Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

When Technology Cares

Selama Kerja Praktik ini, saya banyak diberi kesempatan untuk mencoba/menggunakan teknologi-teknologi yang belum pernah saya gunakan. Baik itu teknologi yang keberadaannya belum saya ketahui sebelumnya atau teknologi yang harus bayar kalau mau pakai. Kali ini pengen share singkat aja mengenai satu teknologi, yaitu Slack.
Slack adalah aplikasi yang memfasilitasi real-time chatting. Aplikasi ini bisa dibilang jadi media komunikasi paling penting bagi tim kerja yang saya ikuti sekarang. Bahkan walaupun bekerja bersama dalam satu ruangan, orang-orang lebih memilih ngobrol di Slack kalau ada yang perlu didiskusikan -_-"
Fitur Slack mirip-mirip lah dengan fitur aplikasi chatting yang lain. Bisa mengirim private/direct message, grup chat (public maupun private), upload file/gambar. Yang membedakan dengan aplikasi serupa, di Slack kita bisa melakukan formatting terhadap text yang akan kita kirim (misalnya dengan menggunakan font bold, italic, quoted text, dll). Selain itu, Slack juga punya fitur mention seperti di Twitter. Fitur mention ini guna banget dalam obrolan di suatu grup karena orang yang di-mention akan langsung dapat notifikasi khusus.
Hal lain yang membuat saya suka dengan Slack adalah setiap kali setelah login, sambil loading, ada saja quotes yang ditampilkan (emang dasarnya saya suka quote sih haha). Beberapa quotes yang pernah saya dapet selama memakai Slack adalah:
  • Alright world, time to take you on!
  • Each day will be better than the last. This one especially.
  • You're here! The day just got better.
  • You look nice today.
  • The mystery of life isn't a problem to solve, but a reality to experience.
Kemarin siang, saya ngantuk di kantor. Lalu tanpa sengaja saya menutup jendela browser. Beberapa menit kemudian saat rasa kantuk sudah pergi, saya buka lagi browser. Dan quote yang saya dapatkan setelah login Slack adalah:

Duh, perhatian banget si Slack ini :')

Bandung, 30 Juni 2015
...udah sebulan, udah kangen, masih 2 minggu lagi

Jumat, 24 April 2015

Karena Orang Lain

"Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik" 
[taken from my Tumblr dashboard, tapi lupa siapa yang nge-share]

---

Sore itu, mentoring diisi oleh mentor pengganti karena teteh mentor yang sebenarnya sedang sibuk mempersiapkan proses penggenapan setengah agamanya, cieee :)

Bertempat di selasar masjid kampus yang sore itu ramai dengan anak-anak SMP-SMA yang sedang belajar bersama. Sempat mager juga jalan dari gedung kuliah (labtek V) ke masjid kampus. Biasanya juga mentoring-nya di labtek V. Tapi khusus yang kemarin di masjid kampus.

Diawali dengan tilawah seperti biasa. Lanjut ke sesi perkenalan. Teteh mentor pengganti memperkenalkan dirinya dengan cukup detail. Setelah itu kami diminta bergiliran memperkenalkan diri masing-masing.

Masuklah ke sesi materi. Materi yang dibawakan adalah tentang ikhlas. Sebenarnya, kelompok mentor kami sudah pernah membahas tentang materi itu (mungkin sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu). Namun tak ada satu pun dari kami yang menyampaikan ke teteh mentor pengganti tentang hal ini. Si teteh pun melanjutkan penyampaian materinya.

Saat si teteh sampai ke sub bahasan mengenai niat, tiba-tiba saja saya teringat quote di atas. Lalu ingat bahwa dulu saya pernah melakukan perbuatan-perbuatan baik karena ada orang lain. Orang lain yang menurut penilaian saya adalah orang baik, sangat baik hingga membuat saya jatuh kagum. Dan saat jatuh kagum itu, saya jadi punya motivasi untuk mengikuti amalan-amalan baik orang tersebut. Demi memantaskan diri. Laki-laki baik jodohnya perempuan baik kan...? Hehe..

Berarti saya nggak ikhlas dong?

Pikiran itu berputar di kepala saya selama si teteh masih menyampaikan materinya. Saya berharap si teteh selesai menyampaikan materinya sebelum adzan maghrib sehingga saya punya kesempatan untuk mengutarakan pikiran itu. Saya tahu, kalau hal yang saya lakukan dulu itu tidak bisa dibilang ikhlas karena saya melakukan amalan-amalan baik bukan semata-mata karena Allah. Saya tahu. Tapi saya ingin tetap meminta pendapat dari si teteh. 

Alhamdulillah, I got the chance...

Pendapat si teteh adalah: nggak apa-apa kita jalankan saja amalan baik itu. Walau niatnya belum lurus, tetap lakukan saja. Sembari jalan sembari kita berusaha meluruskan niat. Jangan nunggu niatnya lurus sebelum melakukan suatu kebaikan, nanti bisa-bisa malah batal melakukan kebaikan itu.

Kakak-kakak sekelompok mentor juga menyampaikan pendapat mereka. Menurut kak A, ya nggak papa lakuin aja kebaikan itu. Walau niat belum bener, siapa tau kebaikan yang kita lakukan itu bisa membawa kebaikan bagi orang lain juga.

Okee dee..


Bandung, 24 April 2015
...sedang ingin melakukan suatu kebaikan untuk menyamakan kemampuan dengan seseorang, tapi koq kayaknya berat ya?

Selasa, 15 April 2014

Memakai Sepatu Orang Lain

Sekitar sebulan yang lalu -- pas musim kampanye di himpunan -- saya nonton sebuah video tanpa dialog yang menceritakan bahwa setiap orang itu punya 'hidup' nya masing-masing. Mungkin di saat kita merasa senang karena mendapat kiriman uang dari ortu, ada teman kita yang sedang merasa khawatir karena ayahnya sedang sakit. Saat kita merasa puyeng dengan tugas-tugas kuliah, mungkin teman kita sedang merasa sangat bersemangat untuk mengejar beasiswa ke luar negeri. Dan lain sebagainya... Kalau mau nonton videonya, silakan klik link ini.

Beberapa hari setelah nonton video itu, saya mulai kepikiran untuk posting soal empati, frasa kerennya "Memakai Sepatu Orang Lain" (lebih lengkapnya "kita nggak bisa bener-bener mengerti orang lain sampai kita berdiri dengan sepatunya"). Tapi dorongan untuk menulis belum terlalu besar rupanya --"

Sekarang, saya memutuskan untuk menuliskannya saja.. gegara saya jadi kepikiran terus masalah ini..

****

"Ih, si A sekarang kok nyebelin sih..."

Itu salah satu pikiran saya soal seorang teman yang entah kenapa sikapnya menyebalkan sekali. Saya jadi sebel juga sama dia, tiap kali ngajak ngobrol ditanggepinnya dengan muka nggak ramah.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin sayanya juga telah bersikap menyebalkan ke si A kali yaa... Mungkin saya telah bersikap menyebalkan dan tidak ramah ke orang lain, sehingga saya diperlakukan dengan menyebalkan dan tidak ramah juga oleh orang lain... Mungkin si A memang lagi ada masalah, lagi not in the good mood... Dan mungkin-mungkin yang lain. Semoga saja rasa sebal saya ke si A bisa segera hilang (yeah, saya mengaku masih sebal sama si A).

****

"Yu, tugas udah selesai?" tanya seorang temen.

"Belum nih, bagian X masih error..." jawab saya dengan muka memancarkan pesan 'jangan ganggu saya, saya mau nyelesaiin tugas ini dulu'. Padahal -- kayaknya -- temen yang bersangkutan itu mau minta bimbingan/pencerahan/bantuan buat ngerjain tugas itu. Melihat respon saya terhadap pertanyaannya, dia jadi segan mengganggu saya untuk tanya-tanya soal tugas.

Saya akui, saya telah bersikap menyebalkan ke temen saya yang satu itu. Empati saya masih kurang --"

****

Dari pemikiran 'Memakai Sepatu Orang Lain' ini, pikiran saya sampai ke ingatan materi 7 Habits yang pernah saya terima pas masih berstatus MaBa. Materi soal sifat reaktif.

Yang dimaksud dengan sifat reaktif di sini adalah sifat seseorang yang gampang terpengaruh oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya menyenangkan, suasana hatinya ikut senang. Kalau lingkungannya tidak menyenangkan, suasana hatinya akan memburuk. Kalau orang lain bersikap tidak menyenangkan, orang reaktif akan ikutan bete.

Well, saya jadi merasa kalau saya masih terlalu reaktif --"

***

Oke, maaf kalau postingan ini 'curhat' banget dan kesannya seperti menjelek-jelekkan diri saya sendiri (saya hanya berusah bersikap objektif). Yang jelas, pesan yang ingin saya sampaikan adalah

Jangan buru-buru memberikan reaksi terhadap rangsangan dari luar (orang lain), apalagi kalau reaksinya negatif. Coba sejenak 'posisikan diri di sepatu orang tersebut'.



Bandung, 15 April 2014
Sebulan lagi liburan
Tugas akhir semester mulai menumpuk
UAS menjelang...

Senin, 24 Maret 2014

What They Said...

Di salah satu sesi kuliah tamu yang diisi oleh 3 orang alumni Teknik Informatika yang sedang menjalani fast track

"Kak, saya kan juga tertarik nih di bidang riset. Di pikiran saya, kalau riset itu kita harus mengangkat hal yang baru. Padahal saya ini gak jago-jago amat di kelas… apa saya bisa menemukan hal baru untuk diriset?"

Itu sepotong pertanyaan dari seorang teman saya. (Sebenernya pertanyaannya panjang, intinya dia tanya kalau riset itu harus mengangkat hal baru atau boleh mengangkat hal yang pernah diriset orang lain)

Lalu, jawaban dari pengisi acara telah sukses mendorong saya untuk mencatat (sebelumnya saya cuma mendengarkan, tanpa minat untuk mencatat). Kalimat pertamanya begini:

"Pertama-tama, don't underestimate yourself!"

Rasanya saya kembali mendapatkan peringatan untuk tidak rendah diri. Saya kembali diingatkan bahwa 'percaya pada diri sendiri' itu penting. Kalau kita tidak percaya kepada diri kita sendiri, bagaimana orang lain akan percaya kepada diri kita?

Tahap selanjutnya untuk memulai riset adalah 'mulai dari hal yang disukai'. Kebetulan kakak alumni yang menjawab pertanyaan ini suka dengan game, jadilah risetnya di bidang game. Kalau kita melakukan hal yang kita sukai, time flies.

Jadi ingat film Harry Potter and the Goblet of Fire. Saat Harry tahu bahwa tantangan Triwizard pertamanya adalah menghadapi Naga. Profesor Mad-Eye Moody menanyai apa keterampilan yang benar-benar dikuasainya. Harry menjawab: Terbang. Maka dengan cara itulah Harry menghadapi Naganya, dengan terbang memakai sapu terbangnya.

Terus, untuk masalah "riset harus mengangkat hal baru atau tidak", jawabannya adalah tidak harus. Kita boleh meriset hal yang pernah diriset oleh orang lain. Katanya, kita tidak bisa menemukan sesuatu yang bener-bener baru.

Selain sharing masalah riset, kakak-kakak alumni itu juga sharing pengalaman mereka dalam mengikuti (dan memenangkan) beberapa kompetisi serta pengalaman mereka internship ke JAIST.

Ada juga teman yang tanya soal manajemen waktu. Yah mengingat tugas kuliah di Teknik Informatika itu banyak (banget, sekali satu tugas keluar di awal semester akan bersambung terus sampai akhir semester) dan kakak-kakak alumni itu masih sempat mengikuti berbagai kompetisi dan melakukan riset.

Jawaban dari pengisi acara adalah kita harus tahu kapabilitas diri kita sendiri. Saat ingin mengikuti suatu kegiatan, pikirkan dulu apakah kita masih mampu melakukannya. Jangan jadi yes people yang selalu mengiyakan ajakan mengikuti suatu kegiatan tapi akhirnya malah keteteran semua. Saya kesindir banget nih sama jawaban ini :3

Oke, segitu dulu updatenya... maaf kalau agak terganggu dengan font yang besar kecil dicoret-coret.. Lagi kangen aja ngeblog model kayak gini, hehe



Bandung, 24 Maret 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Suka Baca Novel



“Hobi kamu apa?”
“Baca novel.”


Itu jawaban saya setiap kali ditanya masalah hobi. Saat Osjur kemarin, saya dan teman-teman seangkatan mendapat tugas untuk saling mewawancarai setiap orang di angkatan kami. Otomatis, saya jadi sering banget ditanya (dan bertanya juga) soal hobi. Somehow, saya sempat merasa kalau hobi saya ini ‘nggak banget’. Hmm, mungkin karena kebanyakan temen akan menjawab “dengerin musik” atau “nonton film” kalau ditanya hobi, saya jadi merasa kalau hobi saya keren (hari gini menemukan orang yang suka membaca itu susah kan?). Tapi, begitu ketemu sama temen yang hobi baca juga dan bacaannya adalah buku-buku nonfiksi (yang menurut saya ‘berat’), saya langsung merasa minder. Merasa diri ini kekanakan banget gegara baca novel doang.

Kenapa saya suka baca?
Mungkin ini adalah hasil kombinasi dari seorang Ibu yang telaten mengajari saya mengeja huruf dan seorang sepupu jenius yang bahkan sebelum masuk TK pun sudah hobi baca majalah Bobo. Saya jadi getol banget belajar baca. Pengen ngejar tuh sepupu jenius. Pengen baca Bobo juga :3

Kenapa sukanya baca novel?
Nah, kalau yang ini peran Ibu saya nih. Beliau yang pertama kali mengenalkan saya pada jenis bacaan selain majalah Bobo, yaitu novel. Beliau berjanji akan membelikan saya novel kalau nilai saya bagus. Saat itu saya masih duduk di bangku SD, mungkin kelas 3 atau 4.
Singkat cerita, tibalah hari di mana Ibu saya harus menepati janjinya, hehe. Saya diajak ke toko buku. Pas itu, salah satu novel yang sedang dijagokan adalah Harry Potter (baru ada buku 1 sampai 4). Langsung deh dibeliin Harry Potter 1 (Batu Bertuah). Sampai rumah langsung saya baca.
Dan saya pun ketagihan! Sejak saat itu, saya mulai mengoleksi novel. Rak buku di kamar saya mulai dijejali dengan serial Lima Sekawan dan beberapa novel lain karangan Enid Bylton (ini juga rekomendasi dari Ibu saya; beliau dulu juga suka baca karya-karya Enid Bylton). Saya ingat, betapa dulu sebelum tidur, saya selalu menyempatkan diri untuk menghitung jumlah buku di rak. Memastikan kalau nggak ada satu buku pun yang tercecer (soalnya dulu kan adik saya masih kecil, takutnya mereka ngambilin buku saya terus nggak dibalikin, hehe). Sebelum tidur saya sempatkan baca novel, biasanya sih reread aja… Gak setiap kali saya bisa punya novel baru segera setelah selesai membaca satu novel kan?

Yah… itulah awal mula hobi saya.

Dulu juga sempat punya keinginan untuk punya perpustakaan pribadi yang isinya novel-novel kesukaan. Terus, beberapa hari yang lalu tidak sengaja mampir ke kineruku.com. Dan keinginan saya untuk punya perpustakaan pribadi pun muncul kembali. Pengennya mulai sekarang rutin beli buku, misal sebulan sekali ke toko buku dan harus beli buku. Buku itu investasi coy…

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, baca novel itu ada gunanya koq.. karena kan pasti ada info-info yang diselipkan si penulis di novelnya. Lagian, baca novel itu bisa melatih imajinasi juga… 


"Sometimes I read because my reality is just too difficult"
[source

Solo, 10 Januari 2014


Sabtu, 04 Januari 2014

Tidak Menunda, Bersyukur

Ini salah satu pikiran yang terbetik di benak saya saat sendirian mencuci piring di dapur. Tapi yang membetikkan pikiran ini bukan masalah cuci piring, bukan... Melainkan karena ada satu tugas yang saya rasa sudah saya selesaikan. Dan saya jadi merasa lebih ringan untuk bersyukur atas tugas itu.

Jadi, apa pemikiran itu?

"Tidak menunda-nunda pekerjaan adalah jalan untuk menjauhi keluh dan mendekatkan diri kepada syukur. Karena bersyukur itu lebih baik daripada mengeluh, kenapa kita harus menunda melakukan/mengerjakan tugas kita?"

Kalau kita menunda-nunda mengerjakan sesuatu, otomatis waktu kita untuk menanggung beban itu jadi lebih lama. Ini bisa menimbulkan stress, seperti kata pak Stephen Covey:

"Bukan BERAT beban yang membuat kita stress, tetapi LAMAnya kita memikul beban tersebut."

Nah, saat sedang stress, lebih mudah untuk mengeluh atau bersyukur?

Kemarin, saat saya mengunjungi suatu toko buku, saya menemukan buku yang berisi tips rehabilitasi untuk orang-orang yang suka menunda-nunda melakukan sesuatu (saya lupa judulnya). Salah satu tipe penunda-nunda pekerjaan yang dibahas di dalam buku itu adalah orang yang perfeksionis. Dan saya merasa itu tipe penunda-nunda yang paling mendekati karakter saya (ya, saya adalah orang yang suka menunda-nunda). Penunda-nunda tipe ini belum bisa memulai suatu pekerjaan kalau keadaan belum benar-benar sempurna. Untuk kasus saya, keadaan sempurna untuk memulai mengerjakan sesuatu tercapai jika memang saya sudah ada mood atau keinginan kuat untuk memulainya. Selain itu, 'keterpaksaan' mengerjakan sesuatu (karena sudah mendekati deadline) juga bisa membuat saya memulai suatu pekerjaan.

Nah, kebetulan tugas yang saya sebutkan di bagian awal post ini adalah tugas yang lumayan besar, butuh waktu yang tidak sebentar. Mood saya untuk mengerjakan tugas itu tak kunjung terbentuk karena selalu ada pikiran negatif dalam diri saya bahwa mengerjakan tugas itu pastilah membosankan. Tapi, karena tugas ini sudah molor jauh dari deadline dan tidak hanya menyangkut saya pribadi, akhirnya saya paksa diri sendiri untuk mulai 'merangkak' mengerjakan tugas itu. Tiap hari saya sempatkan mengerjakan tugas itu. Dan setiap kali setelah mencicil menyelesaikan tugas itu, perasaan saya membaik. Saya senang karena, walau mungkin hanya sedikit dan tugas itu belum selesai, saya telah membuat kemajuan. Rasanya seperti berkurang beban yang saya tanggung.

Semoga pemikiran saya ini bisa memotivasi untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lagi...
Aamiin.

Solo, 4 Januari 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Been A Secretary

Saya lagi bosen. Bosen merapikan sekian data yang harus dilampirkan di sebuah laporan pertanggungjawaban suatu acara. Dan saya jadi menyadari banyak kekurangan saya selama jadi sekretaris di kepanitiaan acara tersebut...

1. Template
Ini hal penting pertama yang muncul di benak saya. Template untuk berbakai berkas yang dipakai oleh tiap divisi. Misalkan template laporan progress, template timeline, dll. Harusnya saya menetapkan template ini dan tiap divisi tinggal mengisinya. Bukan malah menyerahkan sepenuhnya kepada tiap divisi. Walhasil, berkas yang dihasilkan bisa jadi beda-beda untuk masing-masing divisi. Padahal untuk hal ini, keseragaman itu bagus. Keseragaman bisa membuat laporan pertanggungjawaban ini lebih enak dibaca.

2. SOP
Ini penting banget. Misalnya aja SOP permintaan pembuatan surat keluar. Inget banget lah dulu, anak-anak divisi kalau minta dibuatkan surat suka mendadak dan kurang jelas spesifikasinya. Setelah saya masuk ke staf sekretaris di himpunan, saya baru tahu kalau surat keluar itu bisa dibuat sendiri oleh yang membutuhkan setelah orang itu minta nomor surat ke sekretaris dan mengisi daftar surat keluar (tanggal pembuatan, ditujukan ke siapa, perihal apa, dll). Terus sekretaris tinggal ngecek, mengesahkan (misal dengan stempel), dan mengarsipkan tentunya.

3. Arsip
Well, banyak banget hal-hal yang kurang terarsipkan dengan baik oleh saya selama saya jadi sekretaris di acara itu. Sekarang, pas nyusun LPJ, baru deh terasa banget repotnya ngumpulin berkas-berkas yang masih berserakan. Harusnya hal sekecil apapun yang dilakukan anak-anak divisi ada dokumentasinya, untuk diarsipkan.

Haha, padahal selama menyandang putih abu-abu saya sudah punya pengalaman jadi sekretaris, baik sekretaris organisasi maupun sekretaris acara. Tapi begitu saya diamanahi jadi sekretaris acara pas kuliah ini, saya merasa fail...

Saya pun jadi membanding-bandingkan acara-acara saya di SMA dengan acara saya yang kemarin. Dan saya pun menyadari kalau acara-acara di SMA itu lingkupnya kecil, paling cuma acara internal buat sekolah aja. Sedangkan acara saya yang kemarin itu lingkupnya lumayan besar. Selain itu, di SMA dulu, saya merasa masih banyak mendapat bantuan dan keringanan dari guru-guru. Sedangkan saat kuliah ini, saya dituntut untuk bisa mandiri, profesional, dan bisa bekerja sama dengan teman-teman panitia yang tidak sedikit jumlahnya. Mungkin ini yaa salah satu bedanya siswa sama mahasiswa...

-----
Semoga bisa jadi lebih baik.
Solo, 31 Desember 2013
...lagi bosen, di kamar...

Jumat, 13 Desember 2013

Selesai dengan Diriku Sendiri


Aku ingin eksistensiku bermanfaat bagi orang lain.”
--
Itu kata-kata yang sering aku ucapkan. Dan sekarang, aku sedang merenunginya kembali.
Beberapa minggu yang lalu, aku membaca blogpost seseorang tentang seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. (“Orang yang Telah Selesai Dengan Dirinya”, lafatah.wordpress.com)

Beberapa hari yang lalu, aku membaca konsep “selesai dengan diri sendiri” lagi di tulisan lain. Tulisan Fahd Djibran di bukunya yang berjudul “Perjalanan Rasa”.

Hari-hari ini, aku sedang menjalani masa UAS. Pengennya, nggak ada kerjaan lain selain persiapan UAS. Tapi, nyatanya, aku masih harus mikir hal-hal lain juga: ada tiga kepanitiaan yang sedang aku ikuti plus aku masih punya hutang kepada kepanitiaan yang pernah aku ikuti beberapa bulan lalu.

Aku merasa “berat”. Bagaimanapun, prioritas nomor satu tetaplah akademik. Jadi, ya aku memutuskan untuk mendahulukan fokus belajar buat UAS ketimbang ngurusin kepanitiaan. Di sisi lain, aku merasa nggak profesional kalau aku nggak ada progress di setiap kepanitiaan yang aku ikuti. Aku jadi merasa eksistensiku kurang bermanfaat. Berkebalikan dengan keinginan yang aku sampaikan tadi.

Fakta tambahan bagi pernyataan bahwa eksistensiku kurang bermanfaat aku dapatkan ketika mengamati salah seorang teman yang sedang mengajari teman-teman yang lain suatu materi kuliah yang akan diujikan. Aku mengamati, lalu ingat bahwa bukan cuma temanku yang satu itu yang sering mengajari teman-teman lain. Banyak teman yang lain juga yang biasa jadi tutor buat teman-teman sendiri. Aku? Lha wong materi kuliah aja masih banyak yang belum begitu paham, gimana mau nutorin temen-temen?

Aku merasa, aku belum selesai dengan diriku sendiri. Dan sekarang aku menyadari bahwa hal ini menghambat keinginan aku untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mengutip kata-kata bang lafatah, “…adakah orang yang benar-benar telah selesai dengan dirinya?”

Iya juga sih… kalau aku pikir-pikir, koq kayaknya kita gak akan pernah selesai ya dengan diri kita sendiri? Terus, kalau kita harus bener-bener selesai dengan diri kita sendiri dulu, kapan kita bisa bermanfaat buat orang lain?

Tapi, aku berpikir juga, kita tetep harus selesai dengan diri kita sendiri dulu, sebelum kita ngurusin orang lain. Tapi kata ‘selesai’ ini cakupannya parsial ya… Misal nih, aku mau bantu temen-temen yang gak ngerti materi kuliah tertentu, ya aku harus ‘selesai’ memahami materi kuliah itu dulu. Aku mau berkontribusi banyak di kepanitiaan, ya aku harus selesai dengan prioritas pertamaku dulu. Mungkin aku harus bisa belajar dengan cepat dan mengurangi waktu tidur, leha-leha, atau waktu-waktu tak produktif lain.

Ya… partially, aku harus selesai dengan diriku dulu…


Bandung, 12 Desember 2013
sembari menikmati nyanyian hujan di kamar kost.

Sabtu, 23 November 2013

Manfaatkan Kesempatan yang Ada


“Kak, kenapa dulu milih kuliah di Informatika?”

Itu suatu pertanyaan yang aku lontarkan kepada kakak tingkat kemarin. Aku yang saat itu sedang merasa 'have no other choices' : tidak ingin kuliah di jurusan lain tapi juga merasa belum terlalu proper kuliah di Informatika.

Ini semester pertamaku sebagai mahasiswa Informatika, walau aku sudah berstatus mahasiswa sejak setahun yang lalu. Kalau ada adik kelas yang menanyakan pertanyaan di atas kepadaku, maka jawabku adalah:

“Sebenernya dulu aku mau masuk Matematika, FMIPA. Tapi kata ibuku, sayang kalau udah kuliah di institut teknologi ambilnya MIPA lagi, MIPA lagi. Ambil yang teknik sekalian lah!” Dan aku pun mulai mencari, bidang teknik apa yang menarik minatku.

Lalu kenapa akhirnya Informatika? Simple sebenernya.. aku pernah membaca salah satu novel karya Dan Brown dan menemukan istilah 'kriptografi' di sana. Lalu, saat browsing dan menemukan silabus kurikulum dari Prodi Informatika di PTN yang kuincar, aku menemukan mata kuliah 'Kriptografi'. Fix, sejak itu aku menempatkan Informatika di pilihan pertama.

Terkesan tidak pikir panjang kan? Hehe, karena aku memang tipe orang yang tak suka berlama-lama menimbang pilihan yang ada. Aku inginnya segera memutuskan.

And, finally... here I am..

Sekarang, aku dikelilingi orang-orang yang jago banget masalah ke-informatika-an. Jebolan TOKI. Jawara kompetisi nasional. Imba... Dan aku mulai merasa minder. Mulai merasa diri ini nggak pantas berada di antara orang-orang itu. Sampai akhirnya aku menanyakan pertanyaan di atas kepada salah seorang kakak tingkat. Kakak tingkat itu menjawab bahwa dari sekian mapel SMA, mapel komputer adalah mapel yang lumayan mudah dia mengerti. Lalu aku lanjutkan pertanyaanku: “Sekarang, setelah tercapai buat kuliah di Informatika, gimana rasanya kak?” Dia pun menjawab sambil tersenyum, “Hehehe, rasanya... kayaknya salah jurusan deh...”

Oke, berarti bukan cuma aku yang merasa nggak (atau belum) proper kuliah di Informatika.

Pagi ini, hari Sabtu yang cerah, tidak ada kuliah tapi aku tetap berangkat ke kampus pagi-pagi dengan harapan bisa menjadikan hari ini produktif. Saat memasuki gerbang kampus, aku tiba-tiba saja ingat kata-kata – yang entah pernah aku ungkapkan atau hanya tercetus di pikiranku saja – ini: 

“Kalau kamu sudah pinter di bidang itu, kamu nggak perlu kuliah di bidang itu. Kamu kuliah di bidang itu, karena emang kamu belom jago di bidang itu, dan kamu pingin 'bisa' di bidang itu.”

Aku belum jago di bidang ini. Aku sudah 'nyemplung' di sini. Ibaratnya, aku nggak jago renang (bahkan kenyataannya aku nggak bisa renang) tapi aku udah nyemplung ke kolam renang. Kenapa nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk menjagokan diri sekalian?

Lagi-lagi, quotes ini bisa dipakai sebagai reminder:

“Hard work can beat talent when talent doesn't work hard.”

Jumat, 04 Oktober 2013

Nostalgia Masa Perjuangan



“Teh, koq bisa pinter sih?”
“Kalau aku mah udah dilupa-lupain dah…”


Itu sepenggal kalimat yang dilontarkan gadis berseragam putih abu-abu itu. Ya, dia siswi kelas 12 SMA, yang pastinya sekarang lagi menjalani masa-masa hectic menjelang ujian nasional. Malam itu, dia meminta waktuku untuk konsultasi PR matematika, bab Integral. Di sela-sela penjelasanku itulah kalimat-kalimat di atas ia lontarkan.

Tanggapanku:
“Aku kan lebih duluan mempelajari materi ini daripada kalian. Otomatis aku udah lebih banyak latihan. Yaaa, kata lainnya aku lebih berpengalaman dalam hal ini kalau dibandingin sama kalian.”

Tanggapan yang ngga mudah sebenernya. Oke, mulutku emang berkata demikian. Tapi siapa yang bisa menjamin hatiku tidak meninggi (maksudku jadi tinggi hati gitu :3) gara-gara kata-kata yang ia lontarkan. Ya Allah, jangan biarkan hamba-Mu ini jadi orang yang sombong ya… aamiin.

Hmmm, berhubungan dengan anak-anak kelas 12 membuatku berpikir. Betapa energi mereka banyak sekali. Aku ingat masa-masaku dulu saat menyandang predikat siswi kelas 12 SMA: setiap Jum’at tetep masuk sekolah demi tambahan pelajaran Matematika (ya, SMAku liburnya bukan hari Minggu, tapi Jum’at), pulang sore gara-gara tambahan pelajaran, baru nyampe rumah langsung mandi dan siap-siap berangkat les lagi, berangkat pagi demi tambahan jam ke-0, menghabiskan waktu dengan buku-buku latihan soal, belajar dini hari di saat rumah sepi karena semua anggota keluarga yang lain masih tidur, dll. Aku yakin, kegiatan adik-adikku yang kelas 12 itu juga tak jauh beda dengan kegiatanku dulu pas kelas 12. Bahkan mereka masih pakai seragam malam itu. Pertanda bahwa mereka belum sempat pulang ke rumah. Sesampai rumah mereka juga masih harus belajar atau mengerjakan PR untuk keesokan hari. Subhanallah…

Betapa mereka benar-benar harus memanfaatkan waktu yang ada dengan optimal.

Sedangkan aku, selama menjalani kuliah semester ini, merasa banyak banget waktu yang tak termanfaatkan dengan baik: dateng kuliah tapi nggak merhatiin dosen ngomong apa (gegara udah nggak ngerti sejak awal, jadi males dengerin ), suka nunda-nunda ngerjain tugas, kebanyakan tidur di kos, dll. Astaghfirullah…

Pinginnya kalau nggak merhatiin dosen pas kuliah tuh ya waktunya dipake buat do something yang bermanfaat, bukannya buat bengong nggak jelas. Tapi nggak bisaaaaa… Mau ngapain coba? Nyalain laptop terus ngoding atau baca-baca diktat kuliah? Yakali….! Nggak enak lah sama dosennya.. Hmm..

Balik lagi ke topik anak-anak kelas 12 tadi. Saat ini, mereka lagi berjuang keras dan mereka nggak bisa berjuang sendirian. Perlu perjuangan juga dari orang-orang di sekitar mereka: guru-guru yang bersedia memberi bimbingan saat mereka butuh, orang tua yang selalu menyemangati, teman-teman seperjuangan yang saling menguatkan, dll. Aku, sebagai tutor mereka, merasa bahwa aku juga harus ikut berjuang. Caranya dengan membantu mereka untuk lebih memahami pelajaran. Aku melihat peluang untuk diriku bisa bermanfaat bagi orang lain di sini. Aku ingin berkontribusi dalam pencapaian sukses mereka. Ya Allah, luruskan niatku dalam membantu mereka dan ridhoi setiap usaha yang mereka lakukan, aamiin.


Bandung, 3 Oktober 2013

Sabtu, 14 September 2013

Wawancara Kakak Tingkat



Aku merasa butuh menulis, maka aku menulis.


Kali ini pingin share cerita/pemikiran yang didapat setelah wawancara seorang kakak tingkat sebagai tugas osjur.

Kakak tingkat yang satu ini adalah orang yang sangat aktif. Unitnya buanyaaaaakk buangeeett! Masih ikut kegiatan di luar kampus juga lagi! Dan keaktifannya ini sudah dimulai sejak SMA. Di SMA dulu dia ikut 7 organisasi: di 5 organisasi dia jadi sekretaris, terus pernah jadi ketua OSIS juga. Antara aku dan dia ada kesamaan: suka jadi sekretaris. Dulu pun saat magang di himpunan dia memilih masuk staff sekretaris, sama seperti pilihanku kemarin. Bedanya, dia punya misi lain, yaitu ingin mengetahui lebih dalam setiap divisi yang ada di himpunan supaya dia bisa memilih divisi dengan tepat setelah masa magang berlalu. Kalau aku mah, milih sekretaris ya cuma karena suka, itu aja…. Unconditionally…

Selama keberjalanan osjur dari awal, kakak yang satu ini eksis banget. Satu angkatanku setuju kalau dia itu kakak panitia yang dewasa, rasional, dan bijak. Wawancara dengannya kemarin semakin menguatkan kesan itu pada diriku.

Dia orang yang punya visi. Visinya kuat. Yang berbeda dengan sebagian besar kakak-kakak tingkat lain adalah sikapnya yang selow terhadap temen-temennya yang nggak aktif di himpunan. "Kalian boleh kok nggak aktif di himpunan, but don’t just be nothing. Kalau kalian nggak aktif di himpunan, kalian harus punya alasan yang kuat sehingga orang-orang nggak bakal bisa protes terhadap ketidakaktifanmu itu. Misal nih, si A nggak aktif di himpunan karena dia fokus ngejar target buat jadi mapres, si B nggak aktif di himpunan karena dia sibuk ikut lomba dan menang, si C nggak aktif di himpunan karena dia aktifnya di unit, si D nggak aktif di himpunan karena selain kuliah dia sudah mulai merintis bisnis, dll." (kurang lebih seperti itu kata-katanya...)

Menurut si Kakak ini, setiap orang kan punya tujuan masing-masing dan mereka bebas memilih jalan untuk mencapai tujuan itu. Jalan yang dimaksud bukan cuma lewat himpunan.

Si Kakak mendorong kami untuk mengeksplor dunia ini lebih jauh. Karena dengan begitu, pikiran kita bisa terbuka. Wawasan kita makin luas.

Quote yang bagus dari si Kakak: 

“Hard work can beat talent when talent doesn’t work hard.”

Yang paling bikin takjub ya manajemen waktunya itu lho… dari sekian banyak kegiatan, dia bisa survive. Sedangkan aku baru 3 minggu kuliah + magang tapi udah banyak banget ngeluh nggak bisa atur waktu. Si Kakak mengingatkan satu poin yang pernah aku dapat pas training 7 habits tahun lalu: put first thing first. Video ilustrasi dari poin ini adalah video menyusun batu dan kerikil di suatu tabung kaca. Saat penyusunan dilakukan dengan cara memasukkan kerikil terlebih dahulu, nggak semua batu bisa masuk ke tabung itu. Oleh karena itu, caranya dibalik: masukin batu yang besar-besar dulu, baru deh masukkin kerikilnya. Put big thing first, kalau kata si Kakak.
Dia juga menyemangati kami. Meyakinkan kami bahwa kami juga bisa survive, di osjur ini.

Semoga aku juga bisa survive

*maaf kalau tulisannya ‘lompat-lompat’ (nggak sistematis)

[... ditulis saat galau gegara banyak hal yang musti dikerjain...]