Jumat, 09 April 2010

Seleksi OSN tingkat Kota Surakarta

Start:     Apr 17, '10 07:00a
Bismillah..... Ya Allah, hamba mohon permudahlah ikhtiyar hamba, hamba mohon jadikanlah kesempatan ini sebagai pembelajaran bagi hamba, untuk menjadi lebih baik, bantu hamba untuk memijak 'anak tangga' ini demi mencapai cita-cita di atas sana: menjadi master of mathematics.... aamiin

Cinta Allah: Energi Terdahsyat di Alam Raya

     Pertempuran hari itu berlangsung sengit. Pedang sang Pembawa Panji tak hentinya melesat, berkelit, menangkal, berdenting di udara. Sayang, musuh dapat melucuti tameng kecilnya. Benda itu menghilang di tengah pertempuran, tak ada waktu untuk mencarinya.
     Tanpa ragu sedikitpun, segera tangan sang Pembawa Panji merenggut pintu benteng musuh. Pintu itu langsung tercerabut. Dengan perkasanya, ia gunakan pintu itu sebagai tameng barunya, tameng yang lebih besar (sangat). Sang Pembawa Panji kembali berperang dengan semangat membara. Semangat untuk tegaknya Dinul Islam...
     Ia terus melayangkan jurus-jurusnya yang jitu dan bertenaga. Musuh tak berkutik di hadapannya. Setiap ayunan pedangnya tak dapat menembus perlindungan sang Pembawa Panji, yang tak lain adalah pintu benteng mereka sendiri.

***
     Kemenangan Islam! Islam jaya, Islam mulia!
     Pertempuran usai. Setelah sekian hari penuh perjuangan. Sekian hari penuh usaha keras menaklukkan benteng. Ketika keputusasaan mengambang di udara karena bahkan Abu Bakar dan Umar tak mampu menaklukkan benteng. Cahaya kemenangan itu datang bersama sesosok waliyullah, sesosok orang yang dicinta Allah dan Rasul-Nya. Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah.
     “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.” Sabda Rasul, pada suatu hari di Khaibar.
     Tak pelak, semua pasukan amat berharap bahwa yang Rasul maksud adalah diri mereka masing-masing. Siapalah yang tak mau membawa kemenangan Islam? Siapalah yang tak ingin dicinta Allah dan Rasul-Nya? Malam itu layaknya berlalu amat lamban. Mereka tak sabar menunggu matahari terbit esok. Mereka tak kuat jika memendam rasa penasaran berlama-lama. Siapakah orang pilihan itu?
     "Di manakah Ali bin Abi Thalib?" tanya Rasul di keesokan hari.
     "Wahai Rasulullah, dia sedang sakit mata," jawab seorang pasukan.
     Rasul memerintahkan agar Ali dibawa ke hadapannya. Ali datang dengan dipapah pasukan lain. Tanpa menunda lebih lama, Rasul meludahi kedua mata Ali. Dan, seketika itu juga ia sembuh, seperti tak pernah sakit sebelumnya.
      Rasul pun menyerahkan panji Islam kepadanya, Ali bin Abi Thalib, sang Pembawa Panji.

***
     Khaibar telah ada di genggaman. Medan pertempuran yang carut-marut mulai dibersihkan. Seseorang mendekati pintu benteng yang tergeletak di atas tanah: tameng besar sang Pembawa Panji. Ia coba mengangkatnya, tapi gagal. Pintu dari batu itu tak bergeser semilimeter pun. Ia memanggil orang lain untuk membantunya. Namun, bahkan delapan orang tetap kesulitan mengangkat pintu itu. Lalu, bagaimana bisa Ali mengangkatnya seorang diri?
    Itulah dahsyatnya energi cinta. Ali amat mencintai Allah dan Rasulullah. Begitupun sebaliknya, Ali dicintai Allah dan Rasulullah. Sungguh beruntung orang yang dicintai Allah. Bisa dipastikan kemudahan senantiasa menyertai orang itu. Cinta Allah dapat menjadi sumber energi terdahsyat bagi manusia. Ya, karena cinta Allah-lah, Ali mampu mengangkat pintu batu itu dan membawa kemenangan bagi kaum muslim.

Inginkah kita memiliki energi terdahsyat itu?

أللهم إني أسٔلك حبك و حب من يحبك و العمل الذي يبلغني حبك أللهم اجعل حبك أحب ٳلي من نفسي و أهلي و من الماء البارد ٬ آمين


[Dikutip dari aneka sumber]

Selasa, 06 April 2010

Apa Arti (Sebuah) Simbol....?

I said:

"Simbol... terkadang memang hanya simbol... hanya sepotong karakter untuk mempermudah identifikasi... bukan sesuatu yang diidentifikasi itu sendiri... hanya sepotong guratan untuk lebih mudah mengucap maksud hati... bukan maksud hati itu sendiri... simbol hanyalah simbol... bukan sesuatu yang disimbolkan itu sendiri...

"Simbol... terkadang menjadi sesuatu yang amat berarti... demi makna yang tersaput di baliknya... makna yang amat perlu untuk dipahami...

"Ada (banyak) orang yang menganngap simbol itu penting... demi ingin lebih mudah diidentifikasi... Mengapa harus dengan simbol? Bukankah tanpa simbol pun kita eksis? Tak peduli orang lain mengacuhkan kita atau tidak, orang tak bersimbol... toh masih banyak hal-hal yang lebih nyata daripada simbol... hal-hal yang membuat kita lebih mudah diidentifikasi...

"Ada orang yang amat cerewet soal simbol... demi mengaburkan makna yang ia maksud... maksud rahasia, yang tak boleh diketahui orang lain... Pentingkah? Toh jika memang sudah ditakdirkan untuk terungkap, makna itu akan terbaca dari simbol paling rumit sekalipun...

"Simbol... tak peduli seberapa simpelnya... itu penting...

"Simbol... tak peduli seberapa rumit keindahannya... itu sepele...

"Perenungan akan simbol ini... menuntun pada keambiguan... tak jelas... Penting? Tidak? Penting? Tidak?

"Ah, mungkin aku saja yang membuatnya rumit.... simbol itu penting, namun ada juga yang tidak... Ada yang perlu dipikirkan, dipecahkan... Ada pula yang diterima begitu saja adanya, sebagai apa yang telah ditetapkan, tanpa perlu kita membuang energi untuk memrotesnya...

"Apa arti (sebuah) simbol?"


Hanya serangkaian kata yang tak akan menimpakan dosa jika tak kau baca....

Sabtu, 03 April 2010

Masa Remaja, Masanya Eksplorasi

Masa-masa remaja memang masa-masa yang indah. Banyak hal-hal baru dan menantang yang bisa dilakoni. Mulai dari punya banyak teman, banyak kegiatan, romantisme remaja, hingga banyaknya peluang mengukir prestasi. Yang terutama, mayoritas kita tidak perlu memikirkan masalah duit. Itu masalah orang tua. Kalau kita butuh, ya tinggal minta.

Asyiknya jadi remaja terletak pada banyaknya kesempatan untuk eksplorasi. Masa remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang dipenuhi dengan perjalanan mencari jati diri. Beruntungnya remaja jaman sekarang, banyak sekali sarana yang dapat kita gunakan untuk berpetualang mencari identitas kita yang sesungguhnya.

  • Memulai eksplorasi dengan minat
Setiap orang memiliki minat yang berbeda-beda. Ada yang berminat dalam bidang sastra, musik, sains, olahraga, dll. Nah, untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya, mulailah memperhatikan minat. Salurkan minat kita dengan benar. Nikmati rasa gembira yang muncul ketika minat kita terpuaskan dengan baik. Lakukan sebanyak mungkin kegiatan yang memang sesuai dengan minat kita. Misalnya, kita memiliki minat yang besar dalam bidang sastra. Maka, jangan hanya puas menikmati karya sastra orang lain. Cobalah untuk menciptakan karya sastra sendiri.
  • Atur penyaluran minat
Agar minat kita bisa tersalurkan dengan baik, kita bisa mengikuti organisasi-organisasi yang sesuai dengan minat kita. Dengan menjadi anggota organisasi, setidaknya penyaluran minat kita bisa lebih teratur karena biasanya setiap organisasi memiliki program yang terjadwal. Melalui organisasi, kita juga bisa mendapat banyak kenalan yang memiliki minat sama. Kita bisa belajar bersama. Saling membagi kelebihan dan menutup kekurangan. Selain ikut organisasi, kita juga bisa bergabung dengan grup di dunia maya (Grup FB, mailing list, dll). Kita bisa saling berbagi ide dan berdiskusi dengan orang lain dengan jangkauan yang lebih luas.
  • Jangan ragu untuk tampil
Ketika ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuan kita, jangan pernah ragu untuk mengambilnya. Misalnya saja ada lomba menulis cerpen tingkat nasional. Bagi kalian yang berminat untuk ikut, langsung saja mendaftar. Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak akan mampu menjadi pemenang dalam kompetisi itu hanya karena kita masih pemula, cerpenis kelas teri. Keberuntungan orang itu berbeda-beda. Lihat saja Andrea Hirata. Siapa dia? Sekalinya tampil, dia langsung dikenal sebagai penulis tetralogi yang mampu menembus tangga best seller. Jadi, meskipun kita masih tergolong cerpenis pemula, tidak menutup kemungkinan kita bisa menjuarai lomba cerpen tingkat nasional. Kalau pun toh kita kalah, ini hal yang wajar dalam suatu perlombaan. Setidaknya, kita mendapat pengalaman baru dari kejadian itu.
  • Jangan berhenti bersaing
Teruslah bersaing dengan sehat! Jangan biarkan kegagalan memaksamu untuk berhenti dan membiarkan minatmu terpendam dalam tanpa kesempatan untuk mengangkasa! Persaingan dapat membentuk pribadi yang mumpuni, tentu saja jika itu adalah persaingan yang sehat. Dengan bersaing, kita akan terus terdorong untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita. Itu artinya, kita dapat terus bereksplorasi untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya.


Itulah asyiknya jadi remaja. Kita masih punya banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan minat kita. Otak kita masih mudah digunakan untuk mempelajari hal-hal baru. Banyak sarana yang dapat kita gunakan untuk menyalurkan minat dan membentuk kepribadian kita. Di era globalisasi seperti ini, banyak kemudahan yang bisa kita dapat untuk menghabiskan masa-masa remaja dengan jalan yang benar dan mengukir sebanyak mungkin prestasi. Contohnya, kita bisa memanfaatkan aneka situs jejaring sosial. Rugi kalau kita memanfaatkan Facebook, Twitter, Plurk, dsb hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas.

So, ayo isi masa remaja kita dengan hal-hal yang menyenangkan dan, tentu saja, bermanfaat bagi kita! Apa pun minat kalian, salurkan dengan jitu! Manfaatkan masa remaja kita untuk mengukir sebanyak mungkin prestasi dan membentuk pribadi yang mumpuni!

Jumat, 19 Februari 2010

A Teenager's Love

http://heraminerva.blogspot.com
Metamorfosa pola pikir seorang remaja tentang cinta....

I Have Some Dreams

  1. Menjadi muslimah sejati
  2. Menjadi bidadari di surga-Nya kelak
  3. Menjadi hafidzah Al Qur’an
  4. Fasih berbahasa Arab, Inggris, Prancis
  5. Menjadi programer handal
  6. Menjadi designer grafis dan website
  7. Menjadi photographer professional
  8. Menjadi master of science and mathematic
  9. Ingin punya laptop sendiri
  10. Ingin punya kamera digital sendiri
  11. Ingin punya Al Qur’an terjemah
  12. Ingin punya penghasilan sendiri
  13. Ingin bekerja di media masa
  14. Menjadi cerpenis, sastrawan internasional
  15. Ingin bisa main gitar, keyboard, biola, dan grand piano
  16. Ingin menemukan inovasi baru yang bermanfaat bagi sesama
  17. Menjadi pendakwah Islam sejati
  18. Ingin kuliah di luar negeri
  19. Menjadi peraih nobel
  20. Hidup mandiri sepenuhnya
  21. Menjadi pribadi yang disiplin dalam memanfaatkan waktu
  22. Rajin tahajud dan dhuha
  23. Menjadi pekerja sosial
  24. Menjadi pendonor darah
  25. Menjadi anak yang sholehah, berbakti pada orang tua
  26. Ikut PMDK
  27. Bisa naik sepeda motor
  28. Bisa menyetir mobil sendiri
  29. Berprestasi cemerlang di bidang akademik dan organisasi
  30. Ingin jago masak
  31. Menjadi pelari
  32. Bisa masuk CERN
  33. Menjadi astronom
  34. Menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana
  35. Menjadi kakak super
  36. Menjadi inspirator bagi banyak orang
  37. Menjadi pribadi yang berpendirian teguh
  38. Punya skipping
  39. Rutin olahraga tiap hari (jogging, uding)
  40. Bisa menyelesaikan keenam sisi rubik
  41. Ingin menikmati suasana malam cerah dari puncak menara Eiffel
  42. Menguasai qiro'ah sab'ah
  43. Ingin bisa diving, menikmati indahnya alam dasar laut
  44. Ingin bisa membuat robot
  45. Bisa masuk pyramid (kemudian keluar tentunya...)
  46. Bisa naik ke atas Sphinx
  47. Hiking (naik ke puncak gunung)
  48. Menikmati aurora secara langsung
  49. ...
<<will be edited when I get new dream(s)>>

Mana yang Lebih Penting: Proses atau Hasil?

Hola, amigos! Kali ini aku ingin berbagi pikiran dengan kalian. Apa yang kupikirkan ini timbul karena aku telah banyak melihat realita di dunia sekolah. Apa saja realita itu?

Wahid, banyak di antara kita, anak sekolah, yang masih sering keliru dalam membuat skala prioritas antara proses dan hasil akhir.

Itsnin, masih banyak murid yang sangat mengutamakan hasil akhir dan tak terlalu peduli pada proses. Benarkah tindakan seperti ini?

Tsalatsah, apakah nilai itu penting? Kenapa banyak sekali anak yang histeris ketika dapat nilai jelek dan ada yang senang berlebihan ketika nilainya bagus?

Hmmm, sebelum aku mulai sharingnya, aku tanya, sebenarnya apa itu sekolah? (yang pingin jawab silakan comment)

Menurutku pribadi, sekolah itu adalah sebuah lembaga formal untuk mendidik putra-putri bangsa demi masa depan yang cerah. Di sekolah, kita diberi warisan ilmu oleh para guru. Selain itu, sepantasnyalah guru juga mendidik muridnya bagaimana cara bersikap yang baik. Semua ini terangkum dalam kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Tujuan orang tua sendiri ‘memaksa’ kita untuk pergi ke sekolah adalah untuk belajar, untuk menuntut ilmu.

Sekarang, lebih penting yang mana: proses atau hasil akhir???

Sobat, belajar itu sendiri adalah proses. Proses untuk memahami sesuatu yang baru. So, I think, proses itu lebih penting daripada hasil akhir. Kita harus lebih mengutamakan proses belajar ketimbang hasil belajar (yang biasa diinterpretasikan dengan nilai). Biasanya, kita masih lebih memikirkan hasil belajar kita (termasuk saya sendiri, saya akui itu). Misalnya saja, kita rela melakukan apapun demi nilai bagus, demi ranking. Kita rela belajar mati-matian supaya bisa jadi yang pertama di kelas, supaya bisa dapat nilai-nilai yang bagus. Buat orang-orang yang seperti ini, aku ingin berkata, “Sobat, niat kalian salah. Belajar itu bukan supaya jadi ranking satu. Belajar itu supaya paham. Dan sungguh sia-sia usaha kita, jika yang kita harapkan hanyalah prestis. Prestis hanya akan menghanyutkan kita hingga tanpa kita sadari, kita telah jauh dari-Nya. Seharusnya, semakin banyak ilmu yang kita pelajari, kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya, tambah iman dan taqwa kepada-Nya. Ayo benahi niat kita dalam menuntut ilmu…!”

Contoh yang lain, ada murid yang malas belajar. Mereka sering sengaja tidak mengerjakan PR. Mereka hanya mengandalkan teman mereka. Dengan kata lain, cuma bisa nyontek. Hari gini masih nyontek??? Ihh, nggak banget sih!!! Sekarang ini sudah tahun 2010, fren! Manusia sudah bisa terbang sampai ke bulan. Jarak sudah tidak jadi penghalang untuk saling berkomunikasi. Kita bisa musnah kalau hanya bisa nyontek! Jaman sekarang, kita harus kritis, kreatif, inovatif, dan percaya pada kemampuan kita sendiri!

Saya heran, kenapa ada anak yang nyontek saat ulangan? Sungguh saya tak mengerti pola pikir mereka. Kalau ingin dapat nilai bagus, kenapa nggak belajar sebelum ulangan?

Mungkin ada yang menjawab, “Aku itu sudah belajar. Tapi tetap saja tak bisa mengerjakan ulangan itu. Apa boleh buat. Nyontek adalah satu-satunya pilihanku.”

Sekarang saya bertanya-tanya, apa sih untungnya nyontek pekerjaan orang lain? Toh belum tentu pekerjaannya benar kan? Kalaupun ternyata pekerjaan orang tersebut benar dan kita (yang mencontek) dapat nilai bagus sesuai harapan, apakah kita bisa mengklaim nilai itu sebagai hasil usaha kita? Tidak, kawan! Itu sama sekali bukan hak kita.

Bagaimanapun, proses itu lebih penting karena proses bisa mempengaruhi hasil. Sedangkan hasil tidak akan bisa menggantikan manfaat yang kita peroleh dari menjalani suatu proses.

Ayo kawan, kita luruskan niat kita untuk belajar lillahi ta’ala (bukan demi ranking or prestis). Kalau niat kita sudah benar, insya Allah kita akan mengikuti proses belajar dengan sangat baik sehingga hasil yang diperoleh nanti juga bagus.

Sekian sharing dari saya. Afwan banget kalau banyak kesalahan. =)

PS: Nilai itu ada hanya sebagai pemacu semangat untuk terus mengikuti proses belajar dengan baik.