Lalu aku lanjutkan pertanyaanku: “Sekarang, setelah tercapai buat kuliah di Informatika, gimana rasanya kak?” Dia pun menjawab sambil tersenyum, “Hehehe, rasanya... kayaknya salah jurusan deh...”

Oke, berarti bukan cuma aku yang merasa nggak (atau belum) proper kuliah di Informatika.

Pagi ini, hari Sabtu yang cerah, tidak ada kuliah tapi aku tetap berangkat ke kampus pagi-pagi dengan harapan bisa menjadikan hari ini produktif. Saat memasuki gerbang kampus, aku tiba-tiba saja ingat kata-kata – yang entah pernah aku ungkapkan atau hanya tercetus di pikiranku saja – ini: 

“Kalau kamu sudah pinter di bidang itu, kamu nggak perlu kuliah di bidang itu. Kamu kuliah di bidang itu, karena emang kamu belom jago di bidang itu, dan kamu pingin 'bisa' di bidang itu.”

Aku belum jago di bidang ini. Aku sudah 'nyemplung' di sini. Ibaratnya, aku nggak jago renang (bahkan kenyataannya aku nggak bisa renang) tapi aku udah nyemplung ke kolam renang. Kenapa nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk menjagokan diri sekalian?

Lagi-lagi, quotes ini bisa dipakai sebagai reminder:

“Hard work can beat talent when talent doesn't work hard.”

Jumat, 10 Agustus 2012

Haruskah Saya Pindah?

... really very long time no sign in...

dan begitu sign in pagi ini, ada pemberitahuan dari MP... dua poin yang bikin saya ngerasa agak gimanaaa gitu


padahal dari sekian Blog yang saya bikin, cuma akun di multiply ini yang bener-bener saya urus, huhu...

beneran musti pindah nih...?

Sabtu, 23 Juni 2012

[mencari makna] Solidarity


"eh, kamu kenapa tadi gak ikut rapat?!"

"...mm, aku gak diizinin sama ibuku. Aku gak boleh maen-maen dulu sebelum SNMPTN."

"Tadi itu kan kita bukan maen. Kita RAPAT KELAS ! Terus, kalau kamu gak dibolehin maen kenapa kamu bisa sampe sini? Jajan di sini? Gak solid ah!!"

"..."

~~~~~

"Hei!! kapan kamu mau jenguk si A?!"

"Besok Sabtu, insya Allah bareng temen-temen."

"Ngapain nunggu besok sabtu, ha?! Sekarang aja si A itu udah boleh dijenguk! lagian udah banyak juga koq yang jenguk dia ke sini.. anak-anak dari kelas laen juga udah pada jenguk. Kamu yang temen sekelasnya kenapa malah belom jenguk?! Mana solidaritasmu?!"

"..."

~~~~~

Solidaritas... apa sebenernya makna solidaritas? Apa sebenarnya tolok ukur solidaritas?

Kalau saya lihat di film-film, solidaritas itu identik dengan 'selalu bareng'. Kalau si Z pergi ke sini, si Y ikut. Bahkan ada juga kan, yang menjadikan solidaritas sebagai alasan sah untuk menyerang kelompok laen? Sampai-sampai tawuran dan perkelahian tak terhindarkan.

Kalau kata wikipedia nih..

Solidarity is the integration, and degree and type of integration, shown by a society or group with people and their neighbors.[1] It refers to the ties in a society that bind people to one another.

...hal itu mengacu pada ikatan dalam suatu kelompok yang mempersatukan seseorang dengan orang lainnya..

Menurut saya, solidaritas itu gak bisa diukur secara pasti. Itu subjektif. Harusnya kita gak boleh asal menilai seseorang itu gak solider atau gimana. Seperti kasus di atas misalnya. Kita gak boleh dong, marah sama temen sendiri gara-gara dia gak dateng ke rapat kelas lantaran gak diizinin ortunya. Apalagi malah nyaranin temen itu buat gak usah izin lagi sama ortu kalau ada undangan rapat. Padahal menurutku, izin dari ortu itu bagaikan ridho dari mereka, doa yang mengiringi langkah kita.

Sama halnya buat kasus jenguk temen itu... 

Pengalaman jadi anak SMA nih, hal dilematis adalah saat kita dihadapkan pada keinginan kumpul bareng temen dan birokrasi perizinan yang agak ribet ke ortu. Pas kelas sepuluh kemaren, pas organisasi yang saya ikuti ngadain event, saya sering izin pulang duluan lantaran izin dari orang tua udah habis. Galau.... pingin banget kumpul lebih lama sama temen-temen itu, paling nggak sampai event nya selesai. Tapi di sisi laen, gak berani juga buat ngelanggar batas waktu yang udah ditetapkan sama ortu. Mau minta perpanjangan waktu juga lumayan ribet. Okee... itu semua pasti karena ortu saya sayang sama saya  Mereka gak mau anaknya sakit, kecapekan...

Pernah juga ngerasain disindir-sindir masalah ini. Biarlah, terserah mereka mau bilang apa...

Aku sendiri selalu berusaha buat gak melabeli seseorang 'gak solider' [insya Allah]. Khusnudzon aja sama temen-temen. Karena bagiku, solidaritas itu gak sesederhana kehadiran fisik. Solidaritas itu harus berwujud dukungan moral dan doa juga. Nonsens banget deh, kalau kita sering kumpul tapi dalam hati ini ada niatan untuk saling menjatuhkan. Luarnya doang kelihatan solid, tapi dalemnya bobrok. 

Daripada sibuk menilai solidaritas orang lain, kenapa gak kita sendiri berusaha untuk menjadi pribadi yang solider?

Caranya..?

Coba pahami kondisi orang lain, pahami keadaan teman kita... minimal, usahakan untuk tidak menganggap teman-teman kita itu gak solider  

Kamis, 29 Maret 2012

Koagulasi, di Waktu yang Salah

Di saat kritis seperti ini,
kau justru memberi darah dengan
golongan yang salah kepadaku.
Darah yang aglutinogennya tidak bisa
bersisian dengan aglutininku.
Yang membuat darah di arteri
dan venaku terkoagulasi.
Tambah menenggelamkanku ke
pusaran kekritisan.



Jumat, 10 Februari 2012

Lebih Dekat, Lebih Dalam

Mengapa bintang bersinar...

Mengapa air mengalir...

Mengapa dunia berputar...

Lihat segalanya..

Lebih dekat...

Dan kau akan mengerti...

[Lihatlah Lebih Dekat -- Sherina]

 

Saya seringkali merasa senang setelah mengobrol dengan teman-teman yang bukan termasuk teman akrab. Lewat obrolan itu, saya bisa lebih mengenal sosok mereka. Bagi saya, itu memang menyenangkan!!

 

Jadi gini, di kelas saya ada beberapa anak cewek yang memang jarang sekali jadi pusat perhatian, bahkan mereka jarang pula kedengeran suaranya di kelas. Tadi siang habis Try Out Biologi dan Kimia, saya berkesempatan ngobrol dengan dua orang di antara mereka. Berawal dari nyocokin jawaban hingga rencana kuliah.

 

Pas nyocokin jawaban, tanpa sengaja salah satu dari mereka [sebut saja si A] membaca coretan saya di lembar soal Biologi. Dia pun bertanya, “Hayooo, ini apaan nih?”

 

Well, sejujurnya coretan itu bisa dibilang personal journal, semacam curahan hati yang biasa ditulis di diary gitu deh. Salah saya juga sih, nulis suatu hal pribadi di tempat yang terbuka untuk umum. Tapi karena udah terlanjur kepergok dan saya gak enak kalau harus merebut lembar soal itu dari si A, maka saya biarkan saja coretan itu dibaca oleh si A dan si B. Saya hanya berusaha terkesan tidak panik dengan mengatakan bahwa coretan itu merupakan ide mentah untuk membuat cerpen.

 

Tanpa diduga-duga, si B malah menyahut, “Oh, kamu suka bikin cerpen toh? Wah, bagus, bagus, aku dukung!! Aku gak pernah bisa bikin cerpen sih…”

 

Nah lho?

 

 

 Si B pun bercerita kalau dia punya temen yang hobi nulis cerpen dan puisi. Bahkan karyanya sudah menghiasi media cetak. “Temenku itu orangnya suka galau. Terus kalau pas galau, dia suka nulis puisi atau cerpen di blognya. Eeee, taunya malah ada yang dimuat di majalah. Jadi dapet uang deh…”

 

Dari sini saya jadi berkesimpulan kalau galau itu gak selamanya jelek. Jika dengan galau kita malah bisa lebih produktif, bisa dapet duit, why not? Haha, kesimpulan macam apa ini -__-“

 

Aku pun jadi penasaran, apa yang dilakukan kedua temanku itu saat mereka terserang galau.

 

“Kalau aku orangnya moody sih… jadi ya tergantung pas galau itu aku pinginnya ngapain..,” jawab si A.

 

“Kalau aku biasanya tidur. Pas bangun, udah lupa deh sama galaunya. Atau kalau nggak, aku belanja,” jawab si B.

 

Sontak jawaban si B ini bikin saya angkat alis, heran. Begitupun si A. Pasalnya, kalau dilihat-lihat, si B itu bukan tipe cewek yang suka belanja [shopaholic].

 

“Iya kok, beneran. Biasanya aku suka belanja roti-roti. Tapi begitu sampai rumah, jadi bingung deh mau diapain. Hehe, kalau dimakan sendiri kebanyakan…”

 

Ealaaaah, ternyata belanjanya belanja amunisi perut toh… Lucu juga. Baru kali ini lho saya ketemu orang unik kayak si B.

 

Ngomong-ngomong soal roti, saya pun jadi ingat temen SMP yang sekarang udah mulai bisnis bakery. Saya ceritakan sosoknya pada si B [yang dulu emang nggak se SMP sama saya] dan si A [yang gak pernah sekelas sama temen saya itu di SMP].

 

Cerita selesai, si B pun angkat suara lagi, “Aku tuh sebenernya pingin jadi koki, pingin bikin kue-kue gitu. Tapi aku takut sama api.”

 

Nada bicara dan mimik wajah si B yang sarat akan kepolosan itu, untuk kesekian kalinya, berhasil mengundang tawa saya. “Sekarang kan gak musti pake kompor.. udah ada microwave kan, hehe,” sahutku asal.

 

Yah… itulah sekelumit ceritaku soal obrolan tadi siang. Obrolan yang membawaku lebih dekat dengan si A dan B. Obrolan yang membantuku untuk lebih mengenal sosok mereka. Mempererat ukhuwah yang sudah ada dan menjalankan silaturahim.

 

Kata mbak Murobiyahku, silaturahim itu menyehatkan. Kalau dipikir-pikir, bener juga sih. Saya kalau habis ketemu dan berbagi cerita sama temen lama ataupun setelah saling menjajaki dengan teman baru rasanya tuh seneng dan tambah semangat beraktivitas. Dan bukankah perasaan kita itu berpengaruh pada kesehatan fisik kita? Iya kan….? ^^