Senin, 13 Juli 2015
Habis Ini
Sabtu, 13 Juni 2015
Penilaian dan Saling Mengingatkan
Bandung, 13 Juni 2015
...semoga reminder yang diberikan terhitung sebagai usaha mencegah kemunkaran
Jumat, 24 April 2015
Karena Orang Lain
Minggu, 22 Maret 2015
Hari-hari Hectic
![]() |
| Foto di luar studio fotonya |
![]() |
| Foto setelah rakor terakhir sebelum forum LPJ (16 Maret 2015) |
Kamis, 18 September 2014
Inkonsistensi yang Konsisten
Alhamdulillah, di tingkat tiga ini, saya mulai sadar masalah akademik. Emang sih di awal-awal masih suka agak males buat belajar / ngulang materi di kosan. Tapi saya bisa memaksa diri sendiri untuk tetap baca-baca dikit di kosan.
Sekarang, saat flow perkuliahan dan kegiatan lain mulai naik, waktu semakin tidak terasa berlalunya. Semester ini saya punya target buat coba-coba ikut lomba. Semester ini saya juga masih punya amanah
Minggu lalu saya disibukkan dengan deadline proposal PKM. Sehabis kuliah saya masih harus kumpul bareng temen-temen kelompok PKM sampai malam. Sampai kos rasanya sudah capek sekali dan mulai tidak konsisten dengan jadwal belajar di kos. Dampaknya? Dua kuis saya di minggu itu tidak saya persiapkan dengan baik. Nilai pun pas-pasan. Hmm... tapi setidaknya saya jadi tahu kalau saya harus mengubah strategi belajar saya :3 Dan saya juga jadi sadar kalau 'menghafal' itu bisa dibilang bagian kecil dari 'memahami'. Mungkin awalnya kita harus menghafal sesuatu, tapi agar sesuatu itu bisa bertahan lebih lama di otak kita perlu untuk memahaminya juga.
Saya sempat merasa agak menyesal juga memutuskan ikut PKM (saat harus ngejar deadline proposal). Dengan begitu saya jadi tidak punya waktu untuk belajar. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, bukankah ikut PKM itu juga salah satu kesempatan untuk belajar? Memang sih hasilnya tidak akan mendongkrak IP di transkrip, tapi kan masih ada efek positifnya juga.. Jadi harusnya saya nggak setengah-setengah ngerjain proposalnya, ikutan PKM-nya.
Hari ini menjadi hari pertama saya merasa lumayan free setelah hari-hari kemarin penuh dengan deadline. Rasanya saya perlu recharge semangat. Yosh!
Bandung, 18 September 2014
Jumat, 20 Juni 2014
Jawaban Kegelisahan Hati
Selasa, 15 April 2014
Memakai Sepatu Orang Lain
Beberapa hari setelah nonton video itu, saya mulai kepikiran untuk posting soal empati, frasa kerennya "Memakai Sepatu Orang Lain" (lebih lengkapnya "kita nggak bisa bener-bener mengerti orang lain sampai kita berdiri dengan sepatunya"). Tapi dorongan untuk menulis belum terlalu besar rupanya --"
Sekarang, saya memutuskan untuk menuliskannya saja.. gegara saya jadi kepikiran terus masalah ini..
****
"Ih, si A sekarang kok nyebelin sih..."
Itu salah satu pikiran saya soal seorang teman yang entah kenapa sikapnya menyebalkan sekali. Saya jadi sebel juga sama dia, tiap kali ngajak ngobrol ditanggepinnya dengan muka nggak ramah.
Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin sayanya juga telah bersikap menyebalkan ke si A kali yaa... Mungkin saya telah bersikap menyebalkan dan tidak ramah ke orang lain, sehingga saya diperlakukan dengan menyebalkan dan tidak ramah juga oleh orang lain... Mungkin si A memang lagi ada masalah, lagi not in the good mood... Dan mungkin-mungkin yang lain. Semoga saja rasa sebal saya ke si A bisa segera hilang (yeah, saya mengaku masih sebal sama si A).
****
"Yu, tugas udah selesai?" tanya seorang temen.
"Belum nih, bagian X masih error..." jawab saya dengan muka memancarkan pesan 'jangan ganggu saya, saya mau nyelesaiin tugas ini dulu'. Padahal -- kayaknya -- temen yang bersangkutan itu mau minta bimbingan/pencerahan/bantuan buat ngerjain tugas itu. Melihat respon saya terhadap pertanyaannya, dia jadi segan mengganggu saya untuk tanya-tanya soal tugas.
Saya akui, saya telah bersikap menyebalkan ke temen saya yang satu itu. Empati saya masih kurang --"
****
Dari pemikiran 'Memakai Sepatu Orang Lain' ini, pikiran saya sampai ke ingatan materi 7 Habits yang pernah saya terima pas masih berstatus MaBa. Materi soal sifat reaktif.
Yang dimaksud dengan sifat reaktif di sini adalah sifat seseorang yang gampang terpengaruh oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya menyenangkan, suasana hatinya ikut senang. Kalau lingkungannya tidak menyenangkan, suasana hatinya akan memburuk. Kalau orang lain bersikap tidak menyenangkan, orang reaktif akan ikutan bete.
Well, saya jadi merasa kalau saya masih terlalu reaktif --"
***
Oke, maaf kalau postingan ini 'curhat' banget dan kesannya seperti menjelek-jelekkan diri saya sendiri (saya hanya berusah bersikap objektif). Yang jelas, pesan yang ingin saya sampaikan adalah
Senin, 24 Maret 2014
Rencana Allah Lebih Indah
"Waduh, argh, pengen skip hari ini...!! Banyak banget yang musti dikerjain hari ini...!! Astaghfirullah..."
"Setengah ditambah setengah itu sama dengan nol."
Bandung, 24 Maret 2014
Rabu, 22 Januari 2014
Dewasa
Jumat, 10 Januari 2014
Suka Baca Novel
“Hobi kamu apa?”“Baca novel.”
Sabtu, 04 Januari 2014
Tidak Menunda, Bersyukur
Jadi, apa pemikiran itu?
Semoga pemikiran saya ini bisa memotivasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lagi...
Aamiin.
Solo, 4 Januari 2014
Selasa, 31 Desember 2013
Been A Secretary
Rabu, 27 November 2013
Nggak Bosen Bahas Waktu
Sabtu, 23 November 2013
Manfaatkan Kesempatan yang Ada
“Kak, kenapa dulu milih kuliah di Informatika?”
Jumat, 10 Agustus 2012
Haruskah Saya Pindah?
dan begitu sign in pagi ini, ada pemberitahuan dari MP... dua poin yang bikin saya ngerasa agak gimanaaa gitu
beneran musti pindah nih...?
Sabtu, 23 Juni 2012
[mencari makna] Solidarity

Kamis, 29 Maret 2012
Koagulasi, di Waktu yang Salah
Jumat, 10 Februari 2012
Lebih Dekat, Lebih Dalam
Mengapa bintang bersinar...
Mengapa air mengalir...
Mengapa dunia berputar...
Lihat segalanya..
Lebih dekat...
Dan kau akan mengerti...
[Lihatlah Lebih Dekat -- Sherina]
Saya seringkali merasa senang setelah mengobrol dengan teman-teman yang bukan termasuk teman akrab. Lewat obrolan itu, saya bisa lebih mengenal sosok mereka. Bagi saya, itu memang menyenangkan!!
Jadi gini, di kelas saya ada beberapa anak cewek yang memang jarang sekali jadi pusat perhatian, bahkan mereka jarang pula kedengeran suaranya di kelas. Tadi siang habis Try Out Biologi dan Kimia, saya berkesempatan ngobrol dengan dua orang di antara mereka. Berawal dari nyocokin jawaban hingga rencana kuliah.
Pas nyocokin jawaban, tanpa sengaja salah satu dari mereka [sebut saja si A] membaca coretan saya di lembar soal Biologi. Dia pun bertanya, “Hayooo, ini apaan nih?”
Well, sejujurnya coretan itu bisa dibilang personal journal, semacam curahan hati yang biasa ditulis di diary gitu deh. Salah saya juga sih, nulis suatu hal pribadi di tempat yang terbuka untuk umum. Tapi karena udah terlanjur kepergok dan saya gak enak kalau harus merebut lembar soal itu dari si A, maka saya biarkan saja coretan itu dibaca oleh si A dan si B. Saya hanya berusaha terkesan tidak panik dengan mengatakan bahwa coretan itu merupakan ide mentah untuk membuat cerpen.
Tanpa diduga-duga, si B malah menyahut, “Oh, kamu suka bikin cerpen toh? Wah, bagus, bagus, aku dukung!! Aku gak pernah bisa bikin cerpen sih…”
Nah lho?
Dari sini saya jadi berkesimpulan kalau galau itu gak selamanya jelek. Jika dengan galau kita malah bisa lebih produktif, bisa dapet duit, why not? Haha, kesimpulan macam apa ini -__-“
Aku pun jadi penasaran, apa yang dilakukan kedua temanku itu saat mereka terserang galau.
“Kalau aku orangnya moody sih… jadi ya tergantung pas galau itu aku pinginnya ngapain..,” jawab si A.
“Kalau aku biasanya tidur. Pas bangun, udah lupa deh sama galaunya. Atau kalau nggak, aku belanja,” jawab si B.
Sontak jawaban si B ini bikin saya angkat alis, heran. Begitupun si A. Pasalnya, kalau dilihat-lihat, si B itu bukan tipe cewek yang suka belanja [shopaholic].
“Iya kok, beneran. Biasanya aku suka belanja roti-roti. Tapi begitu sampai rumah, jadi bingung deh mau diapain. Hehe, kalau dimakan sendiri kebanyakan…”
Ealaaaah, ternyata belanjanya belanja amunisi perut toh… Lucu juga. Baru kali ini lho saya ketemu orang unik kayak si B.
Ngomong-ngomong soal roti, saya pun jadi ingat temen SMP yang sekarang udah mulai bisnis bakery. Saya ceritakan sosoknya pada si B [yang dulu emang nggak se SMP sama saya] dan si A [yang gak pernah sekelas sama temen saya itu di SMP].
Cerita selesai, si B pun angkat suara lagi, “Aku tuh sebenernya pingin jadi koki, pingin bikin kue-kue gitu. Tapi aku takut sama api.”
Nada bicara dan mimik wajah si B yang sarat akan kepolosan itu, untuk kesekian kalinya, berhasil mengundang tawa saya. “Sekarang kan gak musti pake kompor.. udah ada microwave kan, hehe,” sahutku asal.
Yah… itulah sekelumit ceritaku soal obrolan tadi siang. Obrolan yang membawaku lebih dekat dengan si A dan B. Obrolan yang membantuku untuk lebih mengenal sosok mereka. Mempererat ukhuwah yang sudah ada dan menjalankan silaturahim.
Kata mbak Murobiyahku, silaturahim itu menyehatkan. Kalau dipikir-pikir, bener juga sih. Saya kalau habis ketemu dan berbagi cerita sama temen lama ataupun setelah saling menjajaki dengan teman baru rasanya tuh seneng dan tambah semangat beraktivitas. Dan bukankah perasaan kita itu berpengaruh pada kesehatan fisik kita? Iya kan….? ^^


