Jumat, 19 Februari 2010

Mana yang Lebih Penting: Proses atau Hasil?

Hola, amigos! Kali ini aku ingin berbagi pikiran dengan kalian. Apa yang kupikirkan ini timbul karena aku telah banyak melihat realita di dunia sekolah. Apa saja realita itu?

Wahid, banyak di antara kita, anak sekolah, yang masih sering keliru dalam membuat skala prioritas antara proses dan hasil akhir.

Itsnin, masih banyak murid yang sangat mengutamakan hasil akhir dan tak terlalu peduli pada proses. Benarkah tindakan seperti ini?

Tsalatsah, apakah nilai itu penting? Kenapa banyak sekali anak yang histeris ketika dapat nilai jelek dan ada yang senang berlebihan ketika nilainya bagus?

Hmmm, sebelum aku mulai sharingnya, aku tanya, sebenarnya apa itu sekolah? (yang pingin jawab silakan comment)

Menurutku pribadi, sekolah itu adalah sebuah lembaga formal untuk mendidik putra-putri bangsa demi masa depan yang cerah. Di sekolah, kita diberi warisan ilmu oleh para guru. Selain itu, sepantasnyalah guru juga mendidik muridnya bagaimana cara bersikap yang baik. Semua ini terangkum dalam kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Tujuan orang tua sendiri ‘memaksa’ kita untuk pergi ke sekolah adalah untuk belajar, untuk menuntut ilmu.

Sekarang, lebih penting yang mana: proses atau hasil akhir???

Sobat, belajar itu sendiri adalah proses. Proses untuk memahami sesuatu yang baru. So, I think, proses itu lebih penting daripada hasil akhir. Kita harus lebih mengutamakan proses belajar ketimbang hasil belajar (yang biasa diinterpretasikan dengan nilai). Biasanya, kita masih lebih memikirkan hasil belajar kita (termasuk saya sendiri, saya akui itu). Misalnya saja, kita rela melakukan apapun demi nilai bagus, demi ranking. Kita rela belajar mati-matian supaya bisa jadi yang pertama di kelas, supaya bisa dapat nilai-nilai yang bagus. Buat orang-orang yang seperti ini, aku ingin berkata, “Sobat, niat kalian salah. Belajar itu bukan supaya jadi ranking satu. Belajar itu supaya paham. Dan sungguh sia-sia usaha kita, jika yang kita harapkan hanyalah prestis. Prestis hanya akan menghanyutkan kita hingga tanpa kita sadari, kita telah jauh dari-Nya. Seharusnya, semakin banyak ilmu yang kita pelajari, kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya, tambah iman dan taqwa kepada-Nya. Ayo benahi niat kita dalam menuntut ilmu…!”

Contoh yang lain, ada murid yang malas belajar. Mereka sering sengaja tidak mengerjakan PR. Mereka hanya mengandalkan teman mereka. Dengan kata lain, cuma bisa nyontek. Hari gini masih nyontek??? Ihh, nggak banget sih!!! Sekarang ini sudah tahun 2010, fren! Manusia sudah bisa terbang sampai ke bulan. Jarak sudah tidak jadi penghalang untuk saling berkomunikasi. Kita bisa musnah kalau hanya bisa nyontek! Jaman sekarang, kita harus kritis, kreatif, inovatif, dan percaya pada kemampuan kita sendiri!

Saya heran, kenapa ada anak yang nyontek saat ulangan? Sungguh saya tak mengerti pola pikir mereka. Kalau ingin dapat nilai bagus, kenapa nggak belajar sebelum ulangan?

Mungkin ada yang menjawab, “Aku itu sudah belajar. Tapi tetap saja tak bisa mengerjakan ulangan itu. Apa boleh buat. Nyontek adalah satu-satunya pilihanku.”

Sekarang saya bertanya-tanya, apa sih untungnya nyontek pekerjaan orang lain? Toh belum tentu pekerjaannya benar kan? Kalaupun ternyata pekerjaan orang tersebut benar dan kita (yang mencontek) dapat nilai bagus sesuai harapan, apakah kita bisa mengklaim nilai itu sebagai hasil usaha kita? Tidak, kawan! Itu sama sekali bukan hak kita.

Bagaimanapun, proses itu lebih penting karena proses bisa mempengaruhi hasil. Sedangkan hasil tidak akan bisa menggantikan manfaat yang kita peroleh dari menjalani suatu proses.

Ayo kawan, kita luruskan niat kita untuk belajar lillahi ta’ala (bukan demi ranking or prestis). Kalau niat kita sudah benar, insya Allah kita akan mengikuti proses belajar dengan sangat baik sehingga hasil yang diperoleh nanti juga bagus.

Sekian sharing dari saya. Afwan banget kalau banyak kesalahan. =)

PS: Nilai itu ada hanya sebagai pemacu semangat untuk terus mengikuti proses belajar dengan baik.

Jumat, 08 Januari 2010

Tausiyah Seorang Guru

Ini kutuliskan nasihat dari seorang guruku yang disampaikannya pada hari Senin, 4 Januari 2010: hari pertama semester keduaku di SMA. Dalam kesempatan itu, beliau hanya menyoroti dua hal. Meski hanya dua, namun itu semua memang penting untuk disampaikan, direnungi, dan kemudian ditindaklanjuti. Dua hal itu adalah keadaan anak sekolah zaman sekarang dan apa yang seharusnya dilakukan oleh kita, siswa-siswi yang juga merupakan remaja muslim.

Zaman sekarang, mayoritas remaja menganggap bahwa sekolah hanyalah formalitas belaka. Mereka sudah tak peduli akan luas dan nikmatnya samudra ilmu. Semangat mereka bukan lagi terletak pada ekspedisi di rimba ilmu.

Banyak dari mereka yang pamit berangkat sekolah, tapi ternyata malah kelayapan entah ke mana. Ketika guru menerangkan pelajaran, banyak siswa yang malah asyik ngobrol dengan temannya, tidur, atau sembunyi-sembunyi main HP maupun baca novel, komik, majalah, dsb di laci. Ketika diingatkan oleh gurunya, secara jelas mereka mengatakan, “Tugas bapak/ibu itu hanya mengajar. Nanti tanggal satu gajian. Sudah lanjutkan saja ceramah bapak/ibu.” 

Ketika guru mereka bertanya, “Tak inginkah kau mendapat nilai bagus, naik kelas, dan lulus dengan hasil yang memuaskan?”

Mereka menjawab, “Yang penting kami sudah membayar SPP. Kami tak peduli dengan nilai bagus, naik kelas, maupun kelulusan.”

Astaghfirullah…. Bisakah kita bayangkan bagaimana perasaan guru yang diperlakukan seperti itu oleh muridnya? Aku yakin, jika mereka memang benar-benar peduli pada muridnya, hati mereka pasti sakit, sedih. Bukankah menyakiti hati orang lain itu perbuatan tidak baik yang, tentu saja, tidak disukai Allah? Na’udzubillahi min dzalik!

Kata pak guru, budaya membaca di kalangan remaja kini meningkat. Drastis malah. Sayangnya bukan budaya membaca buku, terutama yang ada hubungannya dengan pelajaran, yang meningkat. Budaya membaca SMS, itulah yang meningkat.

Lalu apa yang harus kami lakukan???

Pak guru berkata bahwa kita sebagai remaja muslim seharusnya menyadari kewajiban menuntut ilmu. Bukankah ada hadits Rasul yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan? Bukankah Rasul juga pernah bersabda memerintahkan kita untuk menuntut ilmu itu di mana saja, bahkan sampai ke negeri Cina? Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tetapi kenapa kita, pemeluk-pemeluknya malah meremehkan, tidak mau mempelajari, menolak, bahkan membenci ilmu?

Tak sadarkah kita bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah? Dan itu artinya, menuntut ilmu termasuk ibadah? Jika kita memang tak peduli pada nilai, kenaikan kelas, dan kelulusan, apakah kita tak akan menyesal pula jika harus kehilangan salah satu kesempatan kita untuk beribadah? Kesempatan untuk menambah pahala yang kelak memperberat timbangan kebaikan kita di akhirat? Kesempatan untuk memperbesar kans kita untuk memasuki jannah-Nya nanti?

Astaghfirullah... Kawan, mari kita berusaha untuk meneguhkan niat kita untuk menuntut ilmu demi menggapai ridho-Nya. Ikhlaslah menahan kesenangan duniawi sejenak demi membaca buku pelajaran, demi mengerjakan tugas dari guru. Ingat selalu, bahwa itu salah satu jalan kita menuju jannah. 

KEEP SPIRIT!!!


Rabu, 16 Desember 2009

Remidi Nggak Bikin Kamu Mati

Di hari-hari terakhir UAS, papan pengumuman sekolah sudah mulai dipenuhi daftar siswa-siswa yang remidi di berbagai mapel. Aku kaget ketika suatu pagi menemukan tulisan: ”Remidi nggak bikin kamu mati!” di antara puluhan nama peserta remidi. Ditulis dengan spidol warna dan tampak mencolok. Ckckck.... Siapa gerangan si penulis?

Namun, kali ini aku tak akan meributkan siapa si penulis. Aku hanya akan membahas lima kata itu: Remidi nggak bikin kamu mati!

Aku tahu, kata-kata ini bisa menjadi penghiburan bagi para siswa yang remidi. Salah satu buktinya, aku menemukan kata-kata ini di status salah seorang teman di facebook. Salah seorang teman yang harus ikut remidi.

Jika ditinjau dari segi makna, kalimat itu memang benar adanya. Remidi bukanlah pedang perang. Remidi bukanlah senapan berburu. Remidi bukanlah bom atom. Remidi bukanlah racun mematikan. Remidi hanyalah beberapa soal yang mengharapkan jawaban benar.

Pertama kali membaca kalimat ini, reaksi yang timbul dalam diriku (setelah kaget sejenak) adalah pertentangan. Aku tidak suka mengetahui teman-temanku (yang remidi) menghibur diri dengan kata-kata ini. Aku takut, kata-kata ini akan menanamkan rasa tak peduli pada diri mereka. Aku takut mereka kehilangan semangat untuk mengerjakan UAS dengan usaha terbaik mereka karena jikapun nilai mereka di bawah KKM, mereka bisa mengikuti remidi, dan takkan ’mati’ karenanya. Aku tak mau mereka menganggap remeh kesempatan pertama karena ada kesempatan kedua.

Menurutku, remidi itu adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari karena remidi itu:

Merepotkan
Jika kita ikut remidi, itu artinya kita harus ‘berjuang’ lagi. Kita harus membaca catatan lagi. Kita harus membaca buku paket lagi. Kita harus latihan lagi. Dan usaha-usaha lain yang tidak sebanding dengan hasil yang akan kita peroleh nanti. Kalaupun kita bisa menjawab semua soal remidi dengan benar, nilai yang kita dapat tidak akan melampaui KKM.

Membuang waktu
Biasanya, soal-soal remidi dibuat mirip bahkan persis dengan soal UAS. Itu artinya, kita harus mengerjakan soal-soal yang sama (lagi). Kalau saja kita tidak remidi, kita bisa memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk refreshing pasca UAS. Lebih asyik kan?

Mengecewakan orang tua
Kalau orang tua kita tahu bahwa anaknya remidi, pasti pikiran mereka akan langsung terbebani. Bahkan, efek sampingnya bisa membuat mereka sakit ringan, seperti masuk angin, pusing, flu, dsb. Padahal, kita sebagai anak memiliki kewajiban untuk membahagiakan orang tua, bukan mengecewakan mereka.

Membuat keseriusan kita dipertanyakan
Memangnya satu semester ini kamu ngapain di sekolah? Apa kamu nggak pernah memerhatikan pelajaran yang disampaikan gurumu? Kalau kamu belajar sungguh-sungguh, kenapa masih remidi?

Itulah beberapa hal yang membuatku tidak setuju dengan kalimat itu. Okelah, mungkin maksud si penulis baik. Mungkin ia ingin menghibur para remidian agar tidak terlalu meratapi nasib. Tapi aku tetap merasa kata-kata itu kurang pas dijadikan hiburan. Kalimat itu hanya menimbulkan keberanian untuk menghadapi remidi, belum menanamkan tekad untuk berjuang menjadi lebih baik (alias nggak remidi lagi).

Kalau aku remidi, aku akan berkata pada diriku sendiri: ”OK. Jalani ini dengan berani. Tapi, jangan sampai hal ini menjadi ‘hobi’ yang mendarah daging. Next time, you must be better!!!”

Nature




Berbagai keindahan alam yang terbidik kameraku.... dan beberapa diantaranya aku modif (sedikit).... :-)

Kamis, 03 Desember 2009

Citywalk Malam

Malam tiada berbintang. Purnama tersaput mendung. Di keremangan citywalk aku berdiri menunggu. Tiba-tiba saja, seorang lelaki tua bungkuk memasuki frame pandanganku. Ia sedang menawarkan dua ikat tape ke beberapa orang yang nongkrong di sana.

Ia dekati orang-orang itu satu per satu. Dengan senyum ramah, ia tawarkan dagangannya. Namun, apalah daya. Yang ia dapat hanyalah gelengan, kata-kata manis, dan senyuman yang sebagian dipaksakan. Meski demikian, senyumnya tetap ramah mengembang dan asanya tetap tegar, tak kenal menyerah.

Tanpa kusangka, ia mendekat, menawariku. Refleks aku menggeleng dan memberi senyuman yang kuharap cukup manis sebagai permohonan maaf. Segera, peperangan dimulai di batinku. Kenapa kau menolaknya? Apa kau tidak kasihan padanya? Bukankah di dompetmu ada selembar lima puluh ribu? Tidak maukah kau membantunya? Tapi…. Untuk apa kau beli tape-tape itu? Apakah kau membutuhkannya? Siapa yang akan memakan tape sebanyak itu?

Peperangan terus berlanjut sembari mataku terus mengawasi lelaki tua itu. Ia kembali menawarkan dagangannya. Dan… Akhirnya, seorang ibu yang tadinya menolak tawaran si lelaki tua, memanggilnya dan membeli kedua ikat tape itu.

Huff… Dalam hati aku mendesah lega. Lelaki tua itu kembali mengurusi dagangannya. Purnama masih tersaput mendung.

Terjebak Dalam Diskusi Tentang "Love at First Sight"

Hmm, love at first sight? Does it do exist? Berikut ini beberapa kesimpulan yang dapat kuambil setelah terjebak dalam diskusi tentang “Love at First Sight”.

Existence
“What do you think about love at first sight?”
“It’s a condition when we meet a person and then we feel something
wrong with our heart.”

Something wrong? Hmmm, emangnya cinta itu sesuatu yang salah ya? I don’t think so…

Sebelum membahas tentang cinta pada pandangan pertama, mari kita renungkan hakikat cinta yang sebenarnya.

Menurutku, cinta itu adalah suatu keadaan di mana kita merasa perlu, bahkan harus, berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi seseorang. Cinta adalah suatu perasaan yang mendorong kita untuk membuat seseorang merasa nyaman di dekat kita. Cinta adalah sesuatu yang mendorong kita untuk terus berusaha membuat orang lain bahagia. Cinta pula yang mampu membuat kita ikut merasakan kesedihan yang dirasakan orang lain.

So, apakah cinta pada pandangan pertama itu ada???

Banyak orang yang beranggapan bahwa cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin kita bisa langsung jatuh cinta pada seseorang yang melihatnya pun baru sekali, bahkan mungkin sepintas? Tanpa mengenalnya lebih jauh? Hanya tahu fisiknya saja?

Tapi, jika pertanyaan serupa dilemparkan padaku, aku akan menjawab: ADA.



Ya. Love at first sight does exist in this world. Dan, menurutku, cinta inilah yang pertama kali kita dapatkan di dunia ini. Cinta inilah yang kita dapat semenjak tarikan napas pertama kita. Semenjak pertama kali kita menangis. Semenjak kita dilahirkan ke alam fana ini.

Cinta seorang wanita mulia yang telah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kita. Cinta ibu kita.

Tak peduli seperti apapun keadaan kita waktu itu—tidak cantik, tidak ganteng, anggota tubuh tidak lengkap, dsb—ibu akan langsung jatuh cinta dengan kita. Ia ingin segera menggendong kita. Merengkuh kita dalam kehangatannya. Membuat kita merasa nyaman: memberi kita ASI
hingga kenyang, menjaga, serta merawat kita selalu.

Pun ketika kita sakit, ia juga akan merasa sakit. Ketika perkembangan kita terhambat, ia akan merasa khawatir dan berusaha agar kita dapat berkembang dengan normal. Ia memilihkan susu formula yang paling bagus untuk kita. Ia memilihkan bubur bayi berkualitas untuk kita. Tak peduli seberapa mahal harganya.

Hmm, in conclusion, cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Cinta itu adalah cinta satu malaikat kita di dunia ini. Cinta ibu kita.

Love Story a la Sinetron or Reality Show
Dari diskusi ini, aku juga jadi tahu beberapa kisah cinta yang selama ini hanya kukenal di dunia sinetron dan fiksi.

Ada cewek yang ditembak pake cara special: diajak ke lab fotografi yang udah penuh dengan foto si cewek. Dan di antara foto-foto itu, ada kata-kata ungkapan cinta dari si cowok.

Atau…

Si cewek diajak ke tempat terbuka yang udah dipenuhi penonton. Mereka semua nyanyiin lagu romantis. Dan dihadapan si cewek berdiri tegap si cowok yang membawa rangkaian bunga mawar merah dan putih. Jika si cewek memilih mawar merah berarti pacaran. Jika memilih mawar putih berarti temenan. Ckckckck…

Ada juga seorang cowok yang pernah pacaran dua kali. Pacaran yang pertama bisa nyampe enam tahun. Pacaran kedua cuma berjalan sejam. Jauh banget ya, bedanya??

Ada lagi seorang cowok yang ngakunya pernah pacaran enam kali. Dan hebatnya lagi, dia inget semua mantannya!!! Ihh… nggak penting banget sih… Mending juga buat inget-inget rumus fisika or kimia, hehehe…

Udah ah…. Kayaknya itu aja yang bisa aku share. Makasih banyak buat pihak-pihak yang ikut serta dalam diskusi ini. Maaf, ceritanya saya publikasikan. Tapi identitas kalian aman koq… Nggak akan aku bocorin ke siapa-siapa…^^.V